Headline

Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.

Parade Kekonyolan

04/12/2025 05:00
Parade Kekonyolan
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

TAK cuma menghadirkan duka teramat dalam, bencana dahsyat di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat juga menjadi parade kekonyolan. Seperti biasa, yang menjadi korban ialah rakyat. Seperti yang sudah-sudah, yang unjuk kekonyolan siapa lagi kalau bukan para pejabat.

Dari sisi mana pun, bencana hidrometeorologi di tiga provinsi itu jauh lebih dari cukup untuk membuat kita menangis. Soal cakupan wilayah yang tertimpa oleh musibah, begitu luas, sangat luas. Ihwal jumlah korban, banyak, sangat banyak. Hingga kemarin pagi saja, data di website resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan 735 meninggal dunia. Korban luka 2.600 dan yang hilang 650 orang. Belum lagi 500 ribu lebih mesti mengungsi.

Sungguh luar biasa daya destruktif bencana kali ini. Karena itu, wajar, sangat wajar bangsa ini berduka. Lumrah, sangat lumrah, seluruh rakyat di Indonesia mengalirkan empati kepada shohibul musibah. Normal, amat normal pula, jika publik kesal sekesal-kesalnya, marah semarah-marahnya, geram bukan kepalang ketika ada pengelola negara yang justru memperlihatkan kekonyolan.

Kekonyolan pertama datang dari Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto. Dalam sebuah pernyataan pada Jumat (28/11) dia menyebut dampak banjir Sumatra kelihatan mencekam karena berseliweran di media sosial. ''Tetapi begitu kami tiba langsung di lokasi, banyak daerah yang sudah tidak hujan. Yang paling serius memang Tapanuli Tengah (Sumut), tetapi wilayah lain relatif membaik,'' begitu ucapnya.

Rakyat terhenyak. Tidak semencekam di medsos? Bukankah yang terunggah di dunia maya hanya sebagian fakta di lapangan? Buktinya, jumlah korban terus melonjak. Realitasnya, kerusakan yang terjadi sedemikian parah. Masyarakat kesal, marah, geram. Sumpah serapah tumpah ruah untuk Pak Suharyanto. Dia memang sudah meminta maaf, tapi kekonyolan itu telanjur dicatat rakyat.

Kekonyolan juga datang dari Kementerian Kehutanan. Muasalnya ialah Direktur Jenderal Penegakan Hukum Dwi Januanto Nugroho yang menepis spekulasi bahwa pembalakan liar sebagai biang bencana. Spekulasi itu mencuat setelah sejumlah rekaman video memperlihatkan banyaknya gelondong terbawa oleh banjir bandang.

Pak Dwi bilang, kayu-kayu itu bukan berasal dari illegal logging. Dia menyebut sebagian merupakan kayu lapuk tua atau yang tumbang alami. Kayu-kayu itu ada pula yang berasal dari penebangan resmi di area izin pengusahaan hutan dengan prosedur legal.

Publik tak percaya. Kekesalan, kemarahan, dan kegeraman mereka layangkan. Mereka yakin, pembalakan secara ugal-ugalanlah penyebab utama bencana. Cuaca memang ekstrem, tapi kalau tidak ada pembiaran perusakan hutan, dampaknya tak akan semengerikan sekarang. Begitu kira-kira.

Kemenhut lalu mengklarifikasi. Dwi Januanto menegaskan pihaknya tak pernah menafikan kemungkinan adanya praktik ilegal di balik kayu-kayu yang terbawa air bah. Apa pun itu, publik kadung menganggap kekonyolan.

Yang satu ini juga konyol. Dia ialah Bupati Aceh Tenggara Salim Fakhry. Ketika menemani Presiden Prabowo Subianto meninjau pengungsian di Kutacane, Senin (1/12), dia mengaku bersyukur atas kehadiran Presiden.

Namun, puja-puji untuk Prabowo kebablasan. "Tidak ada presiden seperti beliau, menyapa rakyat, menyapa masyarakat. Insya Allah, tadi ada video dibuat Presiden, kalau bisa, Pak Prabowo jadi presiden seumur hidup.'' Ucapan pak bupati itu dibalas Prabowo dengan goyangan tangan dan gelengan kepala. Bicara kekuasaan di tengah duka sungguh keterlaluan. Konyol tingkat dewa.

Masih ada lagi. Yang ini malah lebih heboh. Semua bermula dari kedatangan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan ke lokasi bencana. Itu tindakan yang baik. Pejabat memang semestinya hadir ketika rakyat sedang susah. Tentu harus tulus. Ikhlas. Tanpa pamrih.

Tuluskah Zulhas? Banyak yang tak percaya. Alasannya? Karena dia datang dan menyerahkan bantuan dengan aroma pencitraan. Sorotan kamera yang stabil, angle sempurna, dan audio terdengar jelas dan utuh menunjukkan aksinya itu tidak spontan. Ada produksi konten yang direncanakan matang lalu diunggah di akun medsosnya.

Adegan Bang Zul kian menguatkan anggapan itu. Memanggul sendiri karung beras sementara dia dikawal sejumlah orang berotot kawat balung wesi terasa sangat janggal. Pun tatkala dia ikut membersihkan lantai rumah warga. Mungkin dia ingin seperti Khalifah Umar bin Khattab yang memikul sekarung gandum untuk diberikan kepada rakyatnya yang kelaparan. Bedanya, Umar melakukannya secara diam-diam pada waktu malam. Gelap. Senyap. Kalau Zulhas terang-terangan, di depan kamera dan mikrofon aktif. Dengan framing yang terlalu rapi, sulit untuk disebut tulus.

Alih-alih menuai simpati, Ketua Umum PAN itu justru kebanjiran caci maki. Masa lalunya saat menjadi menteri kehutanan yang royal memberikan izin pembalakan hutan diungkit lagi. Memperdagangkan empati demi citra diri ialah tindakan yang amat sangat tak terpuji. Zulhas disebut telah melakukan hal sekonyol itu.

Entah apa yang ada di benak para pejabat itu. Ada ungkapan Prancis; Qu'ils mangent de la brioche. Biarkan mereka makan brioche (sejenis roti mewah). Bahasa Inggrisnya; Let them eat cake (biarkan mereka makan kue). Itu menggambarkan ketidakpedulian dan ketidakpekaan orang kaya atau berkuasa terhadap penderitaan rakyat. Kiranya mereka termasuk frasa itu.



Berita Lainnya
  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.