Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Bumi Hangus di Sumatra

03/12/2025 05:00
Bumi Hangus di Sumatra
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

'Bumi yang menyusui kita

dengan mata airnya.

Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.

Bumi kita adalah kehormatan.

Bumi kita adalah jiwa dari jiwa.

Ia adalah bumi nenek moyang.

Ia adalah bumi waris yang sekarang.

Ia adalah bumi waris yang akan datang'.

 

MELALUI potongan bait puisinya berjudul Gugur itu, WS Rendra telah menegaskan betapa sentralnya peran bumi bagi manusia. Namun, kerakusan manusia merusak segalanya. Seperti kata Mahatma Gandhi, "Bumi ini mencukupi semua kebutuhan manusia, tapi tidak mampu mencukupi kerakusan manusia."

Ketika eksploitasi dari manusia yang superrakus tidak terbendung lagi, bumi akan 'kehilangan daya kasihnya'. Bumi, yang 'murka' atas ulah manusia, melahirkan bencana. Tak lagi menyusui mata air, malah menguras air mata. Bumi pun dipaksa kehilangan 'jiwa dari jiwa', layaknya lepasnya dekapan ibu dari tubuh kita yang membuat kita kehilangan rasa hangat sebuah pelukan.

Tepat belaka nasihat dan pesan penting pengarang Amerika Eric Weiner bahwa ada batas yang tidak bisa dibeli kembali, yakni ketika alam runtuh oleh kerakusan, seluruh konstruksi ekonomi ikut roboh karena fondasinya hilang. Dengan gamblang Eric menulis, 'Ketika pohon terakhir ditebang, ketika sungai terakhir dikosongkan, ketika ikan terakhir ditangkap, barulah manusia akan menyadari bahwa dia tidak dapat memakan uang'.

Bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat dalam beberapa hari ini memang disulut curah hujan yang amat sangat tinggi. Namun, tak bisa dimungkiri bahwa curah hujan tidak serta-merta berujung pada banjir bandang dan longsor bila hutan, alam, bumi masih 'berjiwa'. Pelajaran dasar hampir semua anak sekolah dasar di Indonesia sejak dulu kala mengatakan hutan yang digunduli berakibat banjir dan longsor.

Namun, lagi-lagi, kerakusan ugal-ugalan membuat yang mestinya bisa dicegah menjadi tak terbendung lagi. Banjir dan longsor Sumatra yang membawa gelondong dan bongkahan batu-batu membuat jutaan manusia terkena oleh dampaknya. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga kemarin pagi menunjukkan lebih dari 630 jiwa meninggal dunia, 472 orang hilang, dan 2.600 orang terluka. Jumlah korban terdampak 3,2 juta jiwa dan mereka yang mengungsi mencapai sekitar 1 juta jiwa.

Angka-angka itu sangat mengerikan. Sama mengerikannya membaca data-data rusaknya alam di tiga daerah yang terkena oleh banjir itu. Data BPS Aceh dan lembaga lingkungan mencatat wilayah Aceh kehilangan lebih dari 700 ribu hektare hutan pada 1990-2020. Di Sumatra Utara, wilayah tutupan hutan hanya tinggal 29%, atau 2,1 juta hektare, pada 2020. Di Sumatra Barat, proporsi hutan memang masih 54%, atau 2,3 juta hektare, pada 2020, tetapi dengan laju deforestasi tertinggi.

Dalam catatan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumatra Barat, provinsi itu kehilangan 320 ribu hektare hutan primer dan 740 ribu hektare tutupan pohon pada 2001 hingga 2024. Hanya dalam waktu satu tahun pada 2024, deforestasi di wilayah itu mencapai 32 ribu hektare.

Walhi Sumbar juga melakukan telaah spasial berbasis citra satelit Maxar pada periode Juni 2021-Juli 2025 pada kawasan hulu daerah aliran Sungai (DAS) Aia Dingin yang menjadi daerah tangkapan air utama untuk Kota Padang. Hasilnya, terdapat titik-titik penebangan yang berada di dalam Suaka Margasatwa Bukit Barisan serta hutan lindung. Sebagian titik lain tidak berada di hutan lindung, tetapi berbatasan langsung dengan kawasan konservasi, yang menjadi pintu masuk aktivitas logging.

Menurut Walhi, rangkaian citra yang diperoleh menunjukkan perubahan bentang lahan yang signifikan jauh sebelum galodo alias banjir bandang terjadi. Terdapat tumpukan kayu yang ditata menyerupai stockpile, bukaan lahan baru yang mencapai ratusan hektare, pola penebangan yang berulang dan sistematis, hingga jalan angkut hasil pembukaan hutan.

Citra Maxar merekam jejak yang konsisten selama empat tahun berturut-turut. Pada perekaman terbaru pada 27 Juli 2025, ditemukan puluhan titik penebangan aktif dan tumpukan kayu siap angkut di sepanjang punggungan hulu DAS Aia Dingin.

Begitu juga dengan penyebab banjir serta longsor yang melanda sejumlah daerah di Sumatra Utara. Hasil kajian Walhi Sumatra Utara menunjukkan banjir bandang dan tanah longsor Sibolga-Tapanuli bukan sekadar fenomena alam, melainkan juga telah berubah menjadi bencana ekologis.

Berdasarkan kajian risiko bencana nasional 2022-2026, wilayah yang saat ini terdampak oleh bencana masuk kategori risiko tinggi banjir bandang dan tanah longsor. Hanya Kabupaten Samosir yang masuk kategori risiko rendah, sedangkan sebagian besar wilayah memiliki risiko tinggi.

Nyata adanya telah terjadi simbiosis parasitisme antara bumi yang terus memberi dan manusia rakus yang tak henti mengeksploitasi. Peringatan demi peringatan bertubi-tubi terus ditumpuk menjadi onggokan di laci-laci dan lemari-lemari pemegang kendali. Kini, ketika bencana tiba dan dokumen-dokumen itu dibeberkan di atas meja, banjir penyangkalan terjadi di mana-mana, hingga alam murka.

Ada kalimat bijak (bahkan ada yang menyebutnya sebagai hadis meski hadis lemah): wakafa bil mauti wa'idza (dan cukuplah kematian itu sebagai pemberi nasihat). Namun, rentetan kematian demi kematian rupanya tak kunjung menjadi nasihat.

Saya tutup tulisan ini dengan penggalan puisi Rendra berjudul Bumi Hangus, siapa tahu kematian benar-benar menjadi nasihat.

'Di bumi yang hangus, hati selalu bertanya

apalagi yang kita punya? Berapakah harga cinta?

Di bumi yang hangus hati selalu bertanya

Kita harus pergi kemana, di mana rumah kita?

Di bumi yang hangus hati selalu bertanya

bimbang kalbu oleh cedera

Di bumi yang hangus hati selalu bertanya

hari ini maut giliran siapa?'.



Berita Lainnya
  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."