Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMATIAN Irene Sokoy dan bayinya, warga Provinsi Papua, ialah tamparan keras bagi negara. Disebut tamparan karena negara gagal menjalankan kewajiban dasarnya, yaitu menyelamatkan nyawa warganya.
Setiap orang, menurut Pasal 28A UUD 1945, berhak untuk hidup serta mempertahankan hidup dan kehidupan mereka. Pasal itu bukan dekorasi konstitusi, melainkan jaminan hak asasi paling mendasar yang wajib dijaga negara.
Namun, Irene Sokoy, ibu hamil yang kondisinya kritis, justru dibiarkan menunggu tanpa dokter di rumah sakit pertama. Saat dirujuk, tiga rumah sakit menolak. Salah satunya bahkan meminta uang muka jutaan rupiah ketika pasien sudah sekarat di dalam ambulans. Irene mengembuskan napas terakhir dalam perjalanan menuju rumah sakit kelima. Semua berlangsung kurang dari 24 jam sejak 16 November 2025.
Itu bukan sekadar kelalaian rumah sakit, melainkan juga pengkhianatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Cicero pernah berkata, salus populi suprema lex esto, keselamatan rakyat ialah hukum tertinggi.
Hukum tertinggi itu bukan uang, bukan kelas BPJS, bukan ruang yang penuh, bukan uang muka, bukan pula administrasi. Hukum tertinggi itu ialah keberanian menyelamatkan nyawa manusia lebih dulu. Irene tewas karena pada malam itu, uang lebih berdaulat daripada kemanusiaan. Uang mahakuasa.
Irene dimakamkan pada 17 November 2025, hanya empat hari sebelum Papua merayakan 24 tahun otonomi khusus. Otsus diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2021 sebagai perubahan kedua UU 21/2001.
Negara melalui UU tersebut mengalokasikan dana setara 2,25% dari plafon dana alokasi umum nasional, dengan 1,25% di antaranya untuk pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi. Porsi kesehatan sebesar 20%.
Pada 2025, dana otsus Papua mencapai Rp899,3 miliar. Angka besar yang semestinya menjamin ketersediaan dokter, ruang perawatan, dan layanan darurat tanpa syarat. Namun, kenyataan jauh lebih getir. Papua mencatat angka kematian ibu sebesar 565 per 100 ribu kelahiran hidup, tertinggi di Indonesia dan jauh di atas rerata nasional.
Papua juga masih dibelit kemiskinan ekstrem. Persentase penduduk miskin pada Maret 2025 mencapai 19,16%, naik dari tahun sebelumnya. Jumlahnya kini 171,38 ribu orang, bertambah 18,47 ribu jika dibandingkan dengan Maret 2024. Angka-angka itu memamerkan jurang antara besarnya dana otsus dan kecilnya layanan yang benar-benar dirasakan rakyat.
Di atas kertas, anggaran hadir. Dalam kenyataan, seorang ibu hamil harus berkeliling puluhan kilometer hanya untuk ditolak berkali-kali. Tragis. Lebih tragis lagi, salah satu rumah sakit menolak merawat Irene karena ia tak mampu membayar uang muka Rp4 juta.
Duka Irene menunjukkan betapa mahalnya akses hidup bagi mereka yang tak berpunya. Rumah sakit, tempat orang menggantungkan harapan hidup, ternyata tak ramah pada rakyat kecil. Padahal, prinsip pelayanan medis mewajibkan penyelamatan nyawa didahulukan sebelum hitungan biaya.
Penolakan pasien karena uang jelas melanggar amanat Pasal 174 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, yang mewajibkan rumah sakit memberikan pelayanan bagi seseorang dalam kondisi gawat darurat dengan mendahulukan penyelamatan nyawa dan pencegahan disabilitas. Dalam kondisi darurat, rumah sakit juga dilarang menolak pasien, meminta uang muka, atau mendahulukan administrasi.
Undang-undang memang indah sebagai teks, tetapi miskin dalam penerapan. Perlakuan rumah sakit terhadap orang miskin paralel dengan perlakuan negara terhadap kaum papa.
Negara merasa bangga ketika angka kemiskinan turun sepersekian persen. Padahal, bagi mereka yang masih terperangkap dalam kemiskinan, perjuangan itu tetaplah duka yang absolut dan mematikan seperti yang dialami Irene Sokoy. Duka Irene Sokoy ialah ironi Papua dan negara ini.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)
JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.
PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.
HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.
DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.
RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.
KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.
ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.
BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.
REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved