Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

Akal Imitasi

15/11/2025 05:00
Akal Imitasi
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SEBUAH pertanyaan menohok diajukan seorang mahasiswa di Mataram, Nusa Tenggara Barat, kepada saya pada forum Insight Talk yang digagas Kementerian Komunikasi dan Digital bekerja sama dengan Media Indonesia dan Dewan Pers, tengah pekan ini. Pertanyaan itu, "Mengapa media massa di Indonesia terkesan anti dengan artificial intelligence/AI (kecerdasan buatan)? Apakah media massa kita mengalami ketakutan terdisrupsi kesekian kali?"

Saya menjawab pertanyaan itu secara apologetik, dengan pembelaan secara proporsional. Saya katakan bahwa hampir semua media massa di Indonesia sudah memanfaatkan AI. Hampir mustahil bagi media menolak 'mesin pintar' itu. Apalagi, AI bisa membantu kerja jurnalis.

"Jurnalis yang bertahan bukan yang menolak teknologi, melainkan yang mampu membuat teknologi bekerja untuk nilai-nilai jurnalisme itu sendiri. Kami tidak takut dan tidak ada alasan untuk takut. Kami yakin, jurnalisme tetap bisa bernapas meski harus berdampingan dengan mesin," kata saya.

Namun, pemakaian AI dalam jurnalisme tak bisa seenaknya. Ia butuh koridor. Mesti dibatasi agar tidak menghancurkan jurnalisme itu sendiri. Apalagi, ada sejumlah hal dalam rumus jurnalistik yang tidak bisa disentuh akal imitasi itu.

Persis seperti yang dikatakan Louisa Compton, Kepala Pemberitaan dan Sains Fakta Channel 4, sebuah televisi di Inggris yang amat agresif memakai AI. Ia menegaskan, “Penggunaan presenter AI bukan kebiasaan kami. Kami tetap fokus pada jurnalisme manusiawi, terverifikasi, dan berdasar data, sesuatu yang belum bisa dilakukan AI.”

Channel 4 ialah televisi yang memperkenalkan presenter AI yang benar-benar menyerupai manusia. Beberapa waktu lalu, televisi tersebut mengguncang dunia pada suatu siang di sebuah jalanan di Inggris. Di antara lalu lalang orang dan kendaraan, seorang presenter berdiri menatap kamera. Suaranya jernih, intonasinya meyakinkan, gerakannya luwes.

Namun, sejatinya sang presenter tak pernah hidup. Namanya Aisha Gaban. Meski diberi nama, Aisha Gaban bukan berasal dari daging dan darah, melainkan dari algoritma. Ia menjadi presenter program dokumenter Dispatches: Will AI Take My Job?.

Channel 4 membuat Aisha sebagai presenter hasil teknologi kecerdasan buatan yang sudah cukup canggih untuk meniru wajah, suara, bahkan gestur manusia. Satu-satunya perbedaan ialah Aisha belum memiliki nurani manusia. Aisha memang bukan sekadar presenter televisi. Ia simbol zaman: bahwa pada era digital, manusia bisa tergantikan di ruang yang kerap disebut paling manusiawi, yakni layar televisi.

Aisha ialah refleksi nyata bahwa batas antara manusia dan mesin kini makin tipis. Bahkan, di dunia yang dulu dibangun atas rasa dan intuisi itu, mesin-mesin cerdas sedang 'belajar serius' menjadi manusia. Paradoksnya, sebagian manusia malah bekerja seperti mesin, tak menggunakan secara maksimal kecerdasan kemanusiaannya.

Langkah Channel 4 dan tren penggunaan AI di media bukan sekadar sensasi. Data sebuah media marketing di Inggris menyebut hampir tiga perempat pengusaha di Inggris sudah menyerahkan sebagian pekerjaan manusia kepada AI. Saat 'presenter' virtual itu menutup siaran dengan pengakuan, “Saya tidak nyata. Gambar dan suara saya dihasilkan AI,” publik menyadari bahwa zona aman manusia dalam media mulai tergeser.

Eksperimen Channel 4, juga media-media yang lain, menjadi alarm etika. Ia menunjukkan betapa mudah publik percaya pada wajah yang tampak nyata, padahal tak punya napas. Siapa yang menjamin berita yang kita tonton bukan hasil skenario algoritma? Siapa yang memastikan bahwa kebenaran tidak dikompres sedemikian rupa sehingga menjadi sekadar rekomendasi sistem? Jadi, bukan soal anti atau permisif, ketakutan atau kelewat berani. Media mesti menimbang empati.

Namun, untungnya, saya hidup di Indonesia. Media di negeri ini masih bersepakat untuk menjadikan manusia (jurnalis) sebagai poros utama. Penggunaan kecerdasan buatan diakomodasi, tapi kendali atas karya jurnalistik tetap ada di tangan manusia atau para jurnalis. Itu pula yang didorong melalui aturan Dewan Pers yang diterbitkan pada Mei 2025.

Pada Peraturan Dewan Pers Nomor 1/Peraturan-DP/I/2025 tentang Pedoman Penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) dalam Karya Jurnalistik itu dinyatakan bahwa penggunaan AI di media harus tetap bersifat etis (menjunjung kode etik jurnalistik), menjunjung independensi, transparan, dan tidak mengorbankan integritas jurnalistik. Kontrol manusia (jurnalis) dalam karya jurnalistik tidak bisa digantikan AI.

Fungsi AI dalam jurnalistik ialah untuk membantu meningkatkan kualitas dan efisiensi kerja, bukan memgambil alih kendali. Hasil karya jurnalistik tetap harus diverifikasi manusia untuk menjaga keakuratan, keberimbangan, dan faktualitas berita. Karena itu, transparansi dalam pembuatan atau penyuntingan konten dengan bantuan AI wajib disampaikan kepada publik. Sama seperti 'presenter' Channel 4 Aisha Gaban yang 'menyatakan diri' bahwa ia bukan manusia, melainkan mesin kecerdasan buatan belaka.

Dunia memang cepat berubah, bahkan melompat. Bukan cuma format yang berganti, melainkan aktor utamanya juga bersalin rupa. Mesin mulai autonomus menulis, mengedit, memotong video, memersonalisasi berita. AI kini duduk di meja kerja yang dulu hanya diisi manusia.

Data Reuters Digital News Report 2025 menunjukkan lebih dari 60% media global, termasuk Indonesia, kini telah menggunakan sistem AI di seluruh rantai produksi berita. Semua demi efisiensi dan akselerasi. Semua berlomba meraih kecepatan dan AI menyediakan diri sebagai kuda troyanya.

AI memang cepat, namun nilai berita tidaklah hanya ditentukan kecepatan, tetapi juga oleh empati, konteks, dan keberanian menafsirkan untuk memberikan perspektif. Karena itu, manusia tetap mesti memegang kendali karena empati, kedalaman, serta konteks tak akan pernah memadai oleh mesin paling cerdas dan paling 'punya rasa' sekalipun. Itu karena mereka AI, akal imitasi, bukan akal asli yang juga dipandu hati.



Berita Lainnya
  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.