Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

Pendulum di Tangan Anak Muda

31/10/2025 05:00
Pendulum di Tangan Anak Muda
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

DALAM setiap seremoni peringatan Hari Sumpah Pemuda, tidak terkecuali tahun ini, selalu akan bertebaran kalimat bernuansa heroik untuk menunjukkan besarnya harapan bangsa ini terhadap peran generasi muda. 'Generasi muda adalah penentu masa depan bangsa', 'pemuda harus jadi agen perubahan di era modern', 'anak muda ialah penggerak pembangunan', dan masih banyak yang lain.

Saking bertebarannya, sampai-sampai kita sering menganggapnya omon-omon belaka. Hanya menjadi pemanis naskah-naskah pidato pejabat saat memimpin peringatan Sumpah Pemuda. Lama-lama bahkan menjadi serupa jargon, cuma lantang disuarakan, tapi kering isi. Maknanya tak tergali karena tereduksi menjadi sekadar basa-basi seremoni.

Para pejabat yang melontarkan kalimat itu mungkin juga tidak paham, apakah sebesar itu harapan yang digantungkan bangsa ini kepada para pemuda? Pun, mereka barangkali tidak mengerti apakah generasi muda, yang dengan sederet masalah mereka sendiri saja kadang kepayahan, mampu menyunggi beban berat untuk membangun masa depan negara?

Untuk pertanyaan itu, ada dua kutub jawaban yang berseberangan. Kubu pesimistis menyangsikan anak-anak muda zaman sekarang mau dan mampu berkiprah banyak untuk negeri. Kutub itu melihat bahwa generasi muda saat ini makin banyak yang tercemari oleh mental-mental merusak seperti materialisme dan hedonisme.

Mereka digempur budaya pamer, cuek, masa bodoh. Mereka juga cenderung apatis untuk hal yang menyangkut politik, demokrasi, dan kebangsaan. Boro-boro ikut berpartisipasi dalam urusan bangsa, untuk melayani gaya hidup dan kesenangan pribadi saja mereka mungkin kekurangan waktu.

Kalaupun mereka terjun ke dunia politik, misalnya, kepentingan pribadi saja yang mereka tuju, bukan kepentingan bangsa dan masyarakat luas. Cara-cara yang bakal mereka tempuh pun sangat mungkin bukan cara yang semestinya. Nepotisme, mengandalkan koneksi, atau meneruskan dinasti.

Namun, kabar baiknya, kubu yang optimistis kiranya jauh lebih banyak. Kubu itu meyakini bahwa masih banyak anak muda era kini yang memiliki idealisme dan kepedulian cukup tinggi untuk terlibat aktif menuntaskan persoalan-persoalan negara. Mereka optimistis generasi muda akan mampu menjadi motor perubahan, baik di bidang politik, ekonomi, maupun sosial.

Apa indikasinya? Banyak. Salah satunya yang baru-baru ini dilontarkan Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Saldi Isra terkait dengan fenomena meningkatnya partisipasi generasi muda dalam mengajukan uji materi undang-undang ke MK. Saldi menyebut ini sebagai tren baru yang menunjukkan tumbuhnya kesadaran baru tentang pentingnya peran warga negara dalam menegakkan konstitusi, terutama dari generasi muda.

Faktanya, keberanian itu sepadan dengan dampaknya. Itu setidaknya bisa dilihat dari permohonan uji materi Pasal 222 UU No 7 Tahun 2017 tentang Pemilu yang diajukan empat mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, yaitu Enika Maya Octavia, Rizki Maulana Syafei, Tsalis Khoirul Fatna, dan Faisal Nasirul Haq. Perjuangan mereka menuai hasil maksimal dengan menghasilkan putusan penting dari MK yang menihilkan ambang batas pencalonan presiden.

Dari isu lingkungan hidup, dua mahasiswa, Leonardo Petersen Agustinus Turnip dan Jovan Gregorius Naibaho, menguji materi Pasal 66 UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Lalu di bidang pendidikan ada Liga Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (LMID) yang mengajukan uji materi UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada keadilan sosial.

Tentu masih banyak contoh lain ihwal kiprah anak muda di berbagai bidang yang positif buat negeri. Karena itu, sesungguhnya kita punya alasan kuat untuk tetap optimistis anak-anak muda Indonesia bakal menyumbang kontribusi penting bagi masa depan bangsa.

Kehadiran mereka menjadi harapan baru bahwa telah muncul kembali kesadaran dari generasi muda untuk bersikap lebih partisipatif jika ingin membenahi atau mengubah negara ini. Mereka memilih tidak menghindar, bahkan berani bertarung dalam isu politik meski selama ini politik kerap dipersepsikan kotor, penuh intrik, dan tipu daya.

Kata Tan Malaka, idealisme ialah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki pemuda. Itu artinya, tanpa anak muda, sangat mungkin pengelolaan negara bakal berjalan tanpa idealisme. Tanpa mereka yang bergerak, boleh jadi tidak akan ada perubahan signifikan yang bisa dihasilkan untuk negeri ini pada masa mendatang.

Pendulum ada di tangan generasi muda. Merekalah yang kelak akan menentukan apakah narasi-narasi heroik tentang anak muda pada peringatan Sumpah Pemuda akan berhenti sebatas menjadi jargon atau termanifestasi menjadi fakta sejarah.



Berita Lainnya
  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.