Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Kilauan Jet Rintihan Etika

27/10/2025 05:00
Kilauan Jet Rintihan Etika
Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PUTUSAN Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) terhadap para komisioner KPU bukanlah kejutan. Justru menjadi pengingat bahwa penyimpangan etika di tubuh KPU telah menjelma menjadi tradisi yang memalukan.

Disebut memalukan karena pelanggaran etika senantiasa mewarnai perjalanan setiap periode sejak KPU dibentuk pada 1999. Tidak sedikit pula karier komisoner berujung di balik jeruji besi.

Kali ini DKPP menjatuhkan sanksi peringatan keras kepada Ketua KPU Mochammad Afifuddin dan empat anggotanya, yaitu Idham Holik, Yulianto Sudrajat, Parsadaan Harahap, dan August Mellaz. Sekjen KPU Bernard Dermawan Sutrisno turut menerima hukuman serupa.

Sanksi peringatan keras semacam itu bukan yang pertama. Sudah berkali-kali dijatuhkan, tapi tidak pernah menimbulkan efek jera. Itu bukan lagi soal pelanggaran, melainkan soal pembiaran sistemis. KPU butuh reformasi total, bukan sekadar tambal sulam ala bengkel pinggir jalan.

Pada mulanya komisioner KPU ialah orang-orang baik. Mereka memenuhi dua syarat utama. Pertama, punya integritas, berkepribadian yang kuat, jujur, dan adil. Kedua, memiliki pengetahuan dan keahlian yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemilu, ketatanegaraan, dan kepartaian.

Mengapa orang-orang baik itu malah menerabas etika ketika berada di dalam sistem? Tujuh komisioner KPU saat ini, mereka menyisihkan 479 kandidat lainnya saat proses seleksi, seharusnya menjadi teladan integritas.

Banyak orang yang awalnya idealis, tapi ketika dihadapkan pada peluang besar, mereka mulai mengabaikan prinsip. Bukan karena mereka jahat, melainkan karena sistem dan tekanan sosial sering kali mendorong ke arah itu. Mereka rela bertekuk lutut di bawah godaan kemewahan.

Lima komisioner KPU tersandung oleh pelanggaran etika terkait dengan sewa jet pribadi. Mata mereka silau melihat uang selangit untuk membiayai pemilu sehingga muncul kebutuhan tidak masuk akal, yaitu sewa jet pribadi.

APBN 2024 mengalokasikan untuk penyelenggaraan pemilu mencapai angka Rp71,3 triliun. Angka fantastis yang dipungut dari keringat rakyat lewat pajak. Jika dibandingkan dengan Pemilu 2019, anggaran kali ini naik 57,3%.

Godaan kemewahan itu nyata adanya. Berawal dari orang biasa yang nyaman hidup sederhana, tiba-tiba panjat status sebagai pejabat negara. Gaya hidup berubah. Padahal, kemewahan jet pribadi itu bukanlah prestasi dan hedonisme bukanlah hak istimewa jabatan.

Fakta persidangan di DKPP terungkap bahwa sewa jet pribadi sama sekali tidak berkorelasi dengan tujuannya, monitoring logistik di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Perjalanan jet pribadi ke daerah 3T hanya 30%, selebihnya (70%) terbang menuju daerah yang relatif terjangkau dengan transportasi reguler.

Penggunaan jet pribadi itu terkait dengan kekuasaan dan prestise. Itu bukan soal efisiensi, melainkan soal gaya hidup baru yang dibungkus legitimasi aturan.

Etika tergelincir oleh kilau materi terjadi dalam perjalanan KPU selama 26 tahun ini. Sudah banyak yang merasakan hidup di bui karena kasus korupsi.

Sebut saja Daan Dimara, Mulyana W Kusumah, Rusadi Kantaprawira, Nazaruddin Sjamsuddin, dan Wahyu Setiawan. Adapun mantan Ketua KPU Hasyim Asyari diberhentikan terkait dengan pelanggaran etik karena kasus susila pada 3 Juli 2024.

Kepatuhan terhadap etika tidak bisa ditawar-tawar lagi. Komisioner KPU tidak boleh dijatuhi sanksi etika berulang kali, apalagi peringatan keras lebih dari sekali. Cukup satu kali, setelah itu, harus dipecat demi wibawa lembaga.

Pemilu berintegritas harus diselenggarakan komisioner yang berintegritas. Integritas itu dibangun di atas fondasi etika. Imam Al Ghazali mengatakan etika menempati derajat lebih tinggi daripada ilmu pengetahuan.

Sanksi peringatan keras atas sewa jet pribadi kiranya menjadi pijakan untuk menindaklanjuti kasus itu ke ranah hukum. Kata Earl Warren, hukum mengapung di atas samudra etika. Tanpa proses hukum, kilauan jet pribadi akan terus menyalakan bara rintihan etika, membakar perlahan kepercayaan rakyat terhadap pemilu.



Berita Lainnya
  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan