Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

Dibakar Api Unggun

18/10/2025 05:00
Dibakar Api Unggun
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

'SAYA merasa

diri saya sebagai

sepotong kayu

dalam satu gundukan kayu api unggun

 

sepotong dari pada ratusan

atau ribuan kayu di dalam api unggun besar

 

saya menyumbangkan sedikit

kepada nyala api unggun itu

 

tetapi sebaliknya

saya dimakan oleh api unggun itu!

Dimakan apinya api unggun'

Puisi berjudul Dimakan Api Unggun di atas merupakan karya Bung Karno. Sang proklamator menulis sajak itu untuk menggambarkan secara mendalam dan lebih sublim tentang pengorbanan, perjuangan, dan semangat kolektif dalam membangun bangsa. Puisi tersebut mengandung simbolisme kuat yang menggambarkan bagaimana individu ialah bagian dari perjuangan yang lebih besar, dan bagaimana pengorbanan seseorang dapat memberi cahaya bagi banyak orang.

Kata 'berkorban', 'perjuangan', dan 'spirit kolektif' sejatinya masih hidup hingga kini di negeri ini. Namun, kata-kata itu lebih nyaring di mimbar-mimbar pidato ketimbang mewujud dalam laku hidup. Kalau semua mau berjuang, berkorban, dan bergerak kolektif demi bangsa sebagaimana isi pidato para elite dan calon elite, tentu tidak ada korupsi. Boleh jadi kita sudah sejahtera. Malah, mungkin lebih sejahtera ketimbang Korea Selatan.

Mengapa dibandingkan dengan Korsel? Karena kita berangkat dari titik mula yang sama dengan 'Negeri Ginseng' itu. Namun, Korsel sanggup menjaga nyala api unggun. Dalam bahasa lainnya, mereka mampu menjaga 'api revolusi'. Karena itu, Korsel sejahtera.

Kita, yang berangkat dari start yang sama, kenyataannya belum mencapai tingkat sejahtera. Masih jauh panggang dari api. Di bidang ekonomi, kita bahkan nyaris dikejar Vietnam. Tinggal 'selangkah lagi'. Padahal, pada '80-an, Vietnam masih jauh di belakang kita.

Baru pada 1990 hingga akhir 1997, ekonomi Vietnam tumbuh pesat, rata-rata 8%. Kondisi itu berlangsung hingga kini, pada semester I 2025 ini. Ekonomi Vietnam mampu tumbuh 7,52%, angka tertinggi dalam 15 tahun terakhir untuk pertumbuhan ekonomi satu semester di 'Negeri Ngu Yen' itu. Bahkan, kualitas pertumbuhan Vietnam lebih yahud ketimbang Indonesia karena ditopang sektor industri dan jasa, bukan konsumsi.

Terkait dengan aktivitas bisnis, Vietnam mencatat terdapat lebih dari 91 ribu perusahaan baru berdiri pada semester pertama 2025. Modal terdaftar sekitar US$32,3 miliar dengan tingkat serapan tenaga kerja lebih dari 591 ribu pekerja yang terdaftar. Dahsyat, bukan?

Itu semua terjadi karena Vietnam konsisten menjaga 'nyala api unggun' mereka. Ya, pejabatnya. Ya, elitenya. Ya entitas bisnisnya. Ya rakyatnya. Semua berjuang, berkorban, dan memiliki spirit kolektif untuk maju. Tentu, tidak semuanya sesempurna itu. Namun, 'lagu menuju kemajuan'-nya sama.

Lihatlah bagaimana angka ICOR (incremental capital output ratio) Vietnam yang lebih rendah daripada angka ICOR Indonesia. Vietnam rata-rata di 5,7, sedangkan Indonesia masih 6,5. Angka ICOR yang lebih rendah menunjukkan bahwa investasi di suatu negara lebih efisien jika dibandingkan dengan negara dengan ICOR lebih tinggi. Investasi di Vietnam lebih efisien ketimbang di Indonesia. Wajar bila hanya dalam enam bulan pertama pada 2025, berdiri 91 ribu pabrik baru di Vietnam.

Saya bisa paham, mengapa Presiden Prabowo menargetkan pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029. Itu agar kita bisa membesarkan nyala api unggun. Selain itu, amat mungkin agar tidak dikejar negara-negara di belakang kita yang tinggal selangkah-dua langkah menyamai, bahkan melampaui Indonesia.

Apakah itu realistis dan bisa? Sangat bisa, kata Menteri Keuangan Purbaya. "Dulu, di era Pak SBY, kita punya rata-rata pertumbuhan ekonomi lebih tinggi daripada zaman Pak Jokowi meski Pak SBY enggak membangun infrastruktur sebanyak Pak Jokowi. Kenapa? Karena private sector (sektor swasta) banyak bergerak. Kredit perbankan bisa tumbuh lebih dari 20%. Di era Pak Jokowi, swastanya ngerem, pertumbuhan kredit turun, pemerintahnya bergerak sangat aktif dengan membangun infrastruktur. Nah, kalau dua pendekatan itu digabung, pertumbuhan 8% di 2029 itu bisa dicapai," kata Purbaya dalam diskusi 1 Tahun Prabowo-Gibran, Kamis (16/10).

Pekerjaan yang mesti diselesaikan jelas banyak. Dalam kalkulasi Kementerian Investasi dan Hilirisasi, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8%, dibutuhkan investasi lebih dari Rp13.200 triliun. Biar investor mau menanamkan investasi mereka, perbaiki ICOR secepat mungkin, perbaiki kemudahan berusaha sesegera mungkin, tutup kebocoran serapat mungkin.

Saat ini, angka ICOR masih 6,5. Begitu juga rangking kemudahan berbisnis masih di peringkat ke-73 dari 190 negara. Pertumbuhan ekonomi masih di 5,12% pada kuarta kedua 2025. Namun, angka-angka itu sudah lumayan. Sudah menampakkan pergerakan. Bahasa lainnya, sudah menggeliat.

Namun, yang dibutuhkan bukan sekadar geliat. Negeri ini butuh lari. Api unggun kita yang redup butuh banyak kayu bakar agar apinya menyala-nyala lagi. Butuh gebrakan yang dijaga konsistensinya. Semua itu, mengutip kata-kata netizen, agar 'menyala abangku'.

 



Berita Lainnya
  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.

  • Pertobatan Ekologis

    03/1/2026 05:00

    ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik

  • Tahun Lompatan Ekonomi

    02/1/2026 05:00

    SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.

  • Tahun Baru Lagi

    31/12/2025 05:00

    SETIAP pergantian tahun, banyak orang memaknainya bukan sekadar pergeseran angka pada kalender, melainkan juga jeda batin untuk menimbang arah perjalanan bersama.

  • Tunas Terempas

    30/12/2025 05:00

    SUARANYA bergetar nyaris hilang ditelan hujan deras pada senja pekan silam. Nadanya getir mewakili dilema anak muda Indonesia yang menjadi penyokong bonus demografi.