Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

Dibakar Api Unggun

18/10/2025 05:00
Dibakar Api Unggun
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

'SAYA merasa

diri saya sebagai

sepotong kayu

dalam satu gundukan kayu api unggun

 

sepotong dari pada ratusan

atau ribuan kayu di dalam api unggun besar

 

saya menyumbangkan sedikit

kepada nyala api unggun itu

 

tetapi sebaliknya

saya dimakan oleh api unggun itu!

Dimakan apinya api unggun'

Puisi berjudul Dimakan Api Unggun di atas merupakan karya Bung Karno. Sang proklamator menulis sajak itu untuk menggambarkan secara mendalam dan lebih sublim tentang pengorbanan, perjuangan, dan semangat kolektif dalam membangun bangsa. Puisi tersebut mengandung simbolisme kuat yang menggambarkan bagaimana individu ialah bagian dari perjuangan yang lebih besar, dan bagaimana pengorbanan seseorang dapat memberi cahaya bagi banyak orang.

Kata 'berkorban', 'perjuangan', dan 'spirit kolektif' sejatinya masih hidup hingga kini di negeri ini. Namun, kata-kata itu lebih nyaring di mimbar-mimbar pidato ketimbang mewujud dalam laku hidup. Kalau semua mau berjuang, berkorban, dan bergerak kolektif demi bangsa sebagaimana isi pidato para elite dan calon elite, tentu tidak ada korupsi. Boleh jadi kita sudah sejahtera. Malah, mungkin lebih sejahtera ketimbang Korea Selatan.

Mengapa dibandingkan dengan Korsel? Karena kita berangkat dari titik mula yang sama dengan 'Negeri Ginseng' itu. Namun, Korsel sanggup menjaga nyala api unggun. Dalam bahasa lainnya, mereka mampu menjaga 'api revolusi'. Karena itu, Korsel sejahtera.

Kita, yang berangkat dari start yang sama, kenyataannya belum mencapai tingkat sejahtera. Masih jauh panggang dari api. Di bidang ekonomi, kita bahkan nyaris dikejar Vietnam. Tinggal 'selangkah lagi'. Padahal, pada '80-an, Vietnam masih jauh di belakang kita.

Baru pada 1990 hingga akhir 1997, ekonomi Vietnam tumbuh pesat, rata-rata 8%. Kondisi itu berlangsung hingga kini, pada semester I 2025 ini. Ekonomi Vietnam mampu tumbuh 7,52%, angka tertinggi dalam 15 tahun terakhir untuk pertumbuhan ekonomi satu semester di 'Negeri Ngu Yen' itu. Bahkan, kualitas pertumbuhan Vietnam lebih yahud ketimbang Indonesia karena ditopang sektor industri dan jasa, bukan konsumsi.

Terkait dengan aktivitas bisnis, Vietnam mencatat terdapat lebih dari 91 ribu perusahaan baru berdiri pada semester pertama 2025. Modal terdaftar sekitar US$32,3 miliar dengan tingkat serapan tenaga kerja lebih dari 591 ribu pekerja yang terdaftar. Dahsyat, bukan?

Itu semua terjadi karena Vietnam konsisten menjaga 'nyala api unggun' mereka. Ya, pejabatnya. Ya, elitenya. Ya entitas bisnisnya. Ya rakyatnya. Semua berjuang, berkorban, dan memiliki spirit kolektif untuk maju. Tentu, tidak semuanya sesempurna itu. Namun, 'lagu menuju kemajuan'-nya sama.

Lihatlah bagaimana angka ICOR (incremental capital output ratio) Vietnam yang lebih rendah daripada angka ICOR Indonesia. Vietnam rata-rata di 5,7, sedangkan Indonesia masih 6,5. Angka ICOR yang lebih rendah menunjukkan bahwa investasi di suatu negara lebih efisien jika dibandingkan dengan negara dengan ICOR lebih tinggi. Investasi di Vietnam lebih efisien ketimbang di Indonesia. Wajar bila hanya dalam enam bulan pertama pada 2025, berdiri 91 ribu pabrik baru di Vietnam.

Saya bisa paham, mengapa Presiden Prabowo menargetkan pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029. Itu agar kita bisa membesarkan nyala api unggun. Selain itu, amat mungkin agar tidak dikejar negara-negara di belakang kita yang tinggal selangkah-dua langkah menyamai, bahkan melampaui Indonesia.

Apakah itu realistis dan bisa? Sangat bisa, kata Menteri Keuangan Purbaya. "Dulu, di era Pak SBY, kita punya rata-rata pertumbuhan ekonomi lebih tinggi daripada zaman Pak Jokowi meski Pak SBY enggak membangun infrastruktur sebanyak Pak Jokowi. Kenapa? Karena private sector (sektor swasta) banyak bergerak. Kredit perbankan bisa tumbuh lebih dari 20%. Di era Pak Jokowi, swastanya ngerem, pertumbuhan kredit turun, pemerintahnya bergerak sangat aktif dengan membangun infrastruktur. Nah, kalau dua pendekatan itu digabung, pertumbuhan 8% di 2029 itu bisa dicapai," kata Purbaya dalam diskusi 1 Tahun Prabowo-Gibran, Kamis (16/10).

Pekerjaan yang mesti diselesaikan jelas banyak. Dalam kalkulasi Kementerian Investasi dan Hilirisasi, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8%, dibutuhkan investasi lebih dari Rp13.200 triliun. Biar investor mau menanamkan investasi mereka, perbaiki ICOR secepat mungkin, perbaiki kemudahan berusaha sesegera mungkin, tutup kebocoran serapat mungkin.

Saat ini, angka ICOR masih 6,5. Begitu juga rangking kemudahan berbisnis masih di peringkat ke-73 dari 190 negara. Pertumbuhan ekonomi masih di 5,12% pada kuarta kedua 2025. Namun, angka-angka itu sudah lumayan. Sudah menampakkan pergerakan. Bahasa lainnya, sudah menggeliat.

Namun, yang dibutuhkan bukan sekadar geliat. Negeri ini butuh lari. Api unggun kita yang redup butuh banyak kayu bakar agar apinya menyala-nyala lagi. Butuh gebrakan yang dijaga konsistensinya. Semua itu, mengutip kata-kata netizen, agar 'menyala abangku'.

 



Berita Lainnya
  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.