Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Efek Purbaya

15/10/2025 05:00
Efek Purbaya
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tidak sekadar menjadi kesayangan media, atau media darling, akhir-akhir ini. Ia bahkan menjadi netizen darling, kesayangan para netizen. Di sejumlah forum yang ia hadiri, Purbaya kerap diburu wartawan untuk dinanti komentar kejutannya.

Bahkan, para peserta diskusi dan seminar, khususnya ibu-ibu, ikut mengerubungi mantan Ketua Lembaga Penjamin Simpanan itu untuk mengajaknya berswafoto. Gaya 'koboi' dan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos kian menarik hati dan bikin 'jatuh hati'. Di dunia maya, pengikut akun media sosialnya terus menjulang. Di akun Instagram yang baru ia aktifkan dua bulan lalu, pengikutnya sudah lebih dari 240 ribu. Begitu juga di akun medsos miliknya lainnya.

Gayanya sebagai menkeu yang kontras dengan langgam menkeu sebelumnya, Sri Mulyani, ditangkap publik sebagai sesuatu yang segar. Sri Mulyani sangat hati-hati, berkomunikasi secara tertata, bahkan kerap pelit berbicara kepada media. Sebaliknya, cara bicara Purbaya lugas, membuat hal ihwal soal ekonomi yang dianggap sulit dan rumit menjadi renyah dan enteng. Ia percaya diri. Ia yakin, di tangannya, pertumbuhan ekonomi 6% bisa terjadi dalam setahun.

Saya sedang menerka-nerka, apakah Purbaya sedang 'menciptakan' ekspektasi? Ia seperti tengah menerapkan 'ilmu' yang diajarkan ekonom Amerika Serikat Robert Emerson Lucas. Kata peraih Hadiah Nobel Ekonomi 1995 itu, "People use all available information to form rational expectations about the future (Orang menggunakan semua informasi yang tersedia untuk membentuk ekspektasi rasional tentang masa depan)."

Lucas menerima Hadiah Nobel Memorial dalam ilmu ekonomi pada 1995 atas pengembangan dan penerapan hipotesis 'ekspektasi rasional' tersebut. Teorinya itu pun mengubah analisis ekonomi makro dan memperdalam pemahaman kita tentang kebijakan ekonomi. Ringkasnya, ekspektasi positif yang didasarkan pada data dan informasi yang kredibel dapat mendorong partisipasi aktif dalam aktivitas ekonomi. Harapan itu merupakan penopang tak kasatmata dari pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Itu mirip-mirip yang dilakukan Purbaya saat ditanya argumentasinya memindahkan dana pemerintah Rp200 triliun dari Bank Indonesia ke bank-bank negara (bank Himbara). Purbaya menyebut langkahnya menaruh dana Rp200 triliun di Himbara itu diperuntukkan memberikan daya ungkit ekonomi akibat lesunya kredit. Di tangan bank, dana itu akan dikonversi menjadi kredit yang dicairkan ke sektor riil sehingga ekonomi cepat bergerak.

Sebagian pihak yang pesimistis mengkritik langkah Purbaya itu sebagai 'menggarami lautan'. Ingin membuat asin yang sudah sangat asin, alias tidak signifikan memberikan dampak. Para kritikus menyebut bahwa dalam soal pertumbuhan kredit, faktornya bukan pada supply side atau sisi ketersediaan kredit, melainkan pada sisi permintaan kredit atau demand side.

Data yang digunakan para kritikus untuk membangun argumentasi bahwa 'masalah ada di sisi permintaan' ialah masih tingginya dana kredit menganggur di perbankan. Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa per Agustus 2025, jumlah undisbursed loan (pinjaman atau kredit yang telah disetujui, tetapi belum dicairkan/ditarik nasabah) di Indonesia mencapai Rp2.372 triliun. Jumlah itu setara dengan sekitar 22,7% dari total plafon kredit yang tersedia dalam sistem perbankan.

Fenomena itu sering diartikan bahwa pelaku usaha masih menahan diri untuk melakukan ekspansi bisnis karena berbagai pertimbangan meskipun fasilitas pinjaman telah tersedia. Karena itu, dana Rp200 triliun yang digeser dari BI untuk diubah menjadi kredit itu hanya sepersebelasnya kredit menganggur. Walhasil, begitu pendapat para kritikus Purbaya, kebijakan itu akan nihil dampak. Kalaupun ada, sangat kecil belaka.

Namun, seperti kata Lucas, harapan rasional akan masa depan dibentuk informasi dan keyakinan hari ini. Purbaya sedang membangun informasi dan keyakinan positif hari ini agar tumbuh harapan positif akan masa depan. Kepercayaan diri Purbaya bahwa uang Rp200 triliun yang 'kecil' itu, bila diyakini bisa membawa dampak, bakal menumbuhkan ekspektasi rasional yang positif dan meyakinkan akan masa depan.

Jadi, jangan dilihat nilai dan ukurannya, tapi tengoklah efek psikologisnya dalam membentuk ekspektasi dan persepsi tentang masa depan ekonomi. Apalagi, ekonomi sangat bergantung pada persepsi karena keyakinan dan ekspektasi masyarakat dapat memengaruhi perilaku ekonomi mereka seperti konsumsi, investasi, dan pengambilan keputusan. Persepsi itu dapat berbeda antara individu, kelompok, atau bahkan pemerintah dan dapat menjadi faktor pendorong sekaligus penghambat perekonomian suatu negara.

Jika masyarakat merasa pesimistis tentang masa depan ekonomi, mereka cenderung menunda pembelian besar dan lebih memilih menabung, yang dapat menurunkan konsumsi secara keseluruhan. Persepsi tentang prospek pertumbuhan dan stabilitas ekonomi dapat memengaruhi keputusan investasi. Investor cenderung berinvestasi lebih banyak ketika mereka melihat prospek yang menjanjikan, dan sebaliknya.

Kiranya, apa yang 'dijejalkan' Purbaya akhir-akhir ini ialah ikhtiar membangun narasi keyakinan akan perekonomian kita. Pengalihan dana Rp200 triliun itu, meski ukurannya tak sejumbo kredit menganggur, bisa menjadi penyulut keyakinan, ekspektasi, dan membentuk persepsi positif bahwa pemerintah percaya diri.

Saat Purbaya terang-terangan menolak menggunakan dana APBN untuk menalangi utang kereta cepat Whoosh, itu bisa menciptakan persepsi positif di mata publik bahwa anggaran negara memang digunakan secara tepat dan hati-hati. Cara-cara seperti itu melahirkan kepercayaan. Gaya bicaranya memang ketus dan terkesan sinis. Namun, media dan para netizen yang budiman suka dengan gaya itu. Mereka menilai itu orisinal, terbuka, blakblakan, lugas, jujur, bukan gimik, bukan pencitraan.

Pertanyaannya, sampai kapan 'Purbaya punya gaya' dan 'efek Purbaya' itu konsisten dijalankan dan memanen hasil nyata? Tergantung seberapa sabar dan istikamahnya Purbaya, sebagaimana pesan Ali bin Abi Thalib: "Sabar dan konsisten ialah binatang tunggangan yang tidak pernah tergelincir."



Berita Lainnya
  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan