Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

Belajar dari Tas Ho Ching

04/10/2025 05:00
Belajar dari Tas Ho Ching
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PERISTIWA itu sudah berlangsung lama, sembilan tahun lalu. Para 'pelakon' peristiwa itu pun sudah pensiun dari posisi ibu negara masing-masing. Namun, relevansinya masih terus menembus waktu hingga kini. Bahkan, kisah itu kini viral lagi di media sosial di Indonesia.

Adalah Ho Ching, istri Perdana Menteri Singapura periode 2004-2024 Lee Hsien Loong, dan Michelle Obama (ibu negara dan istri Presiden Amerika Serikat Barack Obama) yang membetot perhatian. Mereka mendampingi suami masing-masing, saat kedua kepala negara bertemu di Gedung Putih pada Agustus 2016.

Penampilan Ho Ching menuai banyak pujian. Ketika berkunjung ke Gedung Putih dan bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan ibu negara Michelle Obama, Ho Ching yang ibu negara dari salah satu negara terkaya di Asia itu muncul dengan memakai tas yang dinilai harganya tak lebih dari Rp250 ribu.

Seperti dikutip dari Asian Correspondent, ketika itu, tas Ho Ching dijual hanya seharga US$14,80, atau sekitar Rp245 ribu, di toko online The Art Faculty milik Pathlight. Dalam sebuah acara resmi itu, ia memegang tas tangan biru sederhana, tidak ada merek yang dikenal dan tanpa desain mewah.

Media melihat dan segera mulai penasaran dengan penampilan Ho Ching, terutama ketika dibandingkan dengan keanggunan Michelle Obama, tuan rumah acara tersebut. Namun, apa yang terjadi di balik proses pembuatan tas itu, media di AS tidak banyak yang tahu. Di balik tas itu ada cerita yang terselip makna mendalam.

Ketika ditanya tentang tasnya, Ho Ching mengungkapkan dia telah membelinya hanya US$14 dari sebuah pameran kecil di Singapura. Namun, pameran itu bukan sembarang pameran, tidak seperti pameran lainnya.

Pameran tersebut khusus untuk siswa dengan autisme yang menawarkan produk buatan tangan, dukungan untuk bakat mereka, dan cara untuk membantu mereka mencari nafkah. Ho Ching berkata, "Tas sederhana di mata orang, tapi sangat berharga di mata saya karena dibuat seorang siswa berusia 19 tahun, yang menghabiskan banyak waktu dan usaha di dalamnya."

Tas berukuran kecil dengan motif dinosaurus tersebut dibuat Sheetoh Sheng Jie. Dialah penyandang autisme yang merupakan pelajar di Pathlight School, sekolah bagi siswa berkebutuhan khusus di Singapura. Kepala program seni Pathlight Loy Sheau-Mei pun memuji tindakan Ho yang membawa tas tersebut saat bertemu Michelle.

"Kami sangat terkejut dan merasa terhormat dia memilih tas itu untuk kunjungan kenegaraan. Hal ini menjadi batu lompatan bagi para seniman di Program Pengembangan Seniman dan barang dagangan di The Art Faculty," kata Loy.

Bukan sekadar membawa, Ho bercerita ihwal kisah di balik tas sederhananya itu. Dampak pernyataannya pun luar biasa. Penjualan pameran meningkat dari hanya beberapa tas menjadi lebih dari 200 tas per hari. Tas yang harganya tidak sampai US$11 itu pun menjadi sumber harapan dan dukungan untuk seluruh komunitas autis.

Dengan pembelian tas tersebut oleh ibu negara Singapura, siswa yang membuat tas itu pun juga mendapat royalti atas penjualan desain mereka dan untuk meningkatkan keterampilan seni mereka. Sebuah tindakan kecil itu pun berdampak sangat besar dan dikenang hingga kini.

Ho Ching sedang 'memamerkan' benda hasil kemampuan warganya yang berkebutuhan khusus. Ia bukanlah sosialita yang suka pamer dengan maksud negatif sebagaimana makna pamer dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia: pamer yang bermakna menunjukkan (mendemonstrasikan) sesuatu yang dimiliki kepada orang lain dengan maksud memperlihatkan kelebihan atau keunggulan untuk menyombongkan diri.

Saya menduga, kembali diviralkannya kisah sebuah tas sederhana yang digamit Ho Ching sembilan tahun lalu itu dimaksudkan untuk menyindir sikap kontras banyak sosialita kita hari-hari ini yang suka membawa tas bermerek dalam perjamuan atau arisan. Tas-tas yang ditenteng itu bernilai puluhan, bahkan ratusan, juta rupiah, entah untuk apa.

'Itu semacam pertunjukan tanpa empati'. Begitu kira-kira sindir sang pengunggah gambar dengan mengontraskannya lewat foto Ho Ching, ibu negara dengan pendapatan per kapita rakyatnya 15 kali lipat daripada pendapatan per kapita rakyat Indonesia.

Karena itu, ketika Ho Ching, yang ketika itu ibu negara dari salah satu negara terkaya di Asia, menenteng tas seharga Rp245 ribu, ia seperti anomali. Namun, di dunia ketika sebuah nilai kerap diukur dari penampilan dan merek, kisah nyata Ho Ching mengingatkan banyak orang bahwa bukan merek yang membuat orang dihormati dan punya nilai, melainkan perbuatan sesorang dalam hidup dan percaturan kehidupan.

Benar belaka kata suatu idiom bijak: Nilai sejati kita ialah apa yang kita tawarkan kepada orang lain dan memberikan dampak dalam kehidupan bagi orang lain walau dalam langkah sederhana. Bukan dari apa yang kita kenakan dan tampak di depan orang lain. Ho Ching menampar kita.



Berita Lainnya
  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.

  • Pertobatan Ekologis

    03/1/2026 05:00

    ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik

  • Tahun Lompatan Ekonomi

    02/1/2026 05:00

    SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.

  • Tahun Baru Lagi

    31/12/2025 05:00

    SETIAP pergantian tahun, banyak orang memaknainya bukan sekadar pergeseran angka pada kalender, melainkan juga jeda batin untuk menimbang arah perjalanan bersama.

  • Tunas Terempas

    30/12/2025 05:00

    SUARANYA bergetar nyaris hilang ditelan hujan deras pada senja pekan silam. Nadanya getir mewakili dilema anak muda Indonesia yang menjadi penyokong bonus demografi.  

  • SP3 Setitik Gadai Prestasi

    29/12/2025 05:00

    IBARAT nila setitik rusak susu sebelanga. Benarkah nila setitik bernama surat perintah penghentian penyidikan (SP3) mampu menggadaikan sebelanga prestasi KPK?