Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
KAKAK beradik ini tengah menjadi sorotan. Sorotan yang sayangnya bernada negatif lantaran keduanya dinilai telah melakukan sesuatu yang buruk. Keduanya ialah Gus Yahya dan Gus Yaqut.
Kedua gus itu bukan orang sembarangan. Keduanya keturunan ulama terkenal, KH Cholil Bisri, dan keponakan KH Mustofa Bisri atau Gus Mus. Gus Yahya dan Gus Yaqut pun tak kalah terkenal. Sang kakak, Gus Yahya, tak lain ialah Ketua Umum PBNU masa khidmat 2022-2027, sedangkan sang adik merupakan mantan Ketua Umum PP Gerakan Pemuda Ansor yang juga eks menteri agama.
Yahya Cholil Staquf, itulah nama lengkap Gus Yahya. Yaqut Cholil Qoumas, begitulah nama komplet Gus Yaqut. Kiprah keduanya di level nasional cukup diakui meski dengan sejumlah kontroversi. Kini, abang adek itu tengah menjadi atensi karena sikap dan perilaku mereka.
Kita tahu, Gus Yaqut sedang berurusan dengan KPK. Dia sedang harap-harap cemas dalam perkara dugaan patgulipat pembagian kuota haji tambahan 2024 ketika menjabat menag. Dia tentu berharap dinyatakan tak terlibat. Namun, dia bisa jadi juga cemas kalau sewaktu-waktu ditetapkan sebagai tersangka.
KPK sudah cukup lama, sejak 7 Agustus 2025, menaikkan penanganan kasus yang merugikan negara sekitar Rp1 triliun itu ke tahap penyidikan. Semoga mereka tak perlu berlama-lama lagi untuk menggelar jumpa pers dengan menyertakan orang-orang berompi oranye. Apakah Gus Yaqut termasuk di antaranya? Kita tunggu saja keberanian KPK.
Bagaimana dengan Gus Yahya? Dia juga tengah bermasalah. Tidak seberat Gus Yaqut, memang. Bukan persoalan hukum, apalagi korupsi, yang menjeratnya. Dia tengah menjadi 'musuh' sebagian anggota keluarga besar Universitas Indonesia. Juga di mata sebagian rakyat Indonesia. Kok bisa? Begini ceritanya.
Gus Yahya ialah Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) UI 2024-2029. Nah, berbekal jabatan itu, dia bikin orang marah ketika mengusulkan pengisi orasi ilmiah dalam Pengenalan Sistem Akademik Pascasarjana UI pada 23 Agustus lalu.
Menyodorkan pembicara sah-sah saja. Punya saran dan masukan ihwal siapa yang pantas memberikan pembekalan kepada para mahasiswa pun baik-baik saja. Persoalannya, yang Gus Yahya usulkan merupakan sosok tidak baik, sangat tidak baik. Latar belakangnya amat tidak patut untuk berbicara di forum tak hanya di UI, tapi juga di Indonesia. Dia ialah Peter Berkowitz.
Sebagai akademisi, mantan Direktur Staf Perencanaan Kebijakan AS 2019-2021 itu memang memperoleh banyak pengakuan. Akan tetapi, keberpihakannya amat sangat tak layak mendapatkan tempat. Berkowitz merupakan ilmuwan pendukung Zionis Israel. Pendukung kuat. Dia kerap menyuarakan pembelaan kepada Israel, negara kecil hasil rekayasa Inggris yang belakangan makin bengis kepada rakyat Palestina.
Guru besar Universitas Stanford itu kerap lantang bersuara menentang dukungan terhadap Palestina. Padahal, dunia bilang, Israel ialah penjajah dan Palestina negara jajahan. Bagaimana bisa seorang ilmuwan berpihak kepada penjajah, pelaku genosida pula? Bagaimana mungkin ilmuwan semacam itu justru diberi karpet merah di universitas sekelas UI?
Begitulah, masyarakat gerah. Mahasiswa memprotes keras langkah nan gegabah itu. Rektor UI Heri Hermansyah diteriaki 'Zionis' dalam wisuda dan penyambutan mahasiswa baru di Balairung UI, Depak, Kamis (11/9). UI memang sudah minta maaf. Mereka mengaku khilaf, kurang cermat, ihwal rekam jejak Berkowitz. Minta maaf memang baik, tapi itu tak lantas menjawab pertanyaan kenapa universitas sebergengsi UI ceroboh begitu sangat.
Pun dengan Gus Yahya. Setelah kecaman terus berdatangan, dia memohon maaf. Alasannya sama, dia lalai, tidak teliti, memeriksa latar belakang narasumber yang diusulkan. Dia menyesal telah membuat pimpinan UI, dosen, mahasiswa, tenaga pendidikan, dan alumni resah. Tak lupa, dalam permintaan maaf itu, dia menegaskan dukungannya kepada kemerdekaan Palestina.
Khilaf, kurang cermat. Itulah kalimat yang selalu terucap ketika pejabat meminta maaf. Benar-benar tidak tahukah Gus Yahya akan latar belakang Berkowitz? Banyak yang menyangsikan. Terlebih bukan di UI saja Gus Yahya menyediakan panggung buatnya. Di akademi kepemimpinan nasional NU 2025, Berkowitz juga dia undang. Demikian halnya pada forum agama G-20 2022.
Relasi panjang Gus Yahya dengan Israel membuat syak wasangka kian mengemuka. Kunjungannya ke negara Zionis dan bertemu dengan PM Benjamin Netanyahu pada 2018 menjadi catatan yang mustahil dilupakan. Entah apa tujuannya, publik tetap sulit menerima.
Sungguh keterlaluan ketika konstitusi kita menegaskan segala bentuk penjajahan harus dihapus dari muka bumi, akademisi pendukung penjajah malah diberi apresiasi. Memalukan nian tatkala banyak negara ramai-ramai memperlebar jarak dengan Israel dan pendukung mereka, di negara ini justru ada pihak yang dekat-dekat mereka.
Permintaan maaf Gus Yahya kiranya tak cukup. Petisi agar dia dicopot dari posisi Ketua MWA UI mendapat sambutan hangat. Hingga kemarin, petisi bertajuk Dukung Pencopotan Yahya Cholil Staquf dari Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia sejak 12 September itu sudah diteken lebih dari 3.440 orang.
Petisi punya alasan kuat. Ia dibuat untuk mencegah kejadian serupa terulang dan membersihkan nama besar UI dari afiliasi zionisme. Ia ditandatangani banyak orang agar sembilan nilai luhur UI, utamanya nilai keadilan dan kemartabatan, tak kembali tercoreng.
Kini kehormatan Gus Yahya dipertaruhkan. Kalau desakan pencopotan terus menguat, kenapa Kiai tak mundur saja? Bukankah itu lebih terhormat?
KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.
SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.
INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.
Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.
PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).
PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah
VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai
APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.
INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.
ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.
SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.
ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik
SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.
SETIAP pergantian tahun, banyak orang memaknainya bukan sekadar pergeseran angka pada kalender, melainkan juga jeda batin untuk menimbang arah perjalanan bersama.
SUARANYA bergetar nyaris hilang ditelan hujan deras pada senja pekan silam. Nadanya getir mewakili dilema anak muda Indonesia yang menjadi penyokong bonus demografi.
IBARAT nila setitik rusak susu sebelanga. Benarkah nila setitik bernama surat perintah penghentian penyidikan (SP3) mampu menggadaikan sebelanga prestasi KPK?
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved