Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Korupsi Harga Mati?

18/9/2025 05:00
Korupsi Harga Mati?
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

BENAR belaka ungkapan bahwa menunggu ialah pekerjaan membosankan. Menunggu butuh kesabaran, terlebih yang ditunggu lama tak kunjung datang. Itulah yang dialami banyak orang, termasuk saya, ihwal penetapan tersangka koruptor kuota haji tambahan di Kementerian Agama.

Korupsi memang tak pantas untuk dinanti. Ia aib yang semestinya tak terjadi. Namun, rasa penasaran plus geregetan kiranya mengalahkan yang seharusnya itu. Penasaran, siapa saja yang bakal menjadi tersangka. Geregetan, kok masih saja ada penjahat di Kemenag.

Sudah cukup lama KPK menyelidiki kasus rasuah pembagian kuota haji. Lebih dari satu bulan, tepatnya setelah memeriksa mantan Menag Yaqut Cholil Qoumas pada 7 Agustus 2025, penyidik meningkatkan penanganan perkara itu ke tahap penyidikan. Pun, para petinggi KPK berulang kali bilang bakal segera, selekasnya, menetapkan tersangka.

Dua hari lalu, juru bicara KPK Budi Prasetyo, misalnya, mengatakan pihaknya segera menyampaikan update penyidikan, termasuk menyampaikan pihak-pihak yang bertanggung jawab dan ditetapkan sebagai tersangka. Pekan lalu (10/9), Plt Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur Rahayu berjanji secepatnya menyudahi penasaran rakyat.

Bahkan sebelumnya, Minggu (17/8), Ketua KPK Setyo Budiyanto menargetkan pengumuman tersangka akan dilakukan secepatnya. "As soon as possible," kata dia. Namun, hingga kini, nama-nama tersangka masih tanda tanya.

Menetapkan tersangka memang tak boleh terburu-buru. Akan tetapi, publik juga tak ingin berlama-lama menunggu. Terlebih jika keterangan saksi dan barang bukti sudah cukup. Apalagi kalau indikasi begitu kuat bahwa telah terjadi korupsi.

Soal saksi, kiranya penyidik telah mendapatkan sangat banyak keterangan. Tidak sedikit pihak yang sudah diperiksa. Sebut saja Gus Yaqut, Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah Kemenag Hilman Latief, Ketua PBNU sekaligus staf Yaqut, Ishfah Abidal Aziz, dan Wakil Sekjen PP Gerakan Pemuda Ansor Syarif Hamzah Asyathry. Ada pula sejumlah pemilik agen perjalanan haji, termasuk penceramah Khalid Basalamah.

Penggeledahan juga sudah dilakukan di beberapa tempat. Barang bukti yang disita seabrek. Ke mana saja uang mengalir pun sudah diketahui dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Demikian halnya nilai kerugian negara akibat praktik kotor itu sekitar Rp1 triliun.

Itu jumlah yang besar, sangat besar. Belum kalau kita hitung kerugian para calon jemaah haji reguler yang semestinya bisa berangkat pada 2024 jika kuota tambahan dialokasikan sesuai dengan aturan.

Menurut KPK, perkara itu muncul karena Yaqut membuat Surat Keputusan Menteri Agama No 130/2024 perihal pembagian kuota tambahan haji setelah ada permintaan atau lobi dari asosiasi haji kepada Kemenag. Dia tetapkan, dari 20 ribu kuota dibagi rata, 10 ribu untuk haji reguler dan 10 ribu untuk haji khusus.

Padahal, Pasal 64 ayat 2 UU Nomor 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah jelas dan tegas mengatur alokasi haji khusus ialah 8% dari kuota haji Indonesia. Selebihnya, atau 92%, diperuntukkan haji reguler.

Celakanya lagi, diduga ada hanky-panky di balik pembagian kuota yang bertentangan dengan UU itu. Nilainya gila-gilaan. Untuk satu kuota haji khusus dari kuota tambahan dijual di atas Rp100 juta. Bahkan mencapai Rp300 juta. Yang berangkat saat itu juga atau furoda malah menyentuh hampir Rp1 miliar. Edan.

Korupsi memang bukan hal baru di negeri ini. Tiada lagi sektor yang steril. Semua terpapar. Di mana pun, lembaga apa pun, korupsi ialah perbuatan laknat. Siapa pun pelakunya, korupsi tindakan terkutuk. Namun, ketika korupsi terjadi dan dilakukan pejabat Kemenag, dosanya kuadrat. Sontoloyo, setan alas, jancuk, cukimay. Maaf, umpatan kasar itu rasanya kok pantas buat mereka.

Kembali rasa penasaran kita, siapa saja tersangka koruptor kuota haji? Yang paling menjadi atensi ialah Gus Yaqut. Dia dianggap paling bertanggung jawab. Asep Guntur pernah memberikan isyarat bahwa Gus Men (sapaan Yaqut saat menjabat menteri) diduga menerima aliran dana haram.

Kata Asep, pucuk pimpinan kalau direktorat ya direktur, di kedeputian ya deputi, kalau di kementerian, ujungnya ya menteri. Nah.

Kalau benar jadi tersangka, Gus Yaqut bakal mengikuti jejak kotor dua menag sebelumnya, yakni Said Agil Husin Al Munawar dan Suryadharma Ali.

Said Agil korupsi dana abadi umat dan biaya penyelenggaraan haji 1999-2003, sedangkan Suryadharma korupsi dana haji 2014. Kalau betul jadi tersangka dan divonis bersalah, Gus Yaqut bakal dikenang sebagai sosok yang suka beretorika antikorupsi, tapi ujung-ujungnya korupsi.

Saat menjabat Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor, Yaqut kerap menyuarakan semangat antikorupsi. Pun ketika menjadi menag, dia selalu mengingatkan jajarannya untuk tak main-main dengan korupsi.

Tatkala menjadi pemimpin Banser, Yaqut tiada henti menggelorakan kesetiaan pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ansor, Banser, NU, tegas dia, tak setitik pun kecintaannya pada NKRI akan luntur. Dia dikenal garang terhadap pihak-pihak yang menurut versinya tak loyal pada NKRI, yang antikeberagaman, yang anti-Pancasila.

Saking cintanya pada NKRI, Gus Yaqut pernah membuat unggahan di Facebook pada Desember 2018. Dia berpose dengan sang istri lalu melengkapi dengan narasi; 'Apa yang mempersamakan Isteri dan NKRI? Harga Mati'. Pandangan dan sikapnya juga diramu dalam buku Gus Yaqut: Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia yang ditulis Tim Ansor Channel. Oleh pengikutnya, Yaqut dilabeli 'si Paling Antikorupsi' dan 'si Paling NKRI'.

Yang saya tahu, antikorupsi percuma jika cuma retorika. Yang saya pahami, setia pada NKRI tak cukup dalam orasi. Korupsi jelas bukan wujud cinta, sayang, dan kesetiaan pada NKRI. Ironis betul jika NKRI harga mati berubah menjadi korupsi harga mati. Apakah Gus Yaqut tipe orang seperti itu? Ayo KPK, segera umumkan para tersangka koruptor kuota haji.



Berita Lainnya
  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.

  • Pertobatan Ekologis

    03/1/2026 05:00

    ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik

  • Tahun Lompatan Ekonomi

    02/1/2026 05:00

    SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.

  • Tahun Baru Lagi

    31/12/2025 05:00

    SETIAP pergantian tahun, banyak orang memaknainya bukan sekadar pergeseran angka pada kalender, melainkan juga jeda batin untuk menimbang arah perjalanan bersama.

  • Tunas Terempas

    30/12/2025 05:00

    SUARANYA bergetar nyaris hilang ditelan hujan deras pada senja pekan silam. Nadanya getir mewakili dilema anak muda Indonesia yang menjadi penyokong bonus demografi.  

  • SP3 Setitik Gadai Prestasi

    29/12/2025 05:00

    IBARAT nila setitik rusak susu sebelanga. Benarkah nila setitik bernama surat perintah penghentian penyidikan (SP3) mampu menggadaikan sebelanga prestasi KPK?