Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

Omon-Omon Dulu, Maaf Kemudian

15/9/2025 05:00
Omon-Omon Dulu, Maaf Kemudian
Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

ADA tiga kata mengandung sihir dalam membangun relasi, yaitu tolong, terima kasih, dan maaf. Kata maaf perlahan-lahan kehilangan daya magisnya ketika sering diucapkan para pejabat.

Disebut kehilangan daya magis karena sudah terlalu sering pejabat meminta maaf atas ucapan dan tindakan mereka. Saking seringnya, masyarakat juga sudah bosan mendengarkan permintaan maaf itu.

Apalagi, maaf yang diucapkan pejabat sekadar kata-kata manis, basa-basi, untuk tujuan pencitraan. Padahal, kata Marsha L Wagner, ungkapan meminta maaf antara lain berfungsi memulihkan keharmonisan sosial.

Keharmonisan sosial belakangan ini terkoyak gara-gara lisan dan laku pejabat yang tidak berempati kepada masyarakat. Pejabat sudah lupa dengan peribahasa ‘sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna’. Artinya, pikirkan lisan dan laku secara matang sebelum diucapkan atau dilakukan. Akal mendahului lisan dan laku.

Itu nasihat bijak bestari agar pejabat mampu menjaga mulut dan lidah sehingga terhindar dari malapetaka. Menjaga lisan dan laku sangat penting bagi seorang pejabat pada era kemajuan teknologi komunikasi. Kecanggihan teknologi digital memungkinkan masyarakat merekam dengan ponsel pintar setiap ucapan dan tindakan pejabat.

Kiranya pejabat senantiasa mengasah kemampuan komunikasi dengan publik secara cerdas, bijaksana, dan memberikan pengharapan. Presiden Prabowo Subianto lebih dari sekali meminta para pejabat memperbaiki komunikasi publik. Permintaan Prabowo itu belum sepenuhnya dipenuhi.

Pejabat jangan merasa benar sendiri, apalagi menantang rakyat. Ia dituntut berempati pada masyarakat yang tengah mengalami persoalan serius terkait dengan asap dapur. Fakta menunjukkan kesalahan komunikasi memantik letupan menjadi gejolak.

Bisa jadi para pejabat itu hanya ingin bercanda meski candaan mereka tidak lucu. Boleh jadi pula pejabat bermain gaple melepas kepenatan. Candaan atau main gaple di ruang terbuka direkam ponsel pintar warga kemudian diunggah ke media sosial menjadi viral. Muncul narasi pejabat tidak berempati.

Ucapan pejabat kerap lebih berbahaya ketimbang kebijakan mereka. Kesalahan kata yang diucapkan ibarat percikan api di tumpukan jerami kering langsung terbakar. Demonstrasi yang meluas belakangan ini justru dipicu kata-kata nirempati.

Meski demikian, kita tetap memberikan apresiasi kepada pejabat yang meminta maaf atas laku dan lisan mereka. Kasus laku yang berujung permintaan maaf, misalnya penggunaan kop surat kementerian/lembaga untuk kepentingan pribadi. Ada juga menteri yang ketahuan bermain domino bersama mantan tersangka pembalakan liar.

Terus terang permintaan maaf terkait dengan tutur dan laku sudah banyak dilakukan pejabat negara di jajaran eksekutif dan legislatif. Jangan-jangan pejabat terinspirasi celetukan anak muda di medsos lebih baik minta maaf daripada minta izin, lebih baik minta maaf ketimbang menjaga mulut.

Minggu lalu dalam sehari, tepatnya 9 September 2025, dua menteri menyampaikan permintaan maaf. Mereka minta maaf di Istana Negara. Pangkal soalnya ialah lisan yang terus menjauhi perbuatan sehingga integritas terusik.

Integritas dan kepribadian yang baik menjadi salah satu syarat menjadi menteri. Syarat itu tercantum dalam Pasal 22 UU 39/2008, terakhir diubah dengan UU 61/2024, tentang Kementerian Negara. Syarat itu masih jauh panggang dari api.

Faktor integritas sangat dijunjung di belahan lain dunia ini seperti Jepang. Menteri Pertanian Jepang Taku Eto, misalnya, mengundurkan diri setelah pernyataannya tentang ‘hadiah beras’ memantik kontroversi.

“Saya membuat pernyataan yang sangat tidak pantas pada saat rakyat sedang menderita karena harga beras yang melonjak. Tidak pantas bagi saya untuk tetap menjabat,” kata Eto setelah menyerahkan pengunduran dirinya di Kantor Perdana Menteri di Tokyo, Jepang, pada 21 Mei 2025.

Eto mundur dari jabatannya karena mengeluarkan pernyataan yang tidak pantas pada saat rakyatnya sedang menderita. Lain Jepang lain pula Indonesia yang semua bisa diselesaikan secara adat, yaitu meminta maaf. Bangsa ini bisa disebut sebagai bangsa pemaaf dan pelupa, mudah memaafkan mudah pula melupakannya.

Angkat dua jempol untuk Rahayu Saraswati. Ia patut diteladani karena berani berbuat, berani pula bertanggung jawab. Ia mengundurkan diri sebagai anggota DPR pada 10 September 2025. Keputusan pengunduran dirinya itu diunggah dalam video di akun Instagram pribadinya.

Sara, begitu ia disapa, menjelaskan alasan pengunduran dirinya akibat ucapan kontroversialnya dalam sebuah siniar di media nasional pada Februari 2025. Potongan siniar itu viral dan mendapat kritik dari warganet pada Agustus 2025. Sara pun memilih mundur karena potongan siniar itu dinilai menyakiti hati masyarakat.

Bangsa ini sangat merindukan kehadiran pejabat seperti Bung Hatta yang menjadi simbol satunya kata dengan perbuatan. Jangan sampai terjadi, seperti yang ditulis Bung Hatta dalam Demokrasi Kita, 'Seorang menteri ditugaskan partainya untuk melakukan tindakan-tindakan yang memberi keuntungan bagi partainya'.

Tiba saatnya para pejabat negara menampilkan diri dan berperan sebagai negarawan, jangan keasyikan membenamkan diri menjadi politikus-politikus. Pejabat yang politikus sering lidahnya tergelincir, omon-omon dulu minta maaf kemudian.



Berita Lainnya
  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.