Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

Plaza Demokrasi Saatnya Dibangun

08/9/2025 05:00
Plaza Demokrasi Saatnya Dibangun
Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

APAKAH teriakan 1.000 demonstran di depan pintu gerbang DPR bisa terdengar sampai kantor anggota DPR? Seorang warganet menghitung dengan rumusan fisika. Hasilnya, suara 1.000 orang itu hanya terdengar seperti suara AC. Teriakan 1 miliar orang baru mampu menembus peredam dinding ruangan anggota DPR.

Anggota DPR berkantor di Gedung Nusantara I DPR. Gedung 23 lantai itu tinggi menjulang di antara tujuh bangunan lainnya. Letaknya paling belakang, sekitar 800 meter dari pintu gerbang utama di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat.

Pintu gerbang utama itu setinggi 5 meter dan diapit pagar sepanjang 523 meter dengan tinggi 4 meter. Pembangunan pagar bagian depan senilai Rp1,914 miliar itu bertujuan menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi penghuninya meski memisahkan rakyat yang berdemonstrasi dari wakil mereka.

Wajar saja bila anggota DPR tidak pernah mendengarkan suara yang berteriak sampai urat leher putus di depan pintu gerbang. Para wakil rakyat sibuk bekerja di ruangan berpendingin udara, sedangkan para demonstran tetap berada di bawah terik matahari.

Dibutuhkan solusi cerdas dan bijaksana agar suara demonstran bisa didengarkan anggota DPR. Jangan biarkan para demonstran berteriak di bawah panas terik matahari dan ujung-ujungnya demo damai berubah menjadi kerusuhan.

Unjuk rasa yang berujung pada kerusuhan pasti menimbulkan kerugian ekonomi, kerugian sosial, dan kerugian politik. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan kerugian akibat kekisruhan demo pekan lalu senilai Rp55 miliar.

Kiranya DPR perlu menghadirkan ruang demonstrasi di dalam kompleks parlemen seluas 80 hektare itu. Ruang demonstrasi itu menjadi ruang publik yang oleh Juergen Habermas dimaksudkan sebagai ruang bebas berekspresi (freedom of speech) bagi seluruh ide dan gagasan, tempat rakyat bisa bebas berkumpul, berpendapat, dan berekspresi.

Ruang publik yang dicita-citakan Habermas mengedepankan adanya dialog dalam kesetaraan, menekankan tindakan komunikatif dalam praksis demokrasi. Negara harus mengartikulasikan aspirasi masyarakat di ruang publik, termasuk dalam bentuk demonstrasi, sehingga negara tidak kehilangan otoritas moralnya.

Demonstrasi, menurut UU 9/1998, ialah kegiatan yang dilakukan seorang atau lebih untuk mengeluarkan pikiran dengan lisan, tulisan, dan sebagainya secara demonstratif di muka umum. Akan tetapi, menurut Pasal 9 ayat (2) UU 9/1998, itu dapat dilakukan di tempat-tempat terbuka untuk umum dengan pengecualian seperti di lingkungan istana kepresidenan.

Memang tidak tersurat larangan demonstrasi di jalan raya. Namun, Pasal 6 huruf a UU 9/1998 mengatur agar demonstran menghormati hak-hak dan kebebasan orang lain. Karena itu, penting bagi DPR menyiapkan ruangan terbuka untuk demonstran di dalam kompleks parlemen. Manfaat lainnya ialah anggota DPR bisa menyaksikan dari dekat dan mendengarkan tuntutan demonstran.

Sudah lama DPR menggagas pembangunan alun-alun demokrasi alias plaza demokrasi. Rencana itu tertuang dalam dokumen laporan Rancangan Rencana Strategis DPR 2015-2019. Plaza demokrasi itu menjadi tempat yang manusiawi bagi masyarakat menyampaikan aspirasi. Bukankah DPR bertugas menyerap, menghimpun, menampung, dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat?

'Pembangunan alun-alun demokrasi dapat menjadi salah satu tempat untuk menampung aktivitas tersebut dengan memperhatikan lokasi yang memiliki latar ikon Gedung DPR RI yang mampu memuat 10.000 demonstran dan 100 bus, terbuka, tidak mengganggu lalu lintas, tersedia panggung orasi, tidak mengganggu kerja anggota DPR RI, dan aman', demikian tertulis di halaman 69 dokumen itu.

Alun-alun demokrasi, disebut juga sebagai plaza demokrasi, hingga kini masuk proyek mangkrak. Pembangunan alun-alun itu diresmikan pada 21 Mei 2015 oleh Ketua DPR (saat itu) Setya Novanto. Letaknya di sisi kiri kompleks parlemen, yang saat itu dijadikan sebagai Taman Rusa, lapangan futsal, dan tempat parkir kendaraan. Dibangun di atas 20 hektare lahan.

Buku Memori DPR RI Periode 2014-2019 juga mencantumkan rencana pembangunan alun-alun demokrasi di halaman 78. Disebutkan pentingnya pembangunan alun-alun demokrasi. Masyarakat secara legal diberi tempat untuk melakukan demonstrasi. Hal itu akan sangat berperan dalam sempitnya tata ruang Ibu Kota sehingga demonstrasi sebagai ciri khas negara demokrasi tidak lagi dilakukan di jalan raya yang mengganggu pengguna jalan.

Pembangunan alun-alun demokrasi masuk APBN 2018, tetapi anggaran belum cair karena tidak disetujui Presiden Joko Widodo. Pada anggaran 2019 diusulkan Rp281,58 miliar untuk alun-alun demokrasi, lagi-lagi dana tidak cair. Rencana pembangunan alun-alun demokrasi terbengkalai hingga kini.

Plaza demokrasi yang akan dibangun di dalam kompleks parlemen memungkinkan kegiatan demonstran lebih tertata tanpa mengganggu kepentingan umum. Paling penting lagi, DPR dan rakyat semakin dekat. Suara demonstran bisa didengar wakil mereka.

Aspirasi rakyat yang disampaikan di plaza demokrasi mesti ditindaklanjuti DPR. Jangan masuk telinga kanan keluar telinga kiri seperti biasanya selama ini.

Bila perlu, Badan Keahlian DPR ditugasi bersama anggota dewan untuk mencatat, merumuskan, dan mencarikan solusi strategis atas semua aspirasi yang disuarakan di plaza demokrasi. Aspirasi itu bisa ditindaklanjuti dalam pembuatan undang-undang atau menjadi bahan pengawasan legislatif atas eksekutif. Itulah bentuk nyata demokrasi substansial, bukan demokrasi seolah-olah.

Elok nian bila plaza demokrasi dibangun di banyak tempat di Ibu Kota, termasuk di depan Istana Negara. Bila perlu, daerah pun mempertimbangkan untuk membangun plaza demokrasi agar masyarakat menyalurkan kritik secara beradab.



Berita Lainnya
  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.