Headline

Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%

Membaca Tanda-Tanda

03/9/2025 05:00
Membaca Tanda-Tanda
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PADA saat udara serbaabu-abu, ketika polusi knalpot dan asap batu bara berkelindan dengan gas air mata, ketika pekik tuntutan bergelut dengan permintaan maaf, saya teringat dengan sajak Taufik Ismail berjudul Membaca Tanda-Tanda. Bedanya, tanda-tanda yang disebutkan Taufik Ismail dalam sajaknya itu terkait erat dengan bencana, sedangkan tanda-tanda yang saya kenali akhir-akhir ini ialah tumpukan keresahan sebagian besar publik yang terus disangkal para pengemban amanatnya.

Tumpukan keresahan itu seperti membentur dinding. Terus menatap tembok, hampir tidak menemukan pintu kanalisasi. Karena itu, tumpukan itu pun menjelma menjadi bisul yang membengkak. Ia menunggu senggolan sedikit saja untuk pecah. Dalam situasi seperti itu, banyak pula yang mulai mengambil peran macam-macam, tapi hampir tak ada yang berusaha mengobati sang bisul bengkak. Malah, yang ada ialah para pembawa jarum yang diam-diam menusuk bisul itu hingga akhirnya benar-benar pecah.

Laiknya bisul yang pecah, perihnya pun minta ampun. Sakitnya menembus saraf-saraf yang paling halus. Alih-alih diobati, luka bisul itu malah ditusuk-tusuk. Jadilah orkestrasi rasa sakit. Muncullah perasaan terluka di mana-mana. Para penusuk itu tidak dikenali orang-orangnya, tapi bisa samar-samar dieja tanda-tandanya.

Ingatan saya kembali seperti saat gunung berapi meletus, dan Taufik Ismail mengingatkan adanya tanda-tanda lewat sajaknya. Ia pun menulis:

'Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan

dan meluncur lewat sela-sela jari kita

 

Ada sesuatu yang mulanya tidak begitu jelas

tapi kita kini mulai merindukannya

 

Kita saksikan udara abu-abu warnanya

Kita saksikan air danau yang semakin surut jadinya

Burung-burung kecil tak lagi berkicau pergi hari

 

Hutan kehilangan ranting

Ranting kehilangan daun

Daun kehilangan dahan

Dahan kehilangan hutan

 

Kita saksikan zat asam didesak asam arang

dan karbon dioksida itu menggilas paru-paru

 

Kita saksikan

Gunung membawa abu

Abu membawa batu

Batu membawa lindu

Lindu membawa longsor

Longsor membawa air

Air membawa banjir

Banjir air mata

 

Kita telah saksikan seribu tanda-tanda

Bisakah kita membaca tanda-tanda?

 

Demikianlah, ketika tumpukan keresahan rakyat itu menggunung, membengkak menjadi bisul pecah, sebagian dari sajak Taufik Ismail itu sepertinya bisa kita sadur dengan tulisan serupa:

Kita saksikan rakyat bersuara lantang 'mana beras kami?' Lalu, pejabat menjawab: beras kita surplus, makanan kita melimpah, kita sedang swasembada.

Kita saksikan sebagian rakyat berteriak, 'beras raib dari rak-rak toko'. Pejabat menjawab: kami akan banjiri pasar-pasar, toko-toko dengan stok beras kami. Saat rakyat bertanya 'mengapa harga beras melambung tinggi?' Pejabat menjawab: kita tidak sendiri. Di negara tetangga sebelah, harga beras lebih tinggi.

Kita saksikan ketika banyak orang mengeluhkan daya beli dan seretnya ekonomi, pejabatnya bilang: ekonomi kita cukup resilien, daya beli masih terjaga, pertumbuhan masih stabil, angka kemiskinan menurun, tenaga kerja masih terserap, rasio utang kita masih aman, fiskal kita terjaga. Karena fiskal terjaga, tunjangan bisa diberikan.

Andaikan rupa-rupa keresahan itu ditangkap sebagai tanda-tanda, lalu dijawab dengan tindakan nyata secepatnya, mungkin kita tidak akan mendapati tensi saling merusak seperti sekarang ini. Jadi, apa yang saya saksikan hari-hari ini sepertinya merupakan cermin kegagapan pengemban amanat dalam membaca tanda-tanda. Banyak yang menyangkal bahwa bisul sudah membengkak, sembari berkata, "Ah, itu masih bisa dioles pakai salep."

Begitu ternyata yang ada adalah bisul bengkak yang pecah, kita baru meratapi sembari bertanya, "Mengapa kami tidak mengenali bisul itu?" Taufik Ismail melanjutkan sajaknya:

'Allah

Kami telah membaca gempa

Kami telah disapu banjir

Kami telah dihalau api dan hama

Kami telah dihujani api dan batu

 

Allah

Ampunilah dosa-dosa kami

Beri kami kearifan membaca tanda-tanda

 

Karena ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan

akan meluncur lewat sela-sela jari

 

Karena ada sesuatu yang mulanya tak begitu jelas

tapi kini kami mulai merindukannya'.

 

Kiranya peristiwa akhir-akhir ini mestinya cukup untuk jadi evaluasi: apakah kita masih akan gagap membaca tanda-tanda? Apakah penyangkalan akan diteruskan menjadi gaya dan irama, tapi dimodifikasi sedemikian rupa? Apakah bisul-bisul yang pecah itu kita biarkan bernanah lalu menjadi infeksi?



Berita Lainnya
  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.