Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

Membaca Tanda-Tanda

03/9/2025 05:00
Membaca Tanda-Tanda
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PADA saat udara serbaabu-abu, ketika polusi knalpot dan asap batu bara berkelindan dengan gas air mata, ketika pekik tuntutan bergelut dengan permintaan maaf, saya teringat dengan sajak Taufik Ismail berjudul Membaca Tanda-Tanda. Bedanya, tanda-tanda yang disebutkan Taufik Ismail dalam sajaknya itu terkait erat dengan bencana, sedangkan tanda-tanda yang saya kenali akhir-akhir ini ialah tumpukan keresahan sebagian besar publik yang terus disangkal para pengemban amanatnya.

Tumpukan keresahan itu seperti membentur dinding. Terus menatap tembok, hampir tidak menemukan pintu kanalisasi. Karena itu, tumpukan itu pun menjelma menjadi bisul yang membengkak. Ia menunggu senggolan sedikit saja untuk pecah. Dalam situasi seperti itu, banyak pula yang mulai mengambil peran macam-macam, tapi hampir tak ada yang berusaha mengobati sang bisul bengkak. Malah, yang ada ialah para pembawa jarum yang diam-diam menusuk bisul itu hingga akhirnya benar-benar pecah.

Laiknya bisul yang pecah, perihnya pun minta ampun. Sakitnya menembus saraf-saraf yang paling halus. Alih-alih diobati, luka bisul itu malah ditusuk-tusuk. Jadilah orkestrasi rasa sakit. Muncullah perasaan terluka di mana-mana. Para penusuk itu tidak dikenali orang-orangnya, tapi bisa samar-samar dieja tanda-tandanya.

Ingatan saya kembali seperti saat gunung berapi meletus, dan Taufik Ismail mengingatkan adanya tanda-tanda lewat sajaknya. Ia pun menulis:

'Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan

dan meluncur lewat sela-sela jari kita

 

Ada sesuatu yang mulanya tidak begitu jelas

tapi kita kini mulai merindukannya

 

Kita saksikan udara abu-abu warnanya

Kita saksikan air danau yang semakin surut jadinya

Burung-burung kecil tak lagi berkicau pergi hari

 

Hutan kehilangan ranting

Ranting kehilangan daun

Daun kehilangan dahan

Dahan kehilangan hutan

 

Kita saksikan zat asam didesak asam arang

dan karbon dioksida itu menggilas paru-paru

 

Kita saksikan

Gunung membawa abu

Abu membawa batu

Batu membawa lindu

Lindu membawa longsor

Longsor membawa air

Air membawa banjir

Banjir air mata

 

Kita telah saksikan seribu tanda-tanda

Bisakah kita membaca tanda-tanda?

 

Demikianlah, ketika tumpukan keresahan rakyat itu menggunung, membengkak menjadi bisul pecah, sebagian dari sajak Taufik Ismail itu sepertinya bisa kita sadur dengan tulisan serupa:

Kita saksikan rakyat bersuara lantang 'mana beras kami?' Lalu, pejabat menjawab: beras kita surplus, makanan kita melimpah, kita sedang swasembada.

Kita saksikan sebagian rakyat berteriak, 'beras raib dari rak-rak toko'. Pejabat menjawab: kami akan banjiri pasar-pasar, toko-toko dengan stok beras kami. Saat rakyat bertanya 'mengapa harga beras melambung tinggi?' Pejabat menjawab: kita tidak sendiri. Di negara tetangga sebelah, harga beras lebih tinggi.

Kita saksikan ketika banyak orang mengeluhkan daya beli dan seretnya ekonomi, pejabatnya bilang: ekonomi kita cukup resilien, daya beli masih terjaga, pertumbuhan masih stabil, angka kemiskinan menurun, tenaga kerja masih terserap, rasio utang kita masih aman, fiskal kita terjaga. Karena fiskal terjaga, tunjangan bisa diberikan.

Andaikan rupa-rupa keresahan itu ditangkap sebagai tanda-tanda, lalu dijawab dengan tindakan nyata secepatnya, mungkin kita tidak akan mendapati tensi saling merusak seperti sekarang ini. Jadi, apa yang saya saksikan hari-hari ini sepertinya merupakan cermin kegagapan pengemban amanat dalam membaca tanda-tanda. Banyak yang menyangkal bahwa bisul sudah membengkak, sembari berkata, "Ah, itu masih bisa dioles pakai salep."

Begitu ternyata yang ada adalah bisul bengkak yang pecah, kita baru meratapi sembari bertanya, "Mengapa kami tidak mengenali bisul itu?" Taufik Ismail melanjutkan sajaknya:

'Allah

Kami telah membaca gempa

Kami telah disapu banjir

Kami telah dihalau api dan hama

Kami telah dihujani api dan batu

 

Allah

Ampunilah dosa-dosa kami

Beri kami kearifan membaca tanda-tanda

 

Karena ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan

akan meluncur lewat sela-sela jari

 

Karena ada sesuatu yang mulanya tak begitu jelas

tapi kini kami mulai merindukannya'.

 

Kiranya peristiwa akhir-akhir ini mestinya cukup untuk jadi evaluasi: apakah kita masih akan gagap membaca tanda-tanda? Apakah penyangkalan akan diteruskan menjadi gaya dan irama, tapi dimodifikasi sedemikian rupa? Apakah bisul-bisul yang pecah itu kita biarkan bernanah lalu menjadi infeksi?



Berita Lainnya
  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.