Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
PADA Kamis (29/8) malam, langit Pejompongan, Jakarta, tiba-tiba gelap. Duka mengiris-iris saat seorang pengendara Gojek bernama Affan Kurniawan tewas dilindas kendaraan taktis yang melaju kencang di tengah kerumunan. Di dalam mobil itu, ada aparat Brimob. Tujuh orang jumlahnya.
Kini, ketujuhnya jadi tersangka. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo meminta maaf atas perilaku beringas anak buahnya. Ia pun mengunjungi orangtua Affan di RSCM Jakarta, beberapa jam setelah kepergian Affan, sang tulang punggung keluarga itu, untuk selama-lamanya. Listyo memeluk sang ayah yang hatinya hancur seperti tubuh yang dilindas.
Ikut mendampingi Kapolri, dua perwira tinggi bintang dua: Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi dan Kadiv Propam Polri Irjen Abdul Karim. Keduanya juga meminta maaf sembari menegaskan sudah dan terus mengusut tindakan brutal anak buah mereka, yang di negara totaliter pun tidak terjadi aksi aparat melindaskan mobil kepada rakyat yang mengongkosi negaranya.
Menyaksikan kenyataan getir pelindasan itu dari layar gawai membuat saya sedih. Hati saya ikut remuk. Tak kuasa saya melihat pelindasan itu untuk kali kedua di gawai saya. Kegundahan saya lalu saya tumpahkan dalam coretan sajak, yang saya beri judul Mobilmu Melindas Tubuhmu Sendiri. Sembari menatap layar kaca Breaking News Metro TV, saya menulis:
'Mobilmu melindas tubuhmu sendiri
Kau bayar pajak, kau ongkosi mereka
Kau belikan mereka barracuda atau kendaraan taktis namanya
Tapi kau dilindas oleh mobilmu sendiri hingga jiwa tercabut dari ragamu
menghentikan peluhmu, mengistirahatkan tulang dan punggungmu untuk selama-lamanya
bahkan di saat engkau masih belia
Mobilmu melindas jiwa dan ragamu sendiri
Di tanahmu, oleh mereka yang kau ongkosi
oleh mereka yang engkau suapi
oleh mereka yang engkau suguhi minum
Semua kemurahanmu dibalas kepongahan
Ikhtiar kerasmu di jalan, mereka hentikan di jalan
hingga kau tak bisa lagi mengukur jalanan
Mobilmu melindas badanmu sendiri
hingga darah tumpah
hingga napasmu berhenti
oleh mereka yang kau ongkosi
yang kau bayar bajunya, seragamnya, sepatunya, sabuknya, kaus kakinya, pakaian dalammya, hingga kendaraan gagahnya
Tapi kau diempaskannya, ditabraknya, dilindasnya oleh mereka yang kau ongkosi
Oleh mereka yang kau beri kemurahan rezekimu
Apakah gulita memang nyata?
Apakah gelap terus merayap?
Apakah parade kata maaf telah mengganti tanggung jawab?
Apakah air susu terus dibalas air tuba?
Gemuruh maaf menggantikan tanggung jawab yang kian sunyi
Mobilmu melindas tubuhmu sendiri
Ada darah yang tumpah oleh tindakan pongah
Ada jiwa yang mati direnggut anak bangsanya sendiri
Air mata, darah, dan marah bertaut
Mengejar mobilmu yang melaju
Hendak melucuti pakaian-pakaian yang engkau ongkosi
Agar kematian tak berhenti menjadi kabar duka
Saya teringat pesan Nabi: Cukuplah kematian sebagai peringatan
Tapi apakah pesan itu didengar oleh yang tuli?
Akankah yang buta melihat tulisan seruan itu?
Wahai sang pelindas, aku tak tahu mengapa kebrutalan menghiasi dadamu
Mestinya, dari punggungmu muncul jejak pelayanan
Dari tetesan keringatmu mengalir bulir-bulir perlindungan
Dari tanganmu mengulur getaran cinta dan pengayoman
Engkau mestinya melayani, mengayomi, melindungi
Mobilmu melindas tubuhmu sendiri
Affan, kepergianmu menegaskan di Republik ini kematian tak selamanya datang dari ajal
tapi bisa dari mesin kekuasaan yang hilang ingatan
bahwa yang mereka lindas bukan jalanan, melainkan martabat manusia dan kemanusiaan
Mobilmu melindas tubuhmu sendiri
Mengirimmu ke liang lahad
Menguar duka semesta
Dari kuburmu yang basah oleh air mata keheranan, pekikmu bertalu-talu
Mengusik tidur malam para pelindasmu
Menagih maaf berganti tanggung jawab
agar peringatan kematianmu terus menyerbu, menusuk, melindas kepongahan dan hati yang beku
Mobilmu melindas tubuhmu sendiri
Mengantarmu tidur panjang ke surga keabadian
Engkau sudah menuntaskan tugasmu
menyelesaikan orderan terakhirmu
Engkau tidak lagi membutuhkan bintang lima
karena engkau telah mendapatkan seluruh bintang yang indah di malam kematianmu
Kami bersimpuh dan berdoa dalam gemeretak gigi-gigi kami yang beradu: Yaa Rabb... lindungi kami dari kezaliman yang melindas
Kuatkan kami agar tak kalut dalam kebencian
Bukakan pintu surga-Mu untuk Affan yang kembali ke pangkuan-Mu'
Untuk Affan, surgalah di tanganmu Tuhan-lah di sisimu. Kembalilah kepada Sang Pemilik Kehidupan sebagai jiwa yang tenang, dengan rela dan direlakan. Semoga negeri ini lebih bisa menghargai manusia dan kemanusiaan. Semoga tanggung jawab kian ramai dan kata maaf makin sunyi karena semua sudah presisi, karena semua menggunakan hati.
REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.
KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.
SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.
INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.
Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.
PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).
PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah
VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai
APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.
INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.
ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.
SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.
ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik
SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.
SETIAP pergantian tahun, banyak orang memaknainya bukan sekadar pergeseran angka pada kalender, melainkan juga jeda batin untuk menimbang arah perjalanan bersama.
SUARANYA bergetar nyaris hilang ditelan hujan deras pada senja pekan silam. Nadanya getir mewakili dilema anak muda Indonesia yang menjadi penyokong bonus demografi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved