Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Lee Kuan Yew

24/3/2015 00:00
Lee Kuan Yew
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

INI sungguh pemandangan tak lazim. Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew melakukan tabur bunga di pusara Usman dan Harun di Kalibata, Jakarta.

Dua nama itu musuh Singapura. Mereka pengebom MacDonald House di Orchad Road pada 10 Maret 1965. Singapura menghukum mati keduanya pada 1968.

Hari itu, awal 1970-an, Lee harus menabur bunga di pusara dua nama yang dianggap teroris itu. Dalam tayangan itu, saya melihat ada rasa marah yang ditahan Lee.

Ada rasa terhina yang disembunyikan. Taburan bunganya agak sembarang. Raut mukanya seperti menahan geram.

Namun, Presiden Soeharto waktu itu memang mensyaratkan jika mau berkunjung ke Jakarta, Lee harus tabur bunga di dua makam pahlawan Dwikora itu.

Lee hampir tak melakukannya. Akan tetapi, salah seorang diplomatnya memberi masukan, mustahil bisa menjalin hubungan baik dengan Indonesia tanpa melakukan permintaan Soeharto.

Indonesia teramat penting bagi Singapura. Terlebih sesuai dengan nasihat Dr Albert Winsemius, ekonom Belanda yang pernah memimpin United Nations Development Programme, Lee harus membuat kesepakatan pasar dengan Malaysia juga menawarkan kerja sama perdagangan dengan Indonesia.

Terbukti hubungan Lee-Soeharto cukup dekat. Singapura bisa mengambil banyak manfaat. Lee mengalah untuk menang. Ia mengubah Singapura yang kecil dan miskin menjadi negara kaya dan makmur.

Wajar wafatnya Lee, kemarin dini hari, membuat rakyat Singapura berduka, tetapi juga pastilah bangga. Bangga karena Lee bertransformasi menjadi pemimpin kelas dunia. Singapura tanpa Lee bisa menjadi cerita yang berbeda.

Presiden Singapura Tony Tan Keng Yam memuji Lee sebagai arsitek republik modern Singapura.

"Singapura ialah gairah hidupnya dan dia terus berbakti kepada Singapura sampai hari-hari terakhir dalam hidupnya. Warga Singapura berutang terima kasih kepada Lee," katanya seperti dikutip Straitstimes.com.

PM Lee Hsien Loong, putra sulung mendiang, berpidato, "Kepintarannya mencari jalan keluar dan keberaniannya menjadi tonggak. Kita kehilangan tokoh sumber inspirasi," katanya yang disiarkan televisi pemerintah Channel News Asia.

Seharian televisi itu menyiarkan In Memoriam Lee. Lee Hsien Loong berpidato dalam tiga bahasa, Melayu, Tiongkok, dan Inggris. Suaranya terbata-bata dan matanya berkaca-kaca.

Hampir semua pemimpin dunia memuji Lee yang berkuasa 31 tahun lewat tujuh pemilu itu.

Ilmuwan Samuel P Huntington dalam buku Culture Matters: How Values Shape Human Progress (2000) menyebut Lee sebagai pemimpin yang mampu mengubah Singapura, yang berkultur Konghucu, bisa sejajar Denmark, Swedia, Finlandia, dan Selandia Baru dalam mengelola negara yang bersih dari korupsi.

Lee mengatur hampir seluruh aspek kehidupan, dari menyiram WC, larangan makan permen karet, budaya antre, berlaku sopan, tidak membuat bising, KB, politik, dan hingga pers.

Apa pun ceritanya Lee salah satu contoh pemimpin yang mendedikasikan hampir seluruh hidupnya untuk bangsa dan negerinya.

Ia salah satu contoh pemimpin yang tanpa demokrasi mampu memakmurkan rakyatnya, membuat Singapura bersih dalam arti sesungguhnya.

Indonesia akan mengambil pelajaran apa dari Lee? Dari Singapura?



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.