Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Cetak Biru Riset

Djadjat Sudradjat I Dewan Redaksi Media Group
20/3/2015 00:00
Cetak Biru Riset
(ANTARA/Novrian Arbi)
RISET kita ialah dunia tanpa 'nama'.

Ia memang belum terbuang, tetapi jika ia sebuah buku, pastilah berada di halaman belakang. Akan tetapi, seperti kata sebuah ungkap-an, "Ada banyak buku dibeli, sebagian untuk dipajang, sebagian dibuka, sebagian dibaca, tapi sedikit saja yang dibaca dan dipahami."

Itu sebabnya, berpuluh-puluh tahun kita membiarkan dunia riset kita hanya menjadi keluhan, tidak menjadi solusi kemajuan.

Yang ada justru cerita bersambung tentang nestapa para peneliti.

Mereka tak dihargai.

Akibatnya dunia ilmiah berjalan tanpa gairah, brain drain orang-orang terbaik tak bisa dihindari.

Para ilmuwan terbaik Indonesia yang tersebar di berbagai negara yang ingin kembali pun harus tetap menahan rindu karena tak ada infrastruktur yang mendukung di Tanah Air.

Kini ada sekitar 480 lembaga penelitian berjalan tanpa koordinasi.

Riset-riset sifatnya internal dan parsial.

Ini dibiarkan berpuluh puluh tahun.

Riset seperti 'menunggu godot'.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Kabinet Jokowi, Mohamad Nasir, ketika baru dilantik bertekad menggerakkan riset kelas dunia.

Caranya seperti apa, ia tak bicara. Ia hanya bilang pihaknya sudah punya cetak biru.

Namun, lengkapnya seperti apa harus ada arahan dari Presiden. Agaknya hingga kini belum ada arahan 'Bapak Presiden'.

Dana cekak, koordinasi buruk, parsial, tak ada cetak biru, akibatnya publikasi ilmiah pun minim.

Selama 2001-2010 hanya bisa menerbitkan 20% dari apa yang dilakukan Malaysia yang mampu memublikasikan sekitar 30.000 karya ilmiah.

Dari riset kita yang sedikit itu, minus penerapan pula.

Ketika membuka Rapat Kerja Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 11 Maret silam, Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani berjanji pemerintah akan menaikkan anggaran penelitian dan pengembangan inovasi.

Kini anggaran riset berkisar 0,08% dari produk domestik bruto (PDB).

Bahkan, ada yang mengatakan angka sesungguhnya jauh lebih kecil.

Padahal, idealnya menurut UNESCO minimal 2% dari PDB.

Akan tetapi, dana yang bertambah tanpa cetak biru riset tak akan banyak artinya.

Seperti dunia pendidikan, setelah anggaran menjadi 20%, mutu pendidikan kita tak jauh beranjak juga.

Fakta bicara, selama ini berbagai kebijakan pendidikan tidak berdasarkan riset yang mendalam.

Malangnya, Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud juga belum menjadikan hasil riset sebagai dasar kebijakan.

Cetak biru riset bisa mengatasi aneka problem itu.

Ini juga akan menggerakkan para ilmuwan/peneliti dalam dan luar negeri menjadi bergairah untuk kembali.

Kita kerap mendengar keluhan dari pemerintah, betapa Republik ini kekurangan manusia berkelas.

Sementara kita punya orang-orang terbaik, di dalam maupun di luar negeri, yang belum digerakkan secara maksimal.

Bahkan, menurut mantan Presiden BJ Habibie, ada sekitar 48.000 insinyur penerbangan, perkapalan, mesin, yang di masa Orde Baru dipersiapkan, kini 'dipanen' negara-negara lain.

Sungguh saya menunggu Menteri Nasir bicara cetak biru kementeriannya itu.

Juga bagaimana pandangannya tentang para ilmuwan terbaik Indonesia yang tersebar di berbagai negara.

Saya khawatir Menteri Nasir menyikapi amanah yang amat penting dan strategis untuk memajukan bangsa ini dengan tanggung jawab biasa-biasa saja.

Padahal, tantangannya sudah amat nyata di depan mata.


Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.