Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Gairah untuk Hidup

SAUR HUTABARAT/Dewan Redaksi Media Group
12/2/2015 00:00
Gairah untuk Hidup
(MI/SUMARYANTO)
SAMPAI kapan toko buku bertahan hidup? Pertanyaan itu spontan terbit di benak saya seusai membaca berita di The Guardian, pekan lalu, yang menyatakan penjualan Waterstones, mata rantai toko buku terbesar di Inggris, pada 2014 merosot 5,9% dan rugi 3,8 juta pound. Bukan berita muram pertama, tetapi tetap mengusik karena mengingatkan kembali kisah Borders. Jaringan toko buku Borders berdiri 1971 di Ann Arbor, Michigan, AS. Pertama kali ekspansi internasional ke Singapura (1997), lalu Inggris, Irlandia, Australia, dan Selandia Baru.

Pada 30 Januari 2010 memiliki 511 toko buku dengan total karyawan 19.500 di seluruh AS, tetapi di era digital Borders bangkrut (2011), ironisnya setelah dua tahun bekerja sama dengan Amazon, toko buku raksasa di dunia maya.

Saya teringat toko buku Gunung Agung yang didirikan 1953 oleh Tjio Wie Tay, tersohor sebagai Haji Masagung. Pada 1991 go public, 22 tahun kemudian PT Toko Gunung Agung Tbk berganti nama menjadi PT Permata Prima Sakti Tbk karena berpindah lini bisnis dari percetakan dan toko buku ke batu bara setelah dibeli Garibaldi Thohir, CEO Adaro Energy. Seluruh keturunan pendiri Gunung Agung tergusur dari direksi dan komisaris. Empat entitas anak perseroan dilepas, dialihkan ke PT GA Tiga Belas, tempat bernaungnya Gunung Agung. Toko buku itu tetap eksis dan terus bergairah untuk hidup.

Gramedia menghadapi penurunan penjualan buku, digantikan nonbuku. Pada 2012 penjualan buku 47%, nonbuku 53%. Pada 2013 penjualan buku 44%. Pada 2014 penjualan buku tinggal 43%. Semua itu fenomena memprihatinkan karena menunjukkan tanda kebangkrutan peradaban cetak beserta dunia kecendekiawanan yang menyertainya. Pada mulanya kematian toko buku, lalu pengarang, kematian intelektual. Kematian karena keusangan karya serta keengganan mengikuti perubahan teknologi digital.

Sebaiknya memang tak ada hubungan kasualitas kematian toko buku menyebabkan kematian pengarang. Memilih toko buku hidup dan pengarang mati merupakan kekejaman. Sebaliknya memilih pengarang hidup dan toko buku mati terdengar terlalu romantis-tragis. Pilihan realistis kiranya mengikuti informasi keselamatan yang disampaikan awak kabin, pakailah masker oksigen lebih dulu sebelum memakaikannya pada orang lain. Tak ada penerbit dan toko buku mau mati kehabisan `oksigen' untuk menyelamatkan pengarang yang belum tentu selamat.

Lagi pula takdir pengarang haruslah kejam kepada diri sendiri. Itu membuatnya tak buru-buru mati secara intelektual. Kritikus-teoretikus semiotika Prancis Roland Barthes, antara lain dalam karyanya The Death of the Author, mengatakan ada dua jenis pengarang, yaitu yang menghasilkan readerly texts dan writerly texts.

Pengarang readerly texts memproduksi bacaan sebagai bacaan semata. Pengarang macam itu hidup, tapi wafat. Sebaliknya pengarang writerly texts menghasilkan bacaan dialektis. Pembacanya tergugah menjadi `pengarang' bagi diri sendiri. Pengarang jenis itu hidup selamanya.

Hidup jurnalisme cetak pun terancam dalam industri senja, kecuali karya jurnalisme yang dihasilkan berjenis writerly. Karena itu, jurnalisme cetak memerlukan gairah untuk hidup. Ia harus kejam terhadap diri sendiri demi menghasilkan teks jurnalisme yang dialektis.


Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.