Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Neurosis Rupiah

Saur Hutabarat
16/3/2015 00:00
Neurosis Rupiah
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/SENO)

KETIKA terjadi gonjang-ganjing rupiah, untuk menenangkan hati publik, angka psikologis dan fundamental ekonomi pernah dimainkan dalam orkestrasi paradox in harmony.

Angka psikologis ditiadakan atau tak diakui eksistensinya.

Sebaliknya, fundamental ekonomi ditonjolkan atau eksistensinya ditunjukkan. Dalam paradoks itulah publik hendak dibikin adem.

Angka psikologis ialah angka keramat yang menakutkan, bila terlampaui. Fobia itu harus dienyahkan dengan cara kekuasaan verbal membunuh angka psikologis, sang penyebab.

Upaya meniadakan eksistensi angka psikologis itu misalnya terjadi pada Selasa, 16 Juli 2013. Ketika itu rupiah menembus angka psikologis 10.000, yaitu melemah berada pada 10.036 per dolar AS.

Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan angka 10.000 bukan angka psikologis. "Tidak ada itu angka psikologis."

Setelah pemerintah meniadakan angka psikologis, itu dilanjutkan keterangan bahwa fundamental ekonomi baik.

Pelemahan rupiah itu terjadi karena kebijakan quantitative easing Bank Sentral Amerika Serikat dan juga situasi makroekonomi dunia.

Pelemahan nilai tukar bukan hanya terjadi di Indonesia. "Rupee India melemah luar biasa dan tentu kita yakin kita akan menguat kembali." Pelemahan rupiah bersifat sementara.

Ternyata yang sementara itu berkepanjangan sampai pemerintahan SBY berakhir 15 bulan kemudian.

Pada Jumat, 17 Oktober 2014, yaitu hari terakhir pasar sebelum SBY digantikan Jokowi, rupiah ditutup pada 12.109 per dolar AS.

Sejarah mencatat rupiah tak kembali menguat ke nilai tukar di bawah angka psikologis 10.000.

Kini rupiah melemah menembus 13.000 per dolar AS. Pemerintah berganti, tetapi jawaban perihal fundamental ekonomi tetaplah orkestrasi harmoni yang sama. Rupiah melemah karena faktor eksternal.

Yang menarik ialah pada angka 13 (ribu) itu orang tak lagi meributkan angka psikologis. Mungkin karena angka itu sendiri sudah mengandung angka sial.

Amit-amit, menambahkan angka psikologis pada angka 13 membuatnya dua kali sial.

Saya tak percaya angka sial. Saya lebih percaya terjadi pelonggaran angka batas derita moneter. Angka psikologis terdorong lebih tinggi menjadi angka neurosis disertai harapan atau doa semoga tak kesampaian. Angka neurosis itu ialah 15.000 per dolar AS.

Apakah saya berhalusinasi? Tidak, sekalipun halusinasi juga ranah psikologi. Sebagai gambaran, ketika rupiah menembus 13.000 per dolar AS, Taufik Kurniawan, Wakil Ketua DPR, berkomentar, "Jangan sampai lebih dari 15.000. Waduh, bahaya itu." Bukankah itu angka derita lebih tinggi?

Obat 'generik' yang biasa dipakai otoritas moneter mengatasi derita ialah menguras cadangan devisa.

Begitu angka psikologis terlampaui, yaitu cadangan devisa merosot di bawah US$100 miliar, giliran petinggi Bank Indonesia yang membunuh angka psikologis itu.

Sejujurnya rupiah memang sakit. Namun, sulit mengakuinya dengan menutupinya bahwa ekonomi kita baik. Sampai kapan? Penyangkalan itu membuat soal waktu saja rupiah bergerak ke angka neurosis.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.