Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Pemimpin Baperan

Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group
08/6/2023 05:00
Pemimpin Baperan
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SIAPA bilang menjadi pemimpin itu gampang? Ia harus punya mata yang panjang, telinga yang lebar, dada yang lapang, tapi muka tak boleh tebal. Jangan sebaliknya: matanya pendek, telinganya kecil, dadanya sempit, tetapi mukanya justru tebal setebal-tebalnya alias tidak tahu malu.

Mata yang panjang menyiratkan ia punya visi jauh ke depan. Kata orang, lahirnya pemimpin hebat berawal dari visi yang hebat pula. Tanpa visi atau pandangan yang jelas, si pemimpin dan yang dipimpin tak punya arah pedoman yang pasti untuk menggapai tujuan. Semuanya tampak buram, seburam pandangan pemimpinnya.

Telinga lebar. Artinya, dia harus mau dan mampu mendengarkan setiap aspirasi. Mendengarkan dengan saksama, tidak sekadar membiarkan suara itu lewat begitu saja, seperti ungkapan zaman dulu 'masuk telinga kanan, keluar telinga kiri'. Pun tak memilih-milih suara yang ingin didengar. Suara semua lapisan mesti didengar, selembut atau sekencang apa pun suara itu.

Dada lapang menandakan sebuah hati yang terbuka. Seorang pemimpin hendaknya selalu lapang dada mendengarkan segala bentuk keluhan, kritik, hujatan, bahkan caci maki. Jangan mudah panas telinga dan panas hati, apalagi kalau bahasa anak sekarang, gampang baper (terbawa perasaan) alias baperan.

Betapa repotnya kita kalau dipimpin orang yang baperan. Apalagi, yang kinerjanya minimal, tapi bapernya maksimal. Dikasih keluhan sedikit, ngambek. Diberi kritik, marah, tersinggung, lalu mengintimidasi, melaporkan si pengkritik ke polisi karena dianggap telah menghina atau mencemarkan nama baik. Rasa-rasanya, mereka yang baperan cenderung menjelma menjadi pemimpin yang antikritik.

Celakanya, pemimpin-pemimpin model seperti itu ternyata banyak di Indonesia. Tempo hari ada Gubernur Lampung yang 'berseteru' dengan Bima Yudho Saputro, seorang Tiktoker warga Lampung yang tengah kuliah di Australia, gara-gara kritikan Bima perihal jalan-jalan rusak yang tersebar di provinsi yang letaknya di ujung bawah Pulau Sumatra itu.

Padahal, kritikannya benar, jalan di Lampung memang banyak yang kondisinya parah. Tapi memang dasar dadanya tidak lapang, reaksi pertama yang ditunjukkan Sang Gubernur ialah emosi. Alih-alih meminta anak buahnya untuk memperbaiki jalan-jalan rusak itu, ia malah mengintimidasi orangtua Bima. Maka, habislah ia di hadapan publik. Sampai kapan pun ia bakal dikenang sebagai Gubernur baperan, Gubernur antikritik.

Belakangan terjadi lagi kejadian serupa di Kota Jambi. Ini bahkan lebih parah. Kalau di Lampung, Gubernur melawan mahasiswa; di Jambi, Wali Kota melawan pelajar SMP. Tidak hanya itu, sudahlah anak SMP, dilaporkan pula ke polisi. Sungguh aneh, dikritik 'anak kecil' saja sebegitu paniknya. Sudah kehilangan kewarasankah pemimpin-pemimpin kita ini?

Awalnya, Syarifah Fadiyah Alkaff, nama pelajar SMPN 1 Kota Jambi itu, membuat empat video kritik yang ditujukan kepada Pemkot Jambi, dalam hal ini Wali Kota Jambi Syarif Fasha, dan perusahaan Tiongkok. Kritiknya sederhana. Menurut Syarifah, selama 10 tahun rumah neneknya terkena dampak aktivitas mobil bertonase melebihi kapasitas jalan yang berlalu lalang di jalan dekat rumah itu. Ia meminta Wali Kota, pemkot, dan perusahaan bertanggung jawab.

Namun, kritik yang sederhana itu ternyata sudah cukup membuat Wali Kota dan para ASN di Pemkot Jambi (katanya) panas telinga, baper dan tersinggung. Kebaperan si pemimpin itu kali ini rupanya tidak main-main. Lewat Kabag Humas Pemkot Jambi, Gempa Alwajon, Syarifah dilaporkan ke polisi atas dugaan pelanggaran UU ITE.

Menurut pelapor, video Syarifah yang viral di media sosial bukan kritikan, melainkan pelanggaran SARA karena ada kata Firaun dan iblis yang dikaitkan dengan Pemkot Jambi. Tampaknya mereka tersinggung disamakan dengan iblis. Karena itu, mereka melaporkan Syarifah.

Lagi-lagi ini sebuah contoh reaksi yang berlebihan, lebai dari pemimpin yang baperan alias antikritik. Jangankan mencari solusi, substansi kritikan pun mereka tak sentuh. Dalam pikiran mereka hanya satu, segera bungkam si pelontar kritik. Mereka tidak sadar, di era media sosial yang memungkinkan semua kejadian bisa viral, pikiran dan perilaku seperti itu justru akan menggali kubur mereka sendiri.

Filsuf besar Yunani, Aristoteles pernah berpesan, "Hanya ada satu cara untuk menghindari kritik: tidak melakukan apa-apa, tidak mengatakan apa-apa, dan tidak menjadi apa-apa."

Ada baiknya, orang-orang baperan dan antikritik itu berpikir ulang lagi perihal kepantasan mereka menjadi pemimpin. Mungkin sepantasnya mereka tidak menjadi apa-apa.



Berita Lainnya
  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.

  • Pertobatan Ekologis

    03/1/2026 05:00

    ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik