Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Merapat

08/1/2016 00:00
Merapat
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)
POLITIK tak melulu soal ketegangan dan perbedaan, tapi juga soal ketenangan dan kebersamaan. Justru inilah fase perkembangan politik paling cair dari kepentingan paling pragmatis.

Teori probabilitas dalam politik justru menemukan tempat paling lentur dan paling tak peduli apa pun persoalan masa silam. Inilah fase merapatnya partai-partai yang dulu 'beroposisi' ke pemerintah. Babak rivalitas Koalisi Merah Putih dan Koalisi Indonesia Hebat pun usai.

Setelah PAN lalu PKS, kini Golkar akan merapat ke kubu pemerintah. Jika kader PAN sudah ada yang berani bicara kompensasi menteri, PKS baru merapat ke Istana. Golkar beralasan historis, bahwa tradisi mereka sejak kelahirannya bukanlah di luar pemerintah.

Dalam politik, alasan apa saja bisa masuk akal. Para 'sofis' dalam politik tak sepenuhnya 'terkutuk'. Sebab, kebenaran agaknya tak perlu lagi dipeluk erat hingga harus memilih minum racun seperti dilakukan Sokrates. Kini kebenaran sudah menjadi medan perebutan yang tak lagi mutlak, melainkan relatif. Kebenaran tak lagi perlu dijaga dengan segenap pertahanan.

Jika Anda tak bisa mengalahkan lawan, bergabunglah dengan lawan. Itulah nasihat politik paling oportunis dan disukai. Pertanyaannya, benarkah sudah sepenuh kekuatan dan strategi melawan? Benarkah musuh tak bisa dikalahkan? Atau memang tak berani melawan? Atau inilah hasil dari seluruh kalkulasi kekuatan yang memang muskil bisa menang?

Di era kampanye, Golkar dan PAN memecat beberapa kadernya karena mendukung calon presiden Joko Widodo dan calon wakil presiden Jusuf Kalla. Kini, justru partai yang menyorongkan diri untuk merapat. Dalam politik yang kehilangan ideologi, akan dikenang sebagai apa pemecatan kader yang berseberangan jika dilihat dari dinamika fase merapat ini.

Siapa yang benar? Sang kader atau partai? Dari sisi visi membaca peluang dan tren, kader-kader partai yang dipecat terasa lebih berada di depan. Partai justru lamban. Akibatnya, terkesan hanya mau enaknya, tak berjuang, tak berkeringat. Partai telah kehilangan nubuat membaca masa depan. Sejak reformasi politik kita memang telah kehilangan pegangan ideologi yang lebih mengikat. Mereka beralih mendukung figur.

Siapakah yang diuntungkan dengan partai-partai yang merapat? Pertama, pastilah pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Mereka bisa bernapas lega sebab ruang politiknya kian luas dukungannya. Pemerintah tak lagi harus mengeluarkan banyak energi untuk sesuatu yang butuh dukungan parlemen.

Kedua, dukungan partai yang signifikan, buat Jokowi bisa untuk 'jaga-jaga' jika dukungan PDIP pada Jokowi yang setengah hati itu mengalami titik nadir.

Namun, terlalu banyak partai merapat juga bisa menjadi beban pemerintah. Karena itu, Presiden Jokowi harus tegas mengatakan, bergabung adalah satu hal, tetapi jatah menteri adalah hal lain. Jika partai pendatang baru tetap memaksa minta jatah menteri, Jokowi harus berani mengatakan, menteri bukan jatah, melainkan kebutuhan.

Dari sudut pandang demokrasi, sesungguhnya keinginan merapatnya banyak partai ke pemerintah jelas kurang sehat. Oposisi yang kecil kekuatannya akan kurang memberikan perimbangan.

Kekuasaan eksekutif yang terlalu melenggang ketika menghadapi parlemen juga kurang punya tantangan. Tentu tak ada yang salah dalam politik, seperti kata Bismarck, politik sebagai 'seni mencapai tujuan'. 'Seni mencapai tujuan' dalam politik itulah yang kini terus digugat.

Di tengah politik yang cair, pragmatis, dan penuh neraca untung rugi, mungkinkah politik bisa dihela ke tujuan lebih mulia: kesejahteraan rakyat? Di sini mestinya Jokowi jadi penentu.

Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.