Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Ayo Kerja!

Suryopratomo | Dewan Redaksi Media Group
14/3/2015 00:00
Ayo Kerja!
(ANTARA/Irwansyah Putra)
KAMPANYE itu dimulai Presiden Jokowi dari Nanggroe Aceh Darussalam. Kita sepakat tema besar peringatan 70 tahun kemerdekaan dilakukan dengan hal-hal yang lebih produktif.

Kita semua harus bekerja untuk menghasilkan produk yang bisa meningkatkan kehidupan kita bersama.

Cukup sudah ingar-bingar dalam pemilihan umum.

Setelah pemimpin terpilih dan pemerintahan terbentuk, semua harus bahu-membahu membangun negeri ini.

Saya sering ditanya teman saya dari Korea Selatan, mengapa demokratisasi di Indonesia hanya menciptakan kehebohan?

Semua asyik dengan kebebasan dan lupa tujuan utama demokrasi, yaitu membangun negeri.

Tidaklah mungkin negara akan makmur apabila hanya dengan berbicara.

Negara akan terbangun kalau semua mau menyingsingkan lengan baju, mau bekerja untuk menyumbangkan karya terbaik bagi negeri.

Korea Selatan dulu pernah mengalami era demokratisasi yang sama dengan Indonesia.

Sejak 1980-an mahasiswa turun ke jalan untuk menggulingkan pemerintahan militer dan menuntut dilaksanakan pemilu yang demokratis.

Ketika pada 1993 demokrasi bisa ditegakkan dan presiden demokratis bisa terpilih, langkah pertama yang dilakukan Presiden Kim Young-sam ialah mengajak semua komponen bangsa memperkuat persatuan dan membangun negara.

Semua orang diminta kembali kepada tugas dan tanggung jawab masing-masing untuk memajukan negeri.

Hasilnya Korea menjadi negara dengan kekuatan ekonomi nomor 11 terbesar di dunia.

Hal itulah yang sebenarnya dilakukan juga oleh Jokowi ketika terpilih sebagai presiden.

Dalam pidatonya di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jokowi mengajak seluruh komponen bangsa melupakan nomor 1 dan 2.

Saatnya untuk memilih nomor 3: Persatuan Indonesia.

Sungguh bermakna pidato Jokowi saat itu.

Apalagi ketika ia mengajak semua kembali kepada profesi masing-masing.

Petani kembali ke sawah, nelayan kembali melaut, mahasiswa kembali belajar, pengusaha kembali berbisnis.

Momentum itu surut karena hanya berhenti pada retorika.

Tidak ada langkah yang sungguh-sungguh membawa semua orang berkonsentrasi kepada tugas dan tanggung jawab masing-masing.

Bahkan semua kembali ke jalanan untuk berteriak-teriak menyuarakan hak.

Tidak terkecuali para cerdik cendikia, larut dalam keasyikan berorasi di jalanan.

Padahal, seharusnya mereka melakukan riset untuk kemajuan negeri ini. Lebih baik mereka mengajar anak-anak muda agar tercerahkan.

Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki keadaan karena pemerintahan pun berjalan lima bulan.

Saatnya Jokowi tampil kembali sebagai seorang kepala negara.

Jokowi menyampaikan pidato nasional untuk mengajak semua komponen bangsa membangun negara ini.

Panggilan tugas konstitusional itu pantas disampaikan karena kita tengah menghadapi persoalan berat.

Perekonomian kita sedang limbung ketika nilai tukar rupiah melemah di atas 13 ribu per dolar AS.

Pelemahan yang begitu cepat tidak boleh dianggap enteng.

Untuk menjawab itu tidak ada jalan lagi kecuali dengan bekerja.

Kita harus menjaga agar seluruh unit produksi bisa terus berjalan dan semua orang bisa bekerja.

Kali ini tidak boleh lagi hanya retorika.

Kita tidak cukup hanya bekerja dengan simbol.

Ayo kerja bukanlah sekadar mengangkat celana dan masuk ke sawah, melainkan juga menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah tinggi.

Kalau kita tidak mampu melakukan itu, jangan salahkan jika kampanye Ayo Kerja berubah menjadi alunan lagu Sruti Respati Ayo Ngguyu lalu kita serentak menjawab: 'ha... ha... ha....'


Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.