Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Tahun Derita Berlalu

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
31/12/2015 00:00
Tahun Derita Berlalu
(Grafis Seno)
TAHUN 2015 ialah tahun melambannya perekonomian. Pertumbuhan ekonomi terkoreksi. Nilai tukar rupiah melemah. Tahun lamban itu pada hari ini tutup buku. Menurut Bank Dunia, kebakaran hutan dan lahan turut memperlamban perekonomian Indonesia. Bencana itu melahap hutan dan lahan seluas 2,6 juta hektare, menelan biaya Rp221 triliun, lebih dua kali lipat biaya rehabilitasi Aceh akibat bencana tsunami. Bagi warga sejumlah provinsi di Sumatra dan Kalimantan, 2015 ialah tahun derita akibat bencana asap.

Selama Juli-Oktober 2015, total penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mencapai 556.945 jiwa. Perinciannya Riau (81.958), Jambi (151.839), Sumatra Selatan (115.484), Kalimantan Barat (46.672), Kalimantan Tengah (62.963), dan Kalimantan Selatan (98.029). Jumlah itu belum digabung dengan yang terserang penyakit lain. Di Provinsi Riau saja, 4.677 menderita iritasi mata, 5.899 iritasi kulit. Semua itu yang terdata di Dinas Kesehatan.

Belum lagi yang meninggal, terutama balita. Negara tidak tahu persis berapa jumlahnya. Kita prihatin dengan penderitaan warga. Kita pun prihatin, tidak mampu selekasnya mengatasi bencana asap, sampai perlu bantuan asing. Akan tetapi, derita rakyat itu malah hendak dikapitalisasi anggota DPR sebagai amunisi politik membentuk pansus asap. Bahkan, pimpinan DPR memimpin sidang mengenakan masker. Sungguh, perbuatan mengejek warga, yang memakai masker karena terpaksa, menderita terpapar asap berbulan-bulan.

Bukan mustahil bencana asap terulang kembali pada 2016. Karena itu, negara hendaknya mengantisipasi dan menganggarkan dana pencegahan, dan bila toh terjadi, telah pula dialokasikan dana perang melawan asap, baik dalam APBN maupun APBD provinsi/kabupaten/kota yang selalu terserang asap. Akan tetapi, kenapa hanya negara menanggung beban berat? Pemilik HPH/kebun sawit/lahan gambut yang terbakar harus pula turut bertanggung jawab memikul beban berat, bahkan seberat-beratnya.

Mereka layak dinilai lalai/abai/tak peduli/melakukan pembiaran aset mereka terbakar sehingga menimbulkan bencana asap. Karena itu, mereka harus dihukum denda seberat-beratnya. Tidak ada dasar hukumnya? Pemerintah dan DPR buatlah undang-undang dengan sanksi menjerakan sehingga pemilik hutan/kebun sawit/lahan gambut waspada mengawasi harta mereka. Lahan telantar terbakar sebaiknya disita negara untuk dikelola produktif BUMN perkebunan.

Begitu pula hutan berpapan nama, tetapi seperti tak bertuan. Bila dibiarkan terbakar, tidak peduli milik siapa pun, termasuk di bawah bendera/yayasan TNI, kenakan denda berat, bahkan kembalikan kepada negara. Agar tidak terjadi konflik kepentingan atau penggunaan kekuasaan untuk melindungi harta sendiri dari hukuman denda atau penyitaan, pejabat yang punya HPH/kebun sawit/lahan gambut harus membuat pernyataan terbuka sehingga tidak ada dusta di antara kita.

Bila harta pejabat itu terbakar, terlebih turut menimbulkan bencana asap, jelas siapa pemiliknya yang harus dikejar negara. Bahkan, pejabat itu dicopot saja dari kedudukannya. Bencana asap tak hanya menyiksa rakyat akibat penyakit yang ditimbulkannya. Bencana asap juga membuat mobilitas warga terganggu. Penerbangan tertunda, batal, bahkan terhenti tanpa kepastian jadwal. Sudah tentu, menyusahkan negara tetangga. Banyak persoalan dihadapi bangsa dan negara ini selama 2015. Namun, derita bencana asap paling lama mendera warga di Sumatra dan Kalimantan. Padahal, tak ada yang bisa menjamin bencana itu tidak terulang kembali. Karena itu, bencana asap diangkat sebagai pokok evaluasi dan refleksi penutup tahun.


Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.