Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Akhir Era Minyak

26/12/2015 00:00
Akhir Era Minyak
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

PEMERINTAH memutuskan menurunkan harga premium dan solar mulai 5 Januari 2016.

Harga premium yang semula Rp7.300 per liter menjadi Rp7.150. Harga solar yang sebelumnya Rp6.700 per liter menjadi Rp5.950.

Menurut Menteri ESDM Sudirman Said, harga keekonomian premium dan solar sebenarnya bisa lebih rendah. Namun, sesuai perintah UU Nomor 30/2007 tentang Energi, pemerintah mengenakan premi energi fosil Rp200 per liter untuk premium dan Rp300 per liter untuk solar.

Dana tersebut akan dipergunakan untuk pengembangan energi terbarukan.

Penurunan harga BBM merupakan konsekuensi terus menurunnya harga minyak dunia. Saat ini harga minyak mencapai titik terendah dalam 11 tahun terakhir.

Harga minyak jenis brent diperdagangkan US$34,53 per barel Selasa (22/12) lalu. Harga acuan OPEC bahkan mencapai US$30,74 per barel.

Rendahnya harga minyak dunia memukul industri perminyakan.

Pendapatan perusahaan minyak seperti Exxon-Mobil Oil, Chevron, British Petroleum, dan Shell menurun signifikan. Bahkan keuntungan Petronas, Malaysia, pada kuartal III lalu anjlok 95%.

Negara-negara Petrodollar mulai mengurangi belanja. Arab Saudi, misalnya, menunda pembelian barang modal seperti kendaraan.

Dengan harga minyak yang sudah turun lebih 50%, kemampuan negara yang mengandalkan pendapatan dari minyak sangat terganggu.

Hanya tidak mudah untuk mengubah kebiasaan hidup. Sama tidak mudahnya untuk melakukan transformasi ekonomi agar tidak lagi tergantung minyak.

Turunnya harga minyak disebabkan oleh peningkatan produksi di negara penghasil minyak demi menjaga penerimaan mereka.

Kita pun masih menjadikan minyak sebagai sumber penerimaan negara meski tidak sebesar era Orde Baru.

Pada 2016, pemerintah menargetkan penerimaan minyak dan gas US$12,3 miliar.

Asumsinya harga minyak dunia seperti ditetapkan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara US$60 per barel. Sepertinya mustahil harga minyak akan bisa naik ke angka itu.

Sampai semester I 2016, harga minyak masih akan berada di bawah US$40 per barel. Dengan kondisi seperti itu, target penerimaan negara dari migas akan sulit tercapai.

Satuan Kerja Khusus Migas memperkirakan penerimaan migas tahun depan hanya sekitar US$10,7 miliar. Itu pun dengan asumsi target lifting minyak 830 ribu barel per hari bisa tercapai.

Kenyataannya, sekarang ini produksi minyak kita berada di bawah 800 ribu barel per hari.

Penurunan harga minyak, di satu sisi, memberi berkah kepada masyarakat karena harga BBM menjadi lebih murah. Namun, di sisi lain menjadi musibah bagi negara karena turunnya penerimaan.

Akibatnya, kemampuan negara membiayai pembangunan berkurang dan dalam jangka panjang merugikan masyarakat.

Kondisi ini memperingatkan negara untuk mempercepat transformasi ekonomi.

Kita tidak bisa mengandalkan komoditas sebagai andalan produksi dan ekspor.

Akhirnya, kita harus menjadi negara industri yang menghasilkan produk manufaktur dengan nilai tambah tinggi.

Peringatan berakhirnya era komoditas, baik minyak maupun sumber daya alam lain, sudah disampaikan sejak 6 tahun lalu.

Namun, kita terlena dan tidak melakukan transformasi.

Bahkan yang terjadi ialah deindustrialisasi, yakni kontribusi industri terhadap produk domestik bruto menurun dari 35% menjadi 23%.

Sekarang kita harus bergegas memperbaiki diri kalau tidak ingin mati.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.