Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Gontor

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
10/9/2022 05:00
Gontor
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

GONTOR ialah nama sebuah desa yang berada di Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Namanya menjulang ke seantero negeri sejak tiga bersaudara, yakni KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fanani, dan KH Imam Zarkasyi, mendirikan pondok pesantren (ponpes) di desa itu.

Ketiganya memberi nama Ponpes Modern Darussalam untuk lembaga pendidikan berbasis Islam yang didirikan pada 20 September 1926 itu. Namun, nama Ponpes Gontor jauh lebih dikenal, melampaui nama Ponpes Modern Darussalam.

Begitulah galibnya. Sejumlah ponpes besar bahkan sengaja mengambil nama lokasi berdirinya pondok sebagai sebutan. Ponpes Tebuireng, Jombang, dan Ponpes Lirboyo, Kediri, misalnya.

KH Hasyim Asy'ari sengaja menjadikan Tebuireng, sebuah dusun kecil di wilayah Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, untuk menamai pondok yang ia dirikan. Pun dengan KH Abdul Karim yang menjadikan Desa Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kediri, sebagai nama ponpes yang ia dirikan.

Keterkaitan antara sebuah ponpes dan nama lokasi tentu bukan sebuah kebetulan belaka. Ada spirit kesadaran sosial dan spiritual dari ponpes itu memberikan kontribusi positif pada lingkungan sekitar. Ada vibrasi positif yang hendak disemai kehadiran sebuah ponpes di daerah itu.

Niat baik yang dikerjakan dengan baik itu membuahkan hasil. Dari rahim Ponpes Tebuireng, kelak lahir Presiden Abdurrahman Wahid. Dari Ponpes Lirboyo, muncul sejumlah ulama berpengaruh seperti KH Said Aqil Siradj.

Dari Ponpes Gontor, apalagi. Banyak intelektual, ulama, pemimpin ormas, birokrat, hingga sastrawan lahir dari kawah candradimuka pionir ponpes modern itu. Ada cendekiawan Nurcholish Madjid, mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, mantan Ketum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, sastrawan Emha Ainun Nadjib, mantan Presiden PKS Hidayat Nur Wahid, mantan Wakil Menlu AM Fachir, dan masih banyak lagi.

Jadi, kontribusi ponpes itu jauh melampaui niat awal para pendiri yang 'hanya' ingin memberi arti positif bagi lingkungan sekitar. Sebagian besar santri meyakini capaian itu tidak lepas dari barokahnya para kiai, baik pendiri pondok maupun para penerusnya.

Untuk itu, ketika muncul kabar dugaan tindak kekerasan oleh santri senior yang berujung pada meninggalnya santri junior di Ponpes Gontor, saya kaget bukan kepalang. Bahkan, hampir tidak percaya. Kekagetan serupa disampaikan para alumnus Gontor.

Bagi mereka, antara Gontor dan kekerasan itu jauh panggang dari api. Saya mengutip catatan Hariqo Satria, pegiat media sosial yang juga alumnus Gontor lulusan 1999. Di medsosnya, ia menulis bagaimana para santri dididik menjadi kaum intelektual dan ahli ilmu yang wajib menjauhi kekerasan, bahkan kekerasan verbal sekalipun.

Santri Gontor itu, tulisnya, jangankan memukul, mem-bully saja sudah diusir dari pondok. Santri yang menghina orang lain secara fisik dan SARA, akan dikeluarkan dari Gontor, apalagi menganiaya hingga hilangnya nyawa. ‘Seluruh Gontorian merasakan kesedihan keluarga almarhum AM’, tulis Hariqo.

Ia mengisahkan sejumlah ajaran yang berisi larangan yang mesti dijauhi para santri. Itu di antaranya ajaran tidak boleh taasub atau fanatik, termasuk fanatik kesukuan. Karena itu, ada larangan agar tidak ada asrama santri khusus daerah tertentu. Semua merayakan keberagaman.

Dilarang pula fanatik ormas, seperti NU, Muhammadiyah, Persis, dan lain-lain. Bahkan, dilarang fanatik terhadap Gontor itu sendiri. Santri diminta berjiwa bebas. Santri hanya boleh fanatik terhadap kebenaran dan kepentingan bangsa.

Untuk itu, saya sepakat belaka pada pendapat para pemimpin Ponpes Gontor yang menyerahkan secara transparan peristiwa itu kepada proses hukum. Tidak ada seinci pun keberatan dari Gontor untuk menginvestigasi kasus kekerasan. Itu akan menghilangkan setitik nila dari sebelanga susu.

Langkah itu sekaligus bakal membuktikan bahwa kekerasan tidak akan mendapatkan ruang, apalagi beranak pinak, di lingkungan pesantren. Saya percaya sepenuhnya, Gontor akan terus melanjutkan misi besar kemuliaan.

Misi itu ialah membentuk generasi unggul menuju terbentuknya khaira ummah (umat terbaik). Mendidik dan mengembangkan generasi mukmin-muslim yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, berpikiran bebas, serta berkhidmat kepada masyarakat. Lalu, mengajarkan ilmu pengetahuan agama dan umum secara seimbang, menuju terbentuknya ulama yang intelek.

Misi terakhirnya ialah mewujudkan warga negara yang berkepribadian Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Allah. Saya ikut berduka atas kematian, sekaligus saya percaya kebaikan tetap akan berumur panjang.



Berita Lainnya
  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."