Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Kemanusiaan Salah Bilik

18/12/2015 00:00
Kemanusiaan Salah Bilik
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

MAHKAMAH etik yang riuh itu berakhir tanpa keputusan. Ia serupa drama penuh tegangan yang berakhir penuh leraian.

Drama berakhir mengendur, penuh kompromi, seolah menghibur. Rakyat seolah dimenangkan, tetapi sesungguhnya fokusnya dialihkan. Sebab, problem utama tak terselesaikan!

Tak ada keputusan.

Itulah mahkamah etik yang berlangsung di DPR sejak awal bulan ini, menyidangkan Ketua DPR Setya Novanto, atas dugaan pelanggaran dalam kasus 'Freeportgate'.

Manuver Novanto di akhir sidang, yang meminta mundur sebagai ketua, meluluhkan hati para yang mulia di Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD).

Mereka menghentikan sidang dan sepakat tak membuat vonis. Padahal, meski lengser sebagai ketua, Novanto tetap anggota dewan yang tak terbebas dari beban etika.

Memang 10 majelis menilai Novanto melakukan pelanggaran tingkat sedang, 7 menilai pelanggaran berat. Namun, vonis itu menjadi dokumen sidang yang tak bernilai formal karena bukan keputusan lembaga MKD. Ia masih menjadi dokumen yang tercecer sebagai penilaian pribadi setiap anggota majelis.

Novanto masih amat mungkin memanfaatkan untuk duduk di alat kelengkapan dewan lain: jika ia bersedia, partai menghendaki, dan momennya tepat.

Saya mendengarkan sidang yang penuh drama itu dari sebuah radio di tengah kemacetan Jakarta.

Kenapa tak sampai vonis lembaga?

Beberapa anggota majelis beralasan, "Demi kemanusiaan, toh pengunduran diri Novanto juga linier dengan yang dikehendaki rakyat."

Mereka membuat amsal, tak mau menimpakan tangga untuk orang yang sudah jatuh. Akan tetapi, inilah kemanusiaan yang salah bilik.

Mereka menerapkan kemanusiaan yang berpotensi memunculkan persoalan baru.

MKD pun bisa dinilai melanggar aturan.

Bukankah sidang etik hanya bisa dihentikan jika yang diadili meninggal dunia dan partai menarik yang bersangkutan dari alat kelengkapan dewan?

Sidang atas Novanto yang tak tak tuntas kelak akan menjadi utang sejarah, betapa MKD tak cakap menghukum pelanggar etik.

Sidang 'politik' atas Novanto berjalan penuh drama, sarat manuver, diskriminatif, dan penuh motif pembelaan, khususnya tiga orang anggota MKD dari Golkar, sementara anggota MKD Akbar Faizal dengan amat mudah dipecat dan suratnya ditandatangani Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah.

Alasannya, Akbar tengah diadukan ke MKD oleh Ridwan Bae, dari Golkar.

Namun, Akbar yang juga mengadukan tiga anggota MKD: Ridwan Bae, Adies Kadir, Kahar Muzakir, karena menghadiri konferensi pers yang digelar Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan yang juga sebagai saksi, tak mendapat respons dari pimpinan dewan.

Inilah bukti betapa elite politik di DPR hanya memperlakukan politik sebagai 'permainan'. Mereka lupa politik sebagai sarana perbaikan kehidupan publik.

Drama lain lagi ialah beberapa anggota majelis yang menjatuhkan sanksi berat, yang semula membela habis-habis Novanto. Detik-detik terakhir mereka justru menjatuhkan sanksi berat. Maksudnya supaya punya waktu membentuk tim panel membahas pemberhentian Novanto.

Ada kemungkinan tim panel bisa dikendalikan.

Ah, politik yang banal!

Banyak yang lega Novanto lengser.

Mereka berharap citra DPR bisa dibangun kembali. Namun, kita tahu ada dua wakil ketua yang selama ini membela total Novanto, yakni Fadli Zon dan Fahri Hamzah.

Atas dasar etik pula, karena selama ini mereka membela orang yang bersalah, mereka mestinya mengundurkan diri dari kursi pimpinan dewan.

Mereka telah kehilangan legitimasi moral.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.