Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Koefisien Gini

12/12/2015 00:00
Koefisien Gini
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

LAPORAN terbaru Bank Dunia menyebutkan kesenjangan ekonomi di Indonesia semakin melebar. Selama 2011- 2014, koefisien Gini meningkat menjadi 0,41.

Dengan kondisi tersebut, kesenjangan ekonomi Indonesia sama dengan Uganda dan lebih buruk daripada India.

Menurut Direktur Bank Dunia untuk Indonesia Rodrigo A Chavez, pertumbuhan pendapatan 10% orang kaya Indonesia tiga kali lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan 40% kelompok miskin.

Penyebab utamanya ialah kesempatan kerja yang tidak merata, tingginya konsentrasi kekayaan, dan ketahanan ekonomi yang rendah. Kita perlu memberi perhatian khusus kepada masalah ini karena akan menimbulkan kecemburuan sosial.

Pengalaman 1998 ketika koefisien Gini mencapai 0,38, rakyat marah. Mereka menjarah dan merusak hasil pembangunan yang sudah susah payah kita lakukan.

Bentuk ekonomi yang dicita-citakan para pendiri bangsa pun tidak seperti ini. Negara ini dibentuk untuk menciptakan kesejahteraan umum. Bahkan UUD 1945 menegaskan asas perekonomian yang kita anut berdasarkan semangat kekeluargaan.

Artinya, meski arah yang ditempuh ekonomi pasar, tetap harus berjiwa sosial.

Terjemahan dari semua itu, kita harus peduli pada orang di sekitar kita. Ibaratnya, kita tidak akan pernah bisa tidur ketika tetangga masih kelaparan.

Caranya bukan dengan memberikan bantuan, melainkan dengan memberdayakan kaum yang papa. Kini yang lebih menonjol ialah sikap individualistis.

Kita cenderung menjadi masyarakat serakah, tidak ada puasnya mengejar materi meski itu dilakukan dengan cara merugikan orang lain.

Kasus 'papa minta saham' yang diduga melibatkan Ketua DPR Setya Novanto merupakan contoh nyata.

Bagaimana pemimpin lembaga negara yang menikmati kekayaan dan kini mendapatkan kehormatan, tidak bersyukur atas apa yang sudah didapatkannya.

Ia masih merasa kurang sehingga bermimpi untuk memiliki private jet. Padahal, di daerah pemilihan yang diwakilinya di Nusa Tenggara Timur, kemiskinan begitu nyata.

Banyak konstituennya yang harus berjuang keras untuk bisa mendapatkan makan pada hari itu.Boro-boro memikirkan masa depan dan mengumpulkan tabungan untuk hari depan mereka.

Masih kuatnya mentalitas para pemburu rente menyebabkan ketahanan ekonomi kita rendah.

Kita seperti hebat dalam pencapaian pertumbuhan ekonomi, tetapi sebenarnya itu semu karena lebih didorong rent seeker economy. Lebih jauh, itu berakibat tidak terciptanya pemerataan. Oleh karena itu, tidak bosan-bosannya kita mengingatkan pentingnya transformasi struktural.

Ekonomi harus berbasis produktivitas agar tercipta efisiensi dan peningkatan daya saing. Presiden Joko Widodo harus bersungguh-sungguh memberantas praktik yang mendistorsi perekonomian. Praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme jangan dibiarkan.

Itulah yang menyebabkan tidak adanya pemerataan kesempatan kerja dan berbagai peluang perbaikan hidup di negeri ini hanya dikuasai orang itu-itu saja.

Kita mendorong kasus 'papa minta saham' diusut tuntas, bukan karena kita tidak suka terhadap Setya Novanto, melainkan karena kita sayang kepada negeri ini dan kasus tersebut harus dijadikan pintu masuk menghentikan praktik pemburuan rente.

Kalau gagal menggunakan momentum ini, kita akan bernasib seperti Brasil yang mengalami kontraksi dahsyat karena membiarkan praktik korupsi tetap berjalan.

Kehadiran pemerintahan Jokowi diharapkan mengakhiri kesenjangan yang semakin melebar. Hanya dengan kemauan keras kita bisa menghindarkan berulangnya malapetaka sosial seperti 1998.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.