Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
KESENJANGAN ekonomi kian menari tinggi di sini.
Inilah nubuat yang selalu pasti untuk Indonesia justru selama era reformasi, era ketika spirit menggantikan kekuasaan yang korup dan dituding hanya menguntungkan segelintir warga, dipatrikan sebagai kehendak baru bangsa ini.
Selama 15 tahun terakhir Indonesia memang mengalami pertumbuhan ekonomi yang meyakinkan. Namun, ini lebih dinikmati 20% warga terkaya. Adapun 80% penduduk, lebih dari 205 juta orang, rawan tertinggal. Inilah negara yang kian menjadi surga bagi kaum kaya dan neraka bagi kaum tak berpunya.
Karena itu, tak mengherankan ketika Bank Dunia Selasa (8/12) silam merilis laporan bertajuk Ketimpangan Semakin Lebar. Ketimpangan kaya versus miskin di Indonesia termasuk paling tinggi di dunia.
Di Indonesia 1% orang terkaya menguasai separuh lebih kekayaan negeri ini. Mereka menguasai aset keuangan, seperti properti atau saham. Inilah yang ikut mendorong ketimpangan.
Pada 2002, seluruh nilai konsumsi 10% warga paling kaya di negeri ini setara total konsumsi warga tak berpunya. Pada 2014, seluruh konsumsi 10% warga terkaya setara seluruh konsumsi 54% warga paling papa.
Dari sisi penguasaan kekayaan, 10% orang terkaya di Indonesia menguasai 77% seluruh kekayaan negeri ini. Negeri yang oleh Eduard Dauwes Dekker diamsalkan sebagai 'zamrud khatulistiwa'.
Salah satu penyebab pengumpulan kekayaan itu ialah perbedaan cara pemungutan pajak penghasilan dari pekerja dan para orang kaya, terutama pemilik modal.
Pengumpulan kekayaan sebagian dari mereka juga diperoleh dari hasil korupsi. Ini menguatkan apa yang pernah dinyatakan oleh Francis Bacon,
"Ada banyak cara untuk menjadi kaya, dan kebanyakan adalah kotor."
Yang kian menyedihkan, kesenjangan juga karena ketidakadilan sejak lahir.
Banyak anak Indonesia tidak mendapat awal hidup yang layak, seperti tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, dan air bersih.
Bahkan 18% anak Indonesia tak mampu bersekolah.
Sementara kaum kaya menikmati berlipat-lipat kemewahan dan kesempatan untuk bersekolah, melancong, berobat, dan hidup di mana saja.
Kita bisa bayangkan, negeri yang kemerdekaannya direbut dengan heroisme rakyat semesta ini, kini justru seperti kian menjauhkan mereka dari buminya sendiri.
Inilah paradoks spirit yang kian menyulitkan negara ini memperbaiki kehidupan kaum tak berpunya. Kesenjangan yang kian lebar berpotensi menjadi lahan subur radikalisme dan konflik sosial.
Karena itu, Bank Dunia berharap hasil pemilihan kepala daerah bisa menjadi salah satu solusi mengatasi kesenjangan sosial itu, antara lain dengan mengupayakan pelaksanaan pendidikan berkualitas, memperbaiki pelayanan umum, dan kesempatan bursa kerja dengan peningkatan keterampilan mereka.
Namun, politik yang tak berpihak kepada rakyat, bisakah menjadi solusi? Pendidikan bermutu yang menjadi solusi fundamental mengatasi kesenjangan, belum jelas arahnya.
Alokasi anggaran 20% APBN, ternyata tak kunjung menghasilkan pendidikan berkualitas. Bahkan, dalam soal perbaikan kualitas pendidikan, kita kalah dengan Vietnam.
Para pengelola negara harus menyadari, betapa negara yang hanya menjadi surga bagi kaum kaya, dan neraka bagi kaum tak berpunya, ialah pengkhianatan terhadap konstitusi, UUD 1945, yang paling nyata.
Karena itu, laporan Bank Dunia, harus dilihat sebagai sebuah tamparan.
Jika tak serius diatasi, kesenjangan atau kata fisikawan Stephen Haw king, aksi manusia-manusia serakah, bisa meluruhkan negara, meluruhkan Indonesia.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved