Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
BELUM pernah rakyat melihat Presiden Jokowi marah. Sekali ia marah, kemarahan tepat sasaran, seaspirasi dengan kemarahan publik.
Menonton tayangan itu di Metro TV, menyimak kata-katanya, nadanya, terasa negara dan bangsa ini memiliki presiden, pemimpin.
Kemarahan itu mengekspresikan ketegasan, pemisahan, dan wibawa.
Presiden tegas menghormati Mahkamah Kehormatan Dewan. Ia menyatakan, "Proses di MKD harus dihormati."
Ternyata, bukan hanya proses di MKD tak patut dihormati, MKD sebagai lembaga pun tidak layak dihormati. Rakyat marah kepada MKD.
Presiden Jokowi juga marah, seaspirasi dengan publik. Akan tetapi, ia tegas memisahkan penghinaan terhadap dirinya sebagai presiden dengan penghinaan terhadap presiden RI sebagai lembaga negara.
Dalam hal itu Jokowi konsisten. Sampai saat ini, misalnya, ia tidak membawa ke muka hukum tabloid Obor Rakyat yang menghina dirinya pribadi semasa pilpres.
"Saya tidak apa-apa disebut presiden gila, saraf, presiden koppig, tidak apa-apa. Namun, jika sudah menyangkut wibawa, mencatut meminta saham 11%, ini yang saya tidak mau, tidak mau. Ini masalah kepatutan, kepantasan, moralitas, dan itu masalah wibawa negara."
Frasa 'saya tidak mau, tidak mau' yang diulang, menunjukkan ketegasan pemimpin.
Di lain segi, kemarahan Presiden menguak kebenaran dan distorsi. Yang dilakukan Sudirman Said benar. Sebelum ke MKD, ia minta petunjuk Presiden. Perkara lalu digelar di MKD, rekaman diperdengarkan dalam sidang terbuka.
Sudirman ternyata bukan hanya melaksanakan petunjuk Presiden.
Ia membawa pesan sangat serius, yang kemudian tampak dalam kemarahan Presiden.
"Tetapi... tetapi, tidak boleh yang namanya lembaga negara dipermain-mainkan. Lembaga itu bisa kepresidenan atau lembaga negara lain," kata Presiden.
Dua lembaga negara, kepresidenan dan DPR, memang dipermain-mainkan. Lembaga presiden dipermain-mainkan.
DPR dipermain-mainkan dengan MKD bersidang tertutup, justru kala memeriksa pokok perkara, teradu Ketua DPR Setya Novanto.
Kemarahan Presiden juga membuka distorsi informasi untuk publik yang dilakukan Menkopolhukam Luhut Pandjaitan terhadap Menteri ESDM Sudirman Said.
Harian Kompas (20/11) menulis, selengkapnya, "Luhut mengatakan tak ada restu dari Presiden kepada Sudirman untuk membawa kasus itu ke MKD.''
"Aneh saja, kenapa Sudirman melaporkan itu ke MKD. Tanyakan saja kepada dia," katanya.
Luhut juga menegaskan, "pemerintah tak ingin memperpanjang pencatutan nama ini."
Pemerintah mana yang dimaksud Luhut? Presiden Jokowi, yang memimpin pemerintah RI yang sah, nyatanya marah lembaga kepresidenan dicatut.
Menko Polhukam Jenderal (Purn) Luhut Pandjaitan mestinya minta maaf kepada koleganya, Menteri ESDM Sudirman Said, karena telah menilai perbuatan melaporkan ke MKD sebagai an act of insubordination to the President (The Jakarta Post, 19/11). Bukankah insubordinasi merupakan pelanggaran serius dalam militer?
MKD memang sejak awal didesain lebih untuk melindungi diri sendiri, anggota DPR. Kalau anggota DPR saja dilindungi, terlebih Ketua DPR.
Baiklah pula diingat, Ketua DPR Setya Novanto hanya dihukum ringan karena bertemu bakal calon presiden AS Donald Trump, yang sekarang dipersoalkan sebagai penebar kebencian terhadap Islam.
Di mata publik, moral MKD sudah bangkrut. Publik tinggal berharap pada Kejaksaan Agung membawa kasus ke pengadilan. Publik akan senang karena pengadilan pasti terbuka.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved