Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
PADA Pertemuan Tahunan Bank Indonesia pekan lalu, Gubernur BI Agus Martowardojo menyampaikan presentasi dengan cara menarik. Dengan ilustrasi yang dinamis, ia menggambarkan persoalan ekonomi yang kita hadapi dan respons yang harus dilakukan agar bisa melewati kondisi global yang diliputi ketidakpastian pada 2016. Agus optimistis tahun ini pertumbuhan ekonomi kita bisa mencapai 4,8%. Artinya kuartal IV ini pertumbuhan harus mencapai 5,1% agar target bisa tercapai. Kalau itu bisa dilakukan, tahun depan BI melihat pertumbuhan bisa membaik di kisaran 5,2%-5,6%. Kunci dari semua itu, menurut Agus, tidak ada lain kecuali mendorong industrialisasi.
Bahkan, secara tegas Gubernur BI mengingatkan pentingnya penguasaan industri barang modal, industri dasar, dan industri kimia. Tekanan pada defisit neraca transaksi berjalan disebabkan tingginya impor setiap kali kita hendak melakukan pembangunan industri. Kontribusi industri terhadap produk domestik bruto dalam beberapa dekade terus menurun. Apabila pada masa Orde Baru kontribusi bisa mencapai 35%, sekarang hanya di kisaran 23%.
Wakil Presiden Jusuf Kalla merespons penjelasan Gubernur BI dengan mengatakan industrialisasi hanya akan terjadi apabila ada investasi. Namun, seperti teori John Milton Keynes, minat investasi ditentukan tingkat suku bunga. Kalau tingkat suku bunga tinggi, siapa pun akan enggan berinvestasi karena beban uang yang terlalu mahal. Oleh karena itu, Wapres kembali mengingatkan perbankan untuk berani menurunkan tingkat suku bunga. Sepanjang BI pun masih menerapkan kebijakan suku bunga tinggi, jangan harap pembangunan ekonomi seperti diharapkan Gubernur BI bisa terjadi.
Wapres tidak menutup mata bahwa BI mempunyai tanggung jawab untuk menjaga nilai mata uang dengan mengendalikan tingkat inflasi. Namun, tidak bisa jika untuk melaksanakan tugas tersebut BI tidak peduli dengan indikator lain. Untuk itu, Jusuf Kalla mengajak BI bekerja sama dengan pemerintah melakukan pembangunan, yang muaranya kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Inilah persoalan klasik yang tidak pernah bisa kita selesaikan. Ibarat ayam dan telur, kita tidak bisa pernah memutuskan untuk memulai dari mana. Otoritas moneter selalu dihadapkan kepada ketakutan apabila tingkat suku bunga diturunkan, akan terjadi arus modal keluar dan nilai tukar rupiah akan melemah. Kenyataannya, dengan BI rate 7,5% seperti sekarang, nilai tukar rupiah tidak juga menguat. Padahal, kita sudah mengorbankan potensi untuk mendorong pertumbuhan. Kita harus membayar rezim suku bunga tinggi dengan investasi yang relatif rendah. Kita membutuhkan cara lain untuk memutuskan lingkaran setan ini.
Dengan berkaca pada pengalaman negara lain, kita harus mendorong produktivitas. Salah satu yang bisa mendorong efisiensi ialah penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hanya dengan itu kita akan memiliki daya saing. Syaratnya kita harus menghapus ekonomi biaya tinggi dan menciptakan persaingan yang sehat.
Kini kita belum mampu menciptakan levelled playing field. Ekonomi kita lebih banyak dikuasai kelompok pemburu rente. Itulah yang menciptakan ketidakpastian dan akibatnya biaya semakin tinggi. Untuk melawan itu tinggal dibutuhkan kemauan kuat dan kebersamaan. Faktor keberhasilan pembangunan tidak pernah tunggal. Sambil kita melakukan deregulasi dan debirokratisasi, BI perlu lebih berani melakukan kebijakan moneter yang propertumbuhan.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved