Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Rupiah

11/3/2015 00:00
Rupiah
MI/Seno(Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group)
SEORANG teman pengusaha menceritakan pemerintah sekarang ini serius sekali memeriksa pajak. Tidak tanggung-tanggung, petugas Direktorat Jenderal Pajak membawa anggota Badan Reserse dan Kriminal Kepolisian Indonesia untuk datang ke perusahaan-perusahaan.

Apakah pemeriksaan pajak itu menakutkan pengusaha? “Saya tidak pernah takut diperiksa. Saya tidak pernah takut untuk membayar pajak. Yang saya takutkan itu perusahaan tidak untung dan tidak bisa membayar gaji pegawai,” kata teman saya.

Dengan 30 ribu pegawai dan rata-rata gaji Rp3,2 juta, setiap bulan ia harus menyiapkan anggaran minimal Rp100 miliar untuk membayar  gaji karyawan. Kalau kondisi ekonomi normal, bukan sesuatu yang sulit untuk membayar gaji. Namun, sekarang ini kondisinya benar-benar tidak menguntungkan.

Seluruh dunia sekarang ini sedang mengalami kelesuan. Tiongkok yang selama ini selalu bisa tumbuh ekonominya mengalami perlambatan. Harga properti di negara itu turun hampir setengahnya. Demikian pula di Singapura.

Kondisi di Indonesia diperparah pelemahan nilai tukar rupiah yang terlalu cepat. Tidak sampai satu tahun nilai tukar rupiah melemah sekitar 30%. Pekan lalu, nilai tukar rupiah menembus Rp13 ribu per dolar AS.

Bagi negara yang basis ekspornya manufaktur, pelemahan nilai tukar membawa berkah. Harga jual produk di pasar internasional menjadi kompetitif. Masalahnya ekspor kita sekarang ini sebesar 67% masih komoditas primer dan hanya 33% dalam produk manufaktur. Inilah yang menyebabkan pelemahan rupiah justru menambah beban.

Pemerintah tidak bisa hanya mengatakan semua masih berjalan normal. Sekarang ini kondisinya tidak normal. Apalagi  banyak korporasi yang dihadapkan pada utang yang jatuh tempo. Tiba-tiba beban utang mereka bertambah 30%. Terutama yang pinjamannya dalam bentuk dolar dan penerimaannya dalam rupiah pasti mendapat masalah besar.

Kita percaya bahwa kondisi sekarang ini berbeda ketimbang 1998. Hanya, saat 1998 ada agenda politik di balik krisis  keuangan yang terjadi. Ada manuver dari Presiden Bill Clinton untuk menyebarkan demokratisasi dan menjatuhkan Presiden Soeharto.

Sekarang ini tidak ada agenda politik dari luar. Kita memang terkena imbas politik AS terhadap Rusia. Namun, persoalan yang lebih menekan justru datang dari dalam negeri sendiri. Selama dua bulan terakhir yang terjadi kegaduhan politik.

Pada semua tingkatan, kita melihat elite berkelahi. Kaum cerdik cendekia pun ikut larut dalam kegaduhan. Dengan mengatasnamakan gerakan rakyat, mereka terlibat politik praktis.

Politik memang selalu menyenangkan karena hanya berada di tataran bicara dan kondisi yang dianggap ideal. Padahal, dalam realitas tidak pernah ada kondisi yang ideal itu. Orang tetap harus bekerja agar bisa makan.

Untuk itu, kita berharap semua pihak berpijak pada dunia nyata. Sekarang ini yang tidak kalah penting diperhatikan ialah persoalan ekonomi. Dunia usaha membutuhkan sinyal yang jelas bahwa pemerintah bisa mengendalikan keadaan.

Pelemahan rupiah yang terlalu cepat bukan hanya karena faktor eksternal, melainkan juga faktor psikologis. Semua merasa tidak ada kepemimpinan dan hanya diombang-ambingkan perpolitikan praktis.


Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.