Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Watergate

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
28/11/2015 00:00
Watergate
(MI/SENO)
KEINGINAN Richard Nixon untuk bisa terpilih kembali sebagai presiden Amerika Serikat pada pemilihan presiden 1972 membuat ia melakukan segala cara.

Salah satunya dengan membiarkan tim kampanye menyelinap masuk ke Kantor Partai Demokrat untuk mengetahui strategi yang dipersiapkan saingannya, Hubert Humphrey.

Kejadian itu nyaris terbungkus rapi dan tidak diketahui siapa pun.

Nixon pun kemudian dilantik kembali menjadi presiden pada Januari 1973.

Namun, tidak semua orang bisa berkompromi dengan hati nuraninya dan menutup mata terhadap kejahatan politik yang terjadi.

Orang itu kemudian membocorkan kecurangan yang dilakukan Nixon kepada dua wartawan The Washington Post, Bob Woodward dan Carl Bernstein.

Oleh karena informasinya deep throat, pemimpin redaksi The Washington Post tidak berani memublikasikannya.

Di samping sulit melakukan verifikasi, ini berkaitan dengan kekuasaan tertinggi di AS, yaitu presiden yang sedang berkuasa.

Namun, sumber deep throat itu terus menyampaikan informasi, yang denah lokasi, orang-orang yang diduga terlibat, benar-benar nyata.

Itulah yang membuat Woodward dan Bernstein yakin informasi itu benar.

Hal itulah yang membuat The Washington Post akhirnya berani memublikasikan dan kemudian menjadi Skandal Watergate.

Butuh dua tahun wartawan The Washington Post untuk memaksa Nixon dan para pembantunya mengakui kejahatan politiknya.

Nixon akhirnya memutuskan mundur pada 1974 setelah Jaksa Agung AS memperingatkan bahwa ia akan terkena pemakzulan di Kongres apabila tidak mengakui kesalahan dan mengundurkan diri sebagai presiden.

Setelah 30 tahun misterius, akhirnya pada 31 Mei 2005 tokoh deep throat itu membuka identitasnya. Tokoh yang tidak bisa melawan hati nurani ialah mantan Direktur Biro Investigasi Federal, W Mark Felt.

Kita sengaja angkat cerita itu karena hampir mirip dengan kejadian yang diduga melibatkan Ketua DPR Setya Novanto dalam kasus 'papa minta saham' PT Freeport Indonesia.

Praktik perburuan rente seperti ini umum terjadi di Indonesia, tetapi tidak pernah ada buktinya.

Baru setelah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said melaporkan kepada Mahkamah Kehormatan Dewan, terkuaklah praktik yang merugikan perekonomian nasional itu.

Kasus ini baru menggelinding dan belum selesai.

Seperti Skandal Watergate, dibutuhkan waktu yang lama untuk melawan hegemoni kebobrokan.

Nixon pun baru dua tahun setelah kejadian mau mengakui kesalahan dan mengundurkan diri.

Keteguhan untuk melawan ketidakbenaran harus dilakukan karena ini akan berpengaruh terhadap kepercayaan publik dan dunia internasional.

Kalau kita membiarkan berbagai praktik KKN, orang tidak akan terpacu untuk meningkatkan produktivitas.

Orang enggan mengembangkan bisnis karena tidak ada leveled playing field.

Pengalaman Brasil menunjukkan kondisi itu akan menyebabkan negara tidak memiliki efisiensi dan kehilangan daya saing.

Dalam papernya berjudul Will China's Anti-corruption Campaign Help Its Economy Deviate the 'Middle Income Trap'?, mahasiswa Universitas Shanghai, Chu Zitao, melihat langkah pemberantasan korupsi tanpa kompromi yang dilakukan Presiden Tiongkok Xi Jinping membuat negeri itu bangkit dan mampu menghadapi persaingan global.

Ke sana jugalah Indonesia harus menuju. Kita sudah sejak 1998 menyatakan perang terhadap KKN. Namun, kita setengah hati menjalankannya.

Akibatnya, hal yang paling kita benci dari era Orde Baru tetap saja berjalan di era Orde Reformasi.

Yang berubah hanya pemain, tetapi praksisnya tetap sama, yaitu memburu rente dengan 'papa minta saham'.


Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.