Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
INI beberapa cerita berbeda dari perjumpaan tak sengaja, tapi punya satu makna: ketakberdayaan.
Pertama, Yuldasari, sopir taksi yang suatu siang membawa saya ke Kebayoran Lama. Lelaki kelahiran Agam, Sumatra Barat, 44 tahun silam itu merantau ke Jakarta pada 1990-an. Setamat SMA sejatinya ia ingin kuliah, tetapi setelah mengalkulasi kemampuan ekonomi, itu jadi muskil.
Mula-mula ia berdagang pakaian di Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Penghasilannya lumayan. Ia sempat bermimpi usahanya bakal dibesarkan. Namun, ketika mal tumbuh di mana-mana, usahanya mulai tersendat.
Dengan segala hitung-hitungan, ia putuskan berganti usaha: membuka toko sembako. Menurutnya, hal-hal yang berkaitan dengan perut pasti enggak ada matinya. Dengan gairah, ia pun membuka usaha baru itu. Hitung-hitungannya benar, tapi hanya sementara.
Ia pun tak kuasa menahan gempuran persaingan yang memang tak sebanding itu. Ia kalah lagi.
"Ketika minimarket tumbuh subur di mana-mana, para pembeli pun berpaling ke lain hati. Tak mungkin kami bersaing dengan para raksasa. Tiga tahun ini saya membawa taksi," kata ayah dua anak ini.
Kini ia tak berani bermimpi lagi. Katanya, untuk orang kecil seperti dirinya, negeri ini kerap 'mendadak' sulit diprediksi.
Kedua, Naih. Lelaki kelahiran Kabayoran Lama, 52 tahun. Secara turun-temurun ia menjalankan usaha konfeksi.
Ketika orang-orang Padang datang dengan keterampilan lebih baik, mesin jahit dan obras lebih bagus, usaha Naih dan kawan-kawan rontok. Ia lalu jadi pedagang asongan di Blok M, dan terakhir jadi joki three in one.
Pagi itu untuk pertama kali, dengan terpaksa, saya memakai jasa sang joki, Naih. Ia tak berjejer di pinggir jalan seperti galibnya joki. Naih duduk tersembunyi di sebuah halte Kebayoran Baru. Ia baru menawarkan jasa kalau ada mobil berhenti.
"Saya masih malu," kata ayah tujuh anak ini.
Ketiga dan selanjutnya, banyak cerita dari beberapa saudara, kenalan, kawan-kawan lama, yang memilih dunia usaha. Memang satu-dua ada yang menjadi kaya, tapi lebih banyak yang jatuh. Ada yang beberapa bulan tak mampu membayar karyawan dan cicilan bank. Ada yang terpaksa menjual tanah pada pengusaha raksasa.
Ia hanya bisa memandang dengan ketinggian di atas tanah yang dulu miliknya, kini telah tumbuh gedung-gedung jangkung, dengan harga yang tak terbayangkan.
Yuldasari dan Naif, juga beberapa cerita lain, hanyalah sebuah noktah rangkaian ketakberdayaan menghadapi belantara persaingan usaha tak sepadan itu. Ditambah, belakangan situasi ekonomi tak bertumbuh baik.
Inilah ekonomi pasar, yang semua orang harus bertarung bebas. Kesenjangan kaya-miskin kian lebar. Politik yang kian oligarkis kian menyuburkan pula para pemburu rente.
Lalu, dengan kekuatan apa 70 juta penduduk miskin harus bersaing, bertumbuh, dan menikmati keadilan?
Merekalah yang terempas! Saya sependapat dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla, bahwa penguatan dan kemakmuran rakyat, akan menangkal radikalisme.
"Pemerintahan yang tidak adil memunculkan generasi radikal yang berpikiran pendek," katanya ketika menutup Konferensi Internasional Ke-4 Cendekiawan Muslim di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Kota Malang, Jawa Timur, Rabu (25/11).
Namun, kesenjangan justru seperti dibiarkan. Padahal, ia bisa jadi bom waktu yang merapuhkan keindonesiaan. Politik yang keruh seperti sekarang, muskil memikirkan keadilan, kemakmuran.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved