Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
ADA dua jenderal yang membetot perhatian saya karena keteguhan hati dan ketegasan aksi. Yang pertama, Irjen Mohamad Fadil Imran, perwira tinggi polisi bintang dua, kini Kapolda Metro Jaya. Yang kedua, Jenderal Dudung Abdurrahman, mantan Pangdam Jaya, kini Kepala Staf Angkatan Darat.
Dua-duanya menghasilkan efek ketenteraman dan menghidupkan toleransi antarwarga yang majemuk. Saat kedua jenderal itu berkolaborasi di Jakarta, efeknya bahkan terasa secara luas hingga kini. Banyak yang berharap, efek tenteram penuh toleransi itu bersifat permanen dan terus-menerus hadir.
Kalau saya menyebut Fadil effect dan Dudung effect, bukan berarti para elite yang lain tidak melakukan ikhtiar yang sama untuk tantangan serupa. Mereka barangkali sudah melakukannya berkali-kali, tapi sepertinya belum ngefek. Atau, efeknya belum seterasa sekarang.
Titik mulanya ialah saat keduanya memimpin teritori Jakarta setahun lalu. Ketika itu, sebagai kapolda baru, Fadil Imran tancap gas tanpa ragu meringkus siapa pun yang bertindak intoleran. Pangdam Jaya, saat itu Dudung Abdurrahman, mendukung langkah serupa.
Dudung memerintahkan pasukannya menurunkan baliho-baliho raksasa simbol tantangan terhadap pemerintahan yang konstitusional. Dalam baliho itu juga tertera teks-teks bernuansa provokasi dan sikap intoleran.
Kelompok yang selama ini dirasakan oleh sebagian besar warga kerap membuat resah dan intoleran, tapi nyaris tidak tersentuh, dibawa ke ranah hukum oleh keduanya. Alhasil, kelompok itu dibubarkan. Pascatindakan tersebut, aksi-aksi polisional dan intoleran di Ibu Kota mulai turun. Ada efek psikologis berupa keberanian menyuarakan antikekerasan serta menolak tindakan dan sikap intoleran.
Fadil dan Dudung punya spirit yang sama; tidak ragu-ragu menegakkan prinsip-prinsip mendasar di Republik ini. Toleransi, antikekerasan, tidak main hakim sendiri, itu prinsip dasar yang mesti dilindungi. Bagi keduanya, tidak boleh ada toleransi untuk tindakan intoleran.
Sikap dan tindakan kekerasan serta intoleran tidak ada ruang dalam negara Pancasila. Padahal, Pancasila itu konsensus bersama. Meminjam bahasa almarhum Noercholish Madjid, Pancasila itu kalimatun sawa', titik temu berbagai identitas. Sebagai titik temu, ia mesti didudukkan dalam posisi titik temu. Fadil dan Dudung mendudukkan posisi itu.
Risikonya, dua-duanya dicap 'memusuhi umat Islam'. Kalimat sensitif itu kiranya sengaja ditabalkan agar Fadil dan Dudung ciut nyali. Akan tetapi, sasaran itu meleset. Keduanya punya nyali berlimpah untuk menaklukkan cap-cap itu. Kebetulan, keduanya muslim. Santri pula.
Baik Fadil maupun Dudung amat peduli pada pengembangan masjid yang menyokong moderasi beragama. Penganut moderasi ini mayoritas, tapi kurang bersuara. Sebaliknya, pihak-pihak penganut 'garis keras dan ekstrem' merupakan minoritas, tapi 'berisik'. Sudah berisik, kerap diberi panggung pula.
Maka, tidak mengherankan bila apresiasi diberikan kepada dua perwira tinggi ini. Awal pekan ini, Rabithah Ma`ahid Islamiyah/Asosiasi Pesantren NU (RMI-NU) DKI Jakarta menobatkan Fadil Imran sebagai tokoh moderasi beragama dan kebangsaan. Menurut RMI NU Jakarta, Fadil layak mendapatkan apresiasi itu karena mampu menciptakan kehidupan yang harmonis di DKI Jakarta. Fadil mampu meredam tensi antarkelompok yang sempat memanas karena adanya paksaan kepentingan atas nama ideologi dan agama tertentu.
Pekan lalu, saat dilantik menjadi KSAD, Dudung Abdurrahman kembali menegaskan komitmennya untuk menjadikan TNI Angkatan Darat institusi profesional dan garda terdepan membersihkan sikap-sikap ekstrem di tubuhnya. Sebab, mulai bermunculan prajurit yang tergoda mengikuti kelompok ekstrem, bahkan penebar teror.
Baguslah jika keduanya konsisten memperkuat prinsip-prinsip penting kebangsaan. Sebab, ancaman perusak kerukunan akibat sikap intoleran masih mengintai. Hasil survei terbaru dari INFID bersama jaringan Gusdurian mengonfirmasi itu. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa anak-anak muda memiliki penolakan yang tegas terhadap aksi kekerasan bermotif agama, tapi mereka sangat rentan untuk menjadi intoleran. Butuh efek Fadil dan Dudung selanjutnya.
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved