Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Ketika Rapa'i Ditabuh Bersama

17/11/2015 00:00
Ketika Rapa'i Ditabuh Bersama
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

KETIKA rapa'i pasee ditabuh bersama, itu mestinya jadi penanda kekompakan para pemimpin di Aceh kembali diteguhkan.

Cerita kekerasan 30 tahun yang diakhiri perdamaian harusnya menjadi energi berlipat untuk membangun.

Kita tahu, konflik tak hanya membawa destruksi, tapi yang pertama-tama menjadi korban ialah kebenaran. Karena itu, spontanitas Wakil Presiden Jusuf Kalla sungguh amat tepat.

Malam itu, di Taman Ratu Safiuddin, Banda Aceh, ketika memperingati 10 tahun perdamaian Aceh, Kalla meminta Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf berdiri di sebelah kiri Gubernur Aceh Abdullah Zaini dan ikut menabuh alat musik tradisional Aceh itu, rapa'i.

Seperti termaktub dalam syairnya, ketika alat itu ditabuh, menjadi penerang bumi.

'Di langit tinggi bintang bersinar

Cahaya bak lilin memancar ke bumi

Asal rapa'i dari Syeh Abdul Kadir

Inilah yang sah penciptanya lahir ke bumi'

Di depan tamu undangan Kalla juga minta kedua pemimpin bergandengan tangan.

Tepuk tangan meruah.

"Pemerintahan yang baik adalah jika pemerintah itu kompak, bekerja bersama-sama, saling mengisi. Pak Zaini dan Pak Muzakir, rakyat mengharapkan senyum Bapak berdua di atas panggung ini," kata Kalla, Ahad (15/11).

Hubungan Gubernur-Wakil Gubernur Aceh, seperti banyak pemimpin daerah lain, tak guyub.

Pendahulunya, Irwandi Yusuf-Muhammad Nazar (Gubernur/Wakil Gubernur Aceh 2007-2012), juga retak di tengah jalan.

Para mantan tokoh GAM itu tak seia sekata lagi sebelum tugas mereka tunai.

Wali Nanggroe Malik Mahmud agaknya belum jadi faktor perekat?

Ketika perjanjian Aceh ditandatangani 15 Agustus 2005, selain mematrikan harapan, itu menyemburatkan keraguan.

Ia seperti sebuah kemuskilan.

Mungkinkah dendam karena baku bunuh bisa dilindapkan dari memori kolektif mereka?

Meminjam Francis Fukuyama, modal sosial apa yang bisa diandalkan, yang bersandar pada akar-akar kultural, bisa untuk membangun Aceh?

Faktanya perdamaian berjalan satu dasawarsa. Mereka yang dulu memberontak pun kini memimpin Aceh.

Saya teringat ketika ikut rombongan Wakil Presiden Jusuf Kalla menapaktilasi perdamaian Aceh, di Gedung Konigstedt Manor, Helsinki, Finlandia, Januari 2006.

Inilah tempat perundingan antara para wakil pemerintah RI dan Gerakan Aceh Medeka (GAM) yang menghasilkan kesepakatan damai.

Sebelumnya, ketika Kalla bertemu Sekjen Uni Eropa Javier Solana di Brussels, Belgia, Solana juga memuji perdamaian itu. Ia menginginkan perdamaian Aceh jadi model penyelesaian konflik di Eropa.

Di bawah suhu minus 22 derajat yang menggigilkan seluruh tubuh, pertemuan mereka yang pernah lama berseteru berlangsung penuh kehangatan.

Kalla ditemani antara lain Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda, Menteri Komunikasi Sofyan Djalil, dan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu.

Dari pihak GAM hadir Malik Machmud, Zaini Abdullah, Muzakir Manaf, Irwandi Jusuf, dan M Lampoh. Tokoh tertinggi GAM, Hasan Tiro, batal hadir karena faktor kesehatan.

Sepuluh tahun perdamaian Aceh, dengan kemewahan 'otonomi khusus', mestinya menjadikan provinsi itu kian berkilau. Setelah rapa'i ditabuh, seperti termaktub dalam syair rapa'i, 'Di langit tinggi bintang bersinar' mestinya menerangi hati para pemimpin Aceh. Menerangi rakyat dan seluruh bumi Aceh.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.