Headline

Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.

Ke Bioskop Lagi

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
15/9/2021 05:00
Ke Bioskop Lagi
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

'MALAM Minggu, aye pergi ke bioskop. Bergandengan, ame pacar nonton koboi. Beli karcis, tau-tau kehabisan. Jaga gengsi, terpaksa beli catutan...'

Hampir 60 tahun lalu, Benyamin Sueb menyodorkan lirik lagu Malam Minggu itu kepada Bing Slamet. Yang disodori lalu mengganti judulnya menjadi Nonton Bioskop. Bing Slamet pula yang menyanyikan lagu itu secara pas: kesialan yang didendangkan dengan riang. Lagu itu pun meledak, bahkan dinyanyikan ulang oleh beberapa grup musik era kekinian.

Urusan bioskop memang bukan soal hidup dan mati. Namun, bioskop merupakan bagian penting dalam dunia hiburan. Ia semacam tempat katarsis, bahkan eskatologis, bagi mereka yang penat, dirundung sial, dan dimabuk asmara. Bioskop bahkan kerap jadi tempat nobar (nonton bareng), politisi, dan pejabat di negeri ini.

Sayangnya, sudah lebih dari setahun setengah terakhir bioskop tutup. Pandemi korona membuat bioskop merana. Bisnis tontonan layar perak pun hancur. Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) Djonny Syafruddin mengatakan kerugian gabungan pengusaha mencapai lebih dari Rp1 triliun selama rentang waktu penutupan bioskop yang relatif panjang. Djonny mengatakan kerugian satu bioskop karena tidak beroperasi mencapai Rp150 juta setiap bulan.

Djonny tidak mengarang cerita. Pengelola bioskop PT Graha Layar Prima Tbk (pemilik bioskop CGV) melaporkan kerugian fantastis akibat tidak beroperasinya bioskop, yakni lebih dari Rp445 miliar selama 2020. Padahal, tahun sebelumnya (2019), saat pandemi belum melanda, mereka masih mencetak laba Rp83,3 miliar. Sepanjang 2020, jejaring bioskop CGV hanya mampu membukukan pendapatan Rp255,8 miliar, anjlok 81,9% daripada pendapatan 2019 yang mencapai Rp1,4 triliun.

Penurunan terjadi di berbagai lini bisnis perusahaan mulai bisnis bioskop hingga pendapatan dari iklan. Pendapatan bioskop turun menjadi hanya Rp160,79 miliar dari semula mencapai Rp887,13 miliar. Akibat lanjutannya, pendapatan dari bisnis makanan dan minuman pun ikut turun menjadi hanya Rp64,07 miliar dari sebelumnya Rp358,41 miliar. Tutupnya bioskop dan tayangan film yang terbatas juga memengaruhi pendapatan dari iklan yang turun menjadi Rp30,85 miliar dari 2019 sebesar Rp168,14 miliar.

Kerugian terus terjadi hingga semester I tahun ini. Emiten pengelola bioskop CGV dan penyediaan makanan dan minuman, PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ), itu pun mencatatkan kerugian sebesar Rp168,04 miliar pada semester I-2021. Kerugian sedikit membaik atau turun 9,39% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp185,46 miliar. Meski membaik, tetap saja tidak enak karena merugi.

Maka itu, pengumuman Komandan PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat) Jawa-Bali Luhut Binsar Pandjaitan serasa melegakan. Lega bagi pengusaha bioskop, sekaligus penikmat film-film layar lebar. Luhut mengumumkan daerah-daerah dengan PPKM level 2 dan level 3 boleh membuka lagi bioskop. Syaratnya, hanya untuk separuh kapasitas dan para penontonnya berstatus 'hijau'. Hijau itu maknanya penonton sudah divaksinasi dan tidak terindikasi terkena covid-19. Itu bisa dideteksi lewat aplikasi Peduli Lindungi.

Dunia hiburan, khususnya film, memang sudah menjadi kebutuhan penting. Kian penting saat orang butuh sarana untuk meningkatkan imunitas. Lebih penting lagi karena industri perfilman amat bergantung pada bioskop. Apalagi, pertumbuhan industri film Indonesia semakin meningkat dengan semakin banyaknya produksi film dalam negeri dan jumlah penontonnya.

Pada 2018, sebelum pandemi, misalnya, film yang bergenre romansa remaja, Dilan, mampu menyedot penonton hingga 6,3 juta orang. Film itu juga mampu bertahan di layar-layar bioskop hingga lebih dari satu bulan. Semakin tingginya jumlah penonton yang menyaksikan film lokal tersebut tentu merupakan hal yang sangat menggembirakan bagi industri film nasional. Pasalnya, dengan semakin banyaknya jumlah penonton, diharapkan makin banyak investor yang melirik industri film lokal.

Walhasil, kontribusi industri perfilman Tanah Air terhadap perekonomian nasional bisa digenjot. Data menunjukkan, pada 2015, industri film menyumbang sekitar 0,16% (sekitar Rp25 triliun) terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Jumlah itu memang masih di bawah rata-rata sektor industri kreatif lain yang mampu menyumbang 6,03% terhadap PDB Indonesia. Namun, setelah itu hingga badai pandemi korona melanda, tren kontribusi industri film terhadap PDB terus merangkak naik.

Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencatat jumlah penonton film di Indonesia tumbuh 230% dalam lima tahun terakhir, sebelum akhirnya pandemi covid-19 melanda. Bahkan, Indonesia dikenal sebagai pasar untuk film-film box office terbesar ke-16 di dunia dengan nilai pasar US$345 juta atau sekitar Rp4,8 triliun.

Karena itu, pembukaan kembali bioskop bakal memicu lagi geliat para 'anak turunannya', yakni industri film, pekerja film, pekerja bioskop, dan lambat laun usaha makanan dan minuman. Untuk yang terakhir ini harus lebih bersabar karena pembukaan kali ini belum membolehkan penonton menikmati makanan dan minuman di tempat.

Lambat atau cepat, dengan disiplin protokol kesehatan yang ketat, bioskop akan bergairah kembali. Penonton boleh menikmati film layar lebar lagi sembari mendendangkan syair: 'Aduh Emak, asyiknye. Nonton dua-duaan. Kayak nyonya dan tuan di gedongan. Mau beli minuman, kantong kosong glondangan. Malu ame tunangan, kebingungan'...

 



Berita Lainnya
  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.