Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Dewan Etik

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
12/11/2015 00:00
Dewan Etik
(Grafis Seno)
GEJALA apakah bila di dalam suatu sistem sosial kian diperlukan dewan etika/mahkamah kehormatan atas berbagai cabang kehidupan? Jawaban paling manis ialah karena kian banyak perbuatan melanggar etika. Jawaban paling tidak enak dan ekstrem ialah karena makin banyak yang 'tidak senonoh', 'kurang ajar' di dalam sistem itu sehingga kian diperlukan lembaga etika yang mengawasi, mengadili, menjatuhkan sanksi. Kata 'kurang ajar' seperti keterlaluan, padahal artinya 'tidak sopan'. 'Tidak senonoh' pun berarti 'tidak patut'.

Di masa saya kecil, sehari-hari terdengar pernyataan spontan 'anak kurang ajar' untuk membahasakan anak tidak sopan. Bukan predikat dramatis, kecuali pemberitahuan bahwa yang kurang ajar perlu 'diajar' atau 'dihajar'. Dalam profesi pun kiranya diperlukan pemberian predikat tidak senonoh atau kurang ajar, yang juga berarti perlu 'diajar' atau 'dihajar'. Pelanggaran etika ringan cukup diberi peringatan lisan atau peringatan tertulis pertama, alias masih bisa 'diajar'.

Pelanggaran etika paling berat, paling kurang ajar, 'dihajar' tuntas, yaitu pencabutan izin praktik. Satu-satunya profesi yang mangkus melakukannya di negeri ini hanya profesi dokter. Profesi lain? Paling 'dinonpalukan' (hakim), untuk kemudian suatu hari 'dipalukan' kembali. Belum ada yang tuntas 'dinonpenakan' (wartawan) karena diberhentikan di suatu media, tak berarti kiamat bagi media lain. Yang paling baru ialah keinginan Komisi Pemilihan Umum membentuk dewan etika bagi lembaga survei yang memproduksi hitung cepat.

Alasannya, hitung cepat yang dihasilkan perbuatan 'tidak senonoh', perbuatan 'kurang ajar', dapat menyesatkan opini publik. Dalam konteks pilkada serentak, opini sesat itu dikhawatirkan membuat warga pendukung pasangan calon kepala daerah amat mungkin dapat dimobilisasi melakukan tindakan anarkistis. Kekhawatiran itu mungkin berlebihan, tetapi lebih baik mengambil langkah preventif ketimbang setelah kejadian. Pilkada serentak berpotensi melahirkan kehebohan serentak, bila di mana-mana bermunculan hasil hitung cepat serentak, dengan hasil serentak pula saling bertentangan antara satu lembaga survei dan lembaga survei lainnya.

Lembaga survei manakah yang dipercaya? Manakah yang manipulatif? Siapa yang berhak menilainya? Hanya menilai, ataukah sampai pada penghakiman, menjatuhkan vonis? KPU menjawabnya dengan keinginan membentuk dewan etika yang terdiri dari 5 orang, yaitu 2 akademisi, 2 profesional/ahli survei, dan 1 anggota KPUD yang bersangkutan (Media Indonesia, 10/11). Dewan itulah yang menindaklanjuti laporan masyarakat, mengadilinya, memberi sanksi seperti larangan melakukan hitung cepat, atau memberi rekomendasi agar dibawa ke ranah hukum bila terjadi pelanggaran pidana.

Pilihan lain ialah KPU cukup menyampaikan laporan kepada asosiasi lembaga survei untuk diambil tindakan. Itu pun tidak harus disertai memiliki dewan etika permanen. Faktanya, asosiasi lembaga survei responsif dan bertanggung jawab terhadap anggotanya yang melakukan perbuatan melanggar etika. Buktinya, mereka cepat melakukan penghakiman dan penghukuman terhadap lembaga survei yang 'ngawur' melakukan hitung cepat dalam Pilpres 2014.

Karena itu, apa perlunya KPU membuat dewan etika, apalagi untuk profesi pihak lain? Persoalan prinsip ialah hanya KPU yang berwenang menetapkan hasil pemilu/pilkada. Karena itu, saban kali lembaga survei mengumumkan hasil hitung cepat, wajiblah disertai dengan pernyataan bahwa KPU satu-satunya lembaga yang berwenang menetapkan hasil penghitungan suara. Tunggulah hasil KPU.Bagi lembaga survei yang tidak melakukannya, KPU tinggal membatalkan pendaftarannya di KPU.


Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.