Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Prof Emil Salim

11/11/2015 00:00
Prof Emil Salim
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

TIDAK banyak ahli ekonomi 'Mafia Berkeley' yang masih ada. Tinggal beberapa, seperti Prof Soebroto, Prof JB Sumarlin, dan Prof Emil Salim. Pemikiran mereka tentang pembangunan tidak pernah berhenti. Kelompok itu ialah pemikir ekonomi pembangunan yang membawa Indonesia masuk ke perekonomian modern.

Sebagai pemikir, mereka sangat kritis. Pandangan mereka sangat tajam, tetapi dengan bahasa yang penuh kesantunan. Kita menikmati sebagai intellectual discourse yang memperluas wawasan.

Kita bisa ikuti, misalnya, pemikiran Prof Emil dalam isu pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung serta Trans-Pacific Partnerships (TPP). Kita ketahui rencana pembangunan kereta cepat menimbulkan dampak hubungan bilateral. Jepang merasa diperlakukan tidak adil ketika proyek itu diberikan kepada Tiongkok. Tokyo sampai memperingatkan pengusaha Jepang untuk mempertimbangkan dua kali ketika hendak menanamkan modal di Indonesia.

Prof Emil tidak melihat isu kereta cepat dari kacamata perpolitikan. Sebagai mantan menteri perhubungan, ia hanya mempertanyakan apakah tepat kereta cepat perlu didahulukan? Apakah tidak lebih baik didahulukan pembangunan kereta di luar Jawa agar keinginan membangun pusat pertumbuhan baru bisa direalisasikan.

Dari sistem pembiayaan, Prof Emil mempertanyakan cara pandang pemilihan Tiongkok karena pembiayaannya business to business. Konsorsium badan usaha milik negara yang ditunjuk sebagai mitra bisnis perusahaan Tiongkok dianggap sebagai entitas bisnis semata. Padahal, dalam BUMN ada anggaran yang disisihkan. Apabila terjadi sesuatu dengan perusahaan patungan, negara tidak bisa lepas tangan.

Yang disampaikan Prof Emil kita rasakan saat pembahasan RAPBN 2016. Pemerintah meminta DPR untuk memberikan penyertaan modal negara kepada BUMN. Terbukti BUMN bukan hanya entitas bisnis seperti halnya swasta, melainkan juga memerlukan anggaran negara secara tidak langsung.

Pemikiran terbaru Prof Emil berkaitan dengan keinginan Presiden Joko Widodo ikut bergabung dengan TPP. Setelah Brunei, Malaysia, Singapura, dan Vietnam memutuskan bergabung dengan TPP, kita merasa ketinggalan kereta. Kita berpikiran ikut bergabung karena menguntungkan.

Prof Emil mengingatkan kita untuk memahami dahulu TPP agar kita mengetahui manfaat dalam blok perdagangan itu. Kalau kita sekadar ikut-ikutan, kita akan menjadi korban liberalisasi perdagangan.

TPP berorientasi pada perdagangan dan tidak memedulikan pembangunan di negara anggota. Pemikirannya perdagangan bebas itu menciptakan efisiensi. Perusahaan jangan diikat dengan terlalu banyak aturan dan biarkan dia bebas karena mereka akan menciptakan efisiensi sendiri.

Sejak Adam Smith melahirkan ilmu ekonomi, premisnya akan tercipta harga yang ekonomis ketika permintaan sesuai dengan pasokan. Kita lupa, manusia itu mempunyai juga sikap serakah. Di sanalah muncul upaya mendistorsi pasar.

Ketika riset dan pengembangan belum menjadi kekuatan kita, ketika produk unggulan masih berbasis sumber daya alam, kita tidak berdaya di TPP. Bahkan masyarakat akan jadi korban pasar. Produk-produk farmasi hanya berbasis produk paten dan tidak mengenal produk generik.

Pemikiran Prof Emil sangat penting, setidaknya membuat kita tidak mudah terlena. Kita kadang membutuhkan pemikiran yang berbeda agar kita tidak salah arah.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.