Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
BERAPAKAH harga martabak? Berapakah pula harga martabat? Dari sudut idealisme, jarak keduanya mestinya jauh sekali, bagaikan langit dan bumi.
Akan tetapi, dalam kenyataan, bisa dekat sekali. Bahkan, maaf, boleh jadi sudah sedemikian rusak etika dan fungsi kepublikan sehingga tak ada lagi beda martabat dan martabak.
Lihatlah tuts telepon seluler. Jarak martabat dan martabak hanya empat langkah, dari huruf t ke k. Terpeleset atau terjatuh sedikit saja jemari, martabat berubah menjadi martabak.
Celakanya, itu tak hanya bisa terjadi di tuts telepon seluler atau komputer, tetapi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan salah satu masalah besar. Ketika orang mempersoalkan kejujuran, kebersihan, integritas, sebenarnya orang sedang mempersoalkan martabat yang jatuh takhta menjadi martabak.
Martabat ialah kehormatan, harga diri, mahkota. Ia dijunjung sangat tinggi. Martabat penyelenggara negara bahkan dikukuhkan dengan sumpah jabatan. Dalam rupiah, berapakah harga martabat? Ketika rupiah melemah seperti saat ini, apakah harganya juga turut melemah?
Martabat yang padanannya harga diri dan kehormatan itu tak diperjualbelikan dan tiada terperi harganya. Barang siapa berani mencoba-coba menawar harganya selayaknya 'ditabok'. Bukan saja karena itu termasuk gratifikasi, korupsi, melainkan juga penghinaan.
Sebaliknya, berapakah harga martabak? Tak perlu tawar-menawar. Bukan saja karena harganya murah, melainkan juga harga pasti. Di beberapa ibu kota provinsi saya mendapat jawaban harganya tak sampai Rp25 ribu. Segitulah nilai kehormatan, harga diri jabatan publik, bila martabat terhina menjadi martabak.
Martabat merupakan hasil pendidikan di rumah dan di sekolah. Ia bertumbuh di ruang publik yang sehat. Padahal, etika dan fungsi-fungsi kepublikan itu justru sedang menjadi masalah besar seperti terjadi dengan anggaran Pemrov DKI. Bila pendidikan dapat diubah menjadi penilapan, itulah contoh martabat menjadi martabak. Bila perintah konstitusi anggaran pendidikan 20% dari APBN bisa disulap antara lain menjadi anggaran pengadaan UPS (uninterruptible power supply), itulah contoh sakitnya berbangsa dan bernegara.
Membeli dan memberi UPS untuk sekolah, ditilik dari substansi pendidikan, samalah membeli dan memberi martabak untuk sekolah. Bukan martabat. Layak dicatat dalam sejarah pendidikan nasional, itulah harga martabak termahal di dunia, yaitu untuk 25 SMA di Jakarta Barat harganya Rp145,76 miliar. Membandingkan martabat dengan martabak bukan kepantasan, melainkan keterlaluan. Akan tetapi, kenyataan kehidupan kepublikan memang terlalu buruk sehingga perlu ditilik dengan komparasi tegas dan lugas.
Sebutlah perihal begal yang sekarang intensif dilibas polisi. Itu begal kelas martabak, kasatmata berkeliaran di ruang publik bernama jalan raya. Harus tuntas dibasmi, tetapi banyak lagi begal-begal bentuk lain yang canggih yang tak tampak mata telanjang, yang sepertinya bermartabat berkeliaran di dalam anggaran negara.
Tak usah ditutup-tutupi bangsa ini sedang menghadapi kemerosotan integritas pemangku fungsi kepublikan bak jatuhnya martabat menjadi martabak. Sekali lagi, jarak martabat dan martabak hanya tinggal empat langkah dari t ke k. Bila terus terjadi pembiaran pembegalan anggaran, terutama sulap dan tilap anggaran pendidikan, percayalah bangsa besar ini berubah menjadi bangsa sebesar martabak.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved