Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Pendidikan Antirealitas

Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group
01/7/2021 05:00
Pendidikan Antirealitas
Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PENDIDIKAN tinggi dicita-citakan untuk menghasilkan intelektual, ilmuwan, dan/atau profesional yang berbudaya dan kreatif, toleran, demokratis, berkarakter tangguh, serta berani membela kebenaran untuk kepentingan bangsa.

Cita-cita yang dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi itu jauh panggang daripada api. Pendidikan di negeri ini sesungguhnya antirealitas.

Disebut antirealitas karena dunia pendidikan tinggi dijadikan menara gading yang dijauhkan dari masyarakat dan, ini yang memprihatinkan, sudah kehilangan nalar kritisnya. Lebih memprihatinkan lagi bila pendidikan tinggi membungkam kritik.

Kehilangan nalar kritisnya itu disorot Agus Nuryatno dalam tulisannya berjudul Kritik Budaya Akademik di Pendidikan Tinggi (2017). Kata dia, kritik mestinya menjadi bagian penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan kelembagaan pendidikan.

Sudah saatnya pendidikan tinggi di negeri ini, meminjam pendapat Paulo Freire, harus berorientasi untuk membebaskan manusia dari kungkungan rasa takut dan tertekan akibat otoritas kekuasaan (penindasan). Pendidikan yang menolak budaya bisu untuk memulihkan kembali kemanusiaan yang telah dirampas.

Ikhtiar berpijak pada realitas untuk menolak budaya bisu itulah yang bisa dimaknai dari unggahan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia pada Sabtu (26/6). Melalui akun Twitter @BEMUI_Official, BEM UI menyebut Presiden Joko Widodo sebagai 'the King of Lip Service'.

Reaksi atas kritik BEM UI berlebihan. Mulai pemanggilan oleh pihak rektorat hingga peretasan akun media sosial sejumlah pegiat BEM UI. Reaksi itu ujung-ujungnya membungkam kritik. Meski demikian, konten dan konteks kritik tetaplah menjadi perhatian.

Segala upaya membungkam kritik harus dilawan. Harus dilawan karena, kata WS Rendra, apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi, hidup akan menjadi sayur tanpa garam. Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan, tidak mengandung perdebatan, dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan.

Berkuasa memang ada tidak enaknya. Siapa pun yang berkuasa di atas muka bumi ini pasti menjadi sasaran kritik. Kritik bisa halus atau kasar, sinis atau sarkastis, tetapi mestinya memiliki nilai yang sama. Kritik ialah madu, bukan racun.

Moral terhadap kritik itu menjadi sangat penting dikemukakan kepada presiden yang dipilih langsung oleh rakyat. Di antara yang memilih itu ada yang halus bahasanya, ada pula yang tanpa tedeng aling-aling langsung sasaran, bahkan cenderung kasar.

Setelah dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia, dia ialah presiden untuk siapa pun, termasuk mahasiswa yang baik halus bahasanya maupun kasar lisannya.

Reaksi Presiden Joko Widodo atas kritik yang dilancarkan BEM UI patut diapresiasi. “Saya kira ini bentuk ekspresi mahasiswa dan ini negara demokrasi, jadi kritik itu boleh-boleh saja dan universitas tidak perlu menghalangi mahasiswa untuk berekspresi. Tapi juga ingat, kita ini memiliki budaya tata krama, memiliki budaya kesopansantunan,” ujar Presiden, Selasa (29/6).

Jokowi sudah kenyang kritik. Kritik yang disampaikan mulai dirinya disebut klemar-klemer, plonga-plongo, otoriter, bebek lumpuh, Bapak Bipang, dan terakhir 'the King of Lip Service' yang disematkan BEM UI.

Keterbukaan seorang presiden menerima kritik sesungguhnya buah reformasi. Bangsa ini telah melalui sebuah era yang sangat pahit. Kebebasan yang terpasung telah melahirkan situasi serbasemu di masa silam. Kini, kita bersahabat dengan kebebasan dan jangan sekali-kali membungkam kritik.

Presiden Jokowi sampai-sampai meminta masyarakat untuk lebih aktif dalam memberi masukan dan kritik kepada pemerintah. Menurut Jokowi, pada 8 Februari, kritik tersebut ialah bagian dari proses untuk mewujudkan pelayanan publik yang lebih baik.

Sejauh ini, jujur dikatakan bahwa Jokowi yang dikritik bertubi-tubi tidak membalas kritik dengan kritik. Apalagi sampai bertanya kepada pengkritiknya apa yang sudah mereka perbuat untuk kepentingan rakyat? Ia membalas kritik dengan terus bekerja terutama di masa pandemi covid-19 ini.

Terus bekerja karena menyadari bahwa demokrasi yang dianut didasari pada keyakinan bahwa kritik ialah vitamin yang menyehatkan dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itulah, jangan pernah memadamkan kritik dengan represi kekuasaan.

BEM UI telah mencatatkan sejarah kritik mereka. Sejarah, kata Philip Guedalla, berulang dengan sendirinya. Mahasiswa yang melancarkan kritik saat ini, ketika nanti berkuasa, juga mendapat kritik. Jangan-jangan mereka yang berada di lingkaran kekuasaan saat ini juga tukang kritik pemerintah ketika menjadi mahasiswa. Karena itu, membungkam kritik hakikatnya antirealitas.



Berita Lainnya
  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.