Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Satu Atap Tiga Agama

Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group
15/6/2021 05:00
Satu Atap Tiga Agama
Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

KETIKA transit di Bandara Changi, Singapura, pada 2003, saya salat di ruangan yang sama dengan umat Sikh sembahyang. Di ruangan tersebut, tempat ibadah agama Islam dan agama Sikh dipisahkan semacam dinding nonpermanen serupa dinding yang memisahkan jemaah laki-laki dan perempuan di masjid di Indonesia.

Di Jerman, pemuka agama Kristen, Islam, dan Yahudi baru saja melakukan peletakan batu pertama pembangunan The House of One di Berlin. Dalam empat tahun mendatang, gereja, masjid, dan sinagoge berdiri dalam satu bangunan. Satu atap berupa kubah besar setinggi 46 meter melingkupi sekaligus ketiga ruang peribadatan ketiga agama Abrahamik itu.

Di Indonesia, Pengadilan Negeri Tuban Mei 2021 memutuskan Kelenteng Kwak Sing Bio sebagai tempat ibadah bersama tiga agama, yakni Konghucu, Buddha, dan Tao. Sebelumnya, seseorang mengklaim rumah ibadah itu sebagai tempat ibadah agama Buddha. Dia mengajukan permohonan tanda daftar tempat ibadah Kelenteng Tuban sebagai rumah ibadah agama Buddha kepada Dirjen Bimas Buddha Kementerian Agama.

Dalam amar putusannya, Majelis Hakim PN menolak eksepsi pengklaim sebagai tergugat untuk seluruhnya. Majelis hakim mengatakan permohonan tanda daftar tempat ibadah Kelenteng Tuban sebagai tempat ibadah agama Buddha ialah perbuatan melawan hukum.

Kita sering kali bertengkar dalam urusan tempat ibadah. Berulang kali berlangsung penolakan pendirian rumah ibadah, terutama rumah ibadah kelompok minoritas. Sedikitnya jumlah pemeluk agama tertentu di suatu wilayah berdampak pada kesulitan membangun rumah ibadah. Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Tahun 2006 menyebutkan pengguna rumah ibadah paling sedikit 90 orang.

Pada 2018, Persekutuan Gereja-Gereja di Kabupaten Jayapura menolak renovasi Masjid Agung Al-Aqsha di Sentani, Papua. Di Papua, kita tahu muslim minoritas.

Pada 2019, sekelompok orang menolak rencana pembangunan pura di Desa Sakaurip, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Mereka yang menolak beralasan jumlah penganut Hindu di desa itu kecil.

Pada 2012, Wali Kota Bogor saat itu Diani Budiarto menyegel Gereja Kristen Indonesia Yasmin yang berdiri di satu perumahan di Kota Bogor, Jawa Barat. Penganut Kristen di Bogor, kita juga tahu, minoritas.

Persengketaan GKI Yasmin dikatakan terselesaikan dengan relokasi GKI Yasmin ke tempat lain di Kota Bogor. Mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat kepada Wali Kota Bogor Bima Arya yang berupaya keras menyelesaikan persengketaan ini, penyelesaian dengan cara relokasi gereja menyisakan sejumlah pertanyaan. Apakah relokasi satu solusi yang sesuai dengan konstitusi yang menjamin kebebasan beragama? Apa dampak relokasi bagi pola penyelesaian intoleransi di Indonesia pada masa mendatang?

Pendirian rumah ibadah suatu agama bergantung pada jumlah pemeluk agama tersebut kiranya didasarkan pada pemikiran jumlah pemeluk suatu agama berkorelasi positif dengan jumlah mereka yang beribadah di tempat ibadah agama tersebut. Bila penganut satu agama di satu wilayah sedikit, rumah ibadah bakal kosong, percuma.

Padahal, besarnya penganut suatu agama tidak menjamin rumah ibadah agama tersebut penuh. Masjid biasanya penuh hanya pada salat Jumat. Pada salat-salat lima waktu, jemaah bisa dihitung dengan jari. Di awal Ramadan, masjid dipenuhi jemaah salat Tarawih. Makin mendekati Idul Fitri saf salat Tarawih makin maju karena jemaah makin sedikit.

Gereja di Indonesia juga sudah tidak menarik lagi, terutama bagi kaum muda. Di Inggris yang mayoritas penduduknya beragama Kristen, per 2017, 110 gereja ditutup dalam 10 tahun terakhir akibat kekurangan jemaat.

Di Berlin, Jerman, gereja-gereja tidak penuh terisi jemaat pada ibadah Minggu. Pemuka agama Kristen di sana berpikiran, daripada membangun gereja baru, lebih baik berbagi gereja untuk tempat ibadah agama lain. The House of One, bangunan yang di dalamnya terdapat gereja, masjid, dan sinagoge sekaligus, dibangun di bekas lokasi salah satu gereja tertua di Jerman.

Berharap fenomena ‘satu atap tiga agama’ serupa di Jerman terjadi di Indonesia kiranya utopis. Berharap ada rumah ibadah lain untuk tiga agama serupa Kelenteng Tuban kiranya juga utopis. Menerima pendirian rumah ibadah agama lain saja cukup bagi kita di Indonesia untuk menunjukkan toleransi beragama kita.



Berita Lainnya
  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.