Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Puan Bisa Tikungi Elektabilitas Ganjar

Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group
31/5/2021 05:00
Puan Bisa Tikungi Elektabilitas Ganjar
Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PENCALONAN presiden dan wakil presiden ialah monopoli partai politik. Tidak ada calon independen. Suka-suka partai menentukan mekanisme pencalonan.

Disebut suka-suka karena undang-undang hanya menyebutkan rekrutmen capres dilakukan parpol secara demokratis dan terbuka sesuai dengan AD dan ART serta peraturan perundang-undangan.

Demokratis dan terbuka itu ditafsirkan berbeda-beda. Ada yang menggunakan mekanisme konvensi dan ada pula yang menyerahkan pencalonan sebagai hak prerogatif ketua umum seperti di PDIP.

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menegaskan ihwal capres dan cawapres pada Pilpres 2024 merupakan hak prerogatif Ketua Umum Megawati Soekarnoputri. "Kongres V partai telah memberikan kewenangan kepada ketua umum partai berupa hak prerogatif untuk menetapkan capres dan cawapres pada Pemilu 2024," ujar Hasto.

Hak prerogatif itu sudah dipegang Megawati sejak Pilpres 2014. Dalam memutuskan, Megawati punya kriteria sendiri seperti ketika memutuskan Joko Widodo sebagai capres 2014.

Saat berorasi pada kampanye 22 Maret 2014, Mega memaparkan alasan memilih Jokowi. "Kenapa saya memilih Jokowi untuk diberikan mandat sebagai calon presiden? Karena Jokowi tidak hanya populer, tapi dia bekerja, tulus, memiliki komitmen, dan kepribadiannya sederhana.”

Populer, bekerja keras, tulus, memiliki komitmen, dan kepribadian sederhana itulah kriteria Megawati. Kriteria itu sepertinya digunakan juga pada Pilpres 2024. Karena itu, berlomba-lomba kader partai meningkatkan elektabilitas.

Persaingan merebut tiket capres di internal partai jauh lebih sengit ketimbang kontestasi sesungguhnya. Mereka bisa saling sikut sampai saling menjatuhkan.

Kesan persaingan itulah yang kini muncul di antara dua kader PDIP: Ketua DPR Puan Maharani dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Kesan itu muncul ketika Puan menggelar acara di Jawa Tengah tanpa mengundang Ganjar. Puan mengatakan pemimpin itu di lapangan bukan di medsos.

Pernyataan Puan ditafsirkan publik ditujukan kepada Ganjar yang akun Twitter-nya @ganjarpranowo telah memiliki 1,9 juta follower dan akun Instagram-nya memiliki 3,4 juta pengikut. Ganjar tentu saja menampik adanya persaingan karena dirinya mengaku hubungannya dengan Puan baik-baik saja.

Bila menimbang-nimbang peluang menjadi capres, Puan tentu saja berada di atas Ganjar. Sebab, Puan berada dalam struktur partai dan penerus trah Soekarno. Akan tetapi, bila melihat tingkat elektabilitas hasil survei, Ganjar bertengger di tiga besar bursa capres, sementara Puan berada di papan bawah.

Berhitung elektabilitas saat ini untuk Pilpres 2024 masih terlalu dini. Apalagi, Ganjar akan melepaskan jabatan gubernur pada 5 September 2023. Sementara itu, Puan yang menjabat Ketua DPR hingga 2024 punya kesempatan untuk bisa menikungi tingkat keterpilihan Ganjar. Kata kuncinya, Puan lebih merakyat lagi.

Peranan Jokowi ditunggu-tunggu. Apakah ia membentangkan karpet merah untuk Ganjar atau Puan. Jokowi disebut mendukung Ganjar bila ia menyiapkan jabatan publik untuknya setelah tidak menjadi gubernur. Sejauh ini, Jokowi terkesan mendukung Puan karena ia mengajaknya bersama-sama berkunjung ke daerah.

Ganjar atau Puan, pada akhirnya Megawati yang menentukan. Bisa saja masih ada nama lain yang dijagokan Megawati sebab biasanya ia punya pertimbangan sendiri. Megawati tentu mempertimbangkan konstelasi kekuatan politik menjelang Pilpres 2024.

Pengalaman 1999 terus membekas di hati Megawati. Ketika itu PDIP keluar sebagai pemenang pemilu. Namun, saat itu PDIP gagal mengantarkan Megawati menjadi presiden di era sebelum pemilihan presiden secara langsung. Pada pilpres melalui MPR, yang terpilih sebagai presiden ialah Abdurrahman Wahid.

Berdasarkan ketentuan Pasal 222 UU 7/2017 tentang Pemilu, pasangan capres dan cawapres diusulkan partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilu yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20% dari jumlah kursi DPR atau memperoleh 25% dari suara sah secara nasional pada pemilu anggota DPR sebelumnya.

Hanya PDIP yang berhak mengajukan capres dan cawapres tanpa berkoalisi pada 2024. Sebab, PDIP mempunyai 128 kursi di DPR atau 22,26%. Partai lainnya mesti berkoalisi. Koalisi tetap menjadi pilihan rasional PDIP.

Sudah saatnya partai politik menyiapkan kader untuk capres. Kata Bung Hatta, partai tak seharusnya tidak bergantung pada agitasi, tapi pada pencarian kader yang kuat. Sebab, agitasi dapat membangkitkan kegembiraan setiap orang, tetapi tidak membentuk pikiran orang.



Berita Lainnya
  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.