Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Indonesia, Palestina, dan Rayuan Israel

Abdul Kohar masyarakat. Dewan Redaksi Media Group
22/5/2021 05:00
Indonesia, Palestina, dan Rayuan Israel
Abdul Kohar masyarakat. Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

DI forum ini saya pernah menulis hubungan antara Indonesia dan Palestina sudah serupa jantung dan paru-paru. Sangat erat dan saling membutuhkan. Paru-paru mengambil oksigen saat kita bernapas. Kemudian jantung memompa darah ke paru-paru lalu mendistribusikan darah berisi oksigen itu ke seluruh tubuh.

Seperti paru-paru dan jantung, Indonesia dan Palestina punya sejarah panjang hubungan saling membutuhkan tersebut. Saat para tokoh dan rakyat Indonesia butuh sokongan untuk menggaungkan kemerdekaan, pemerintah dan rakyat Palestina menjadi salah satu yang utama mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia tersebut. Bahkan setahun sebelum Indonesia merdeka, pada 6 September 1944, mufti besar Palestina Syekh Muhammad Amin Al-Husaini memberikan dukungan secara terbuka bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dalam buku Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri karya M Zein Hassan Lc Lt dituliskan bahwa sejak dukungan yang disampaikan secara terbuka melalui siaran radio oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini tersebut, jalanan di Palestina dipenuhi gelombang aksi solidaritas dan dukungan kepada Indonesia. Seorang saudagar Palestina tak lupa membantu Indonesia secara materi.

Setelah merdeka, saat Indonesia membutuhkan pengakuan internasional sebagai negara berdaulat, lagi-lagi rakyat Palestina bergerak, mendorong Mesir untuk mengakui Indonesia. Pengakuan kedaulatan dari Mesir dan Palestina pun terjadi pada 1947. Maka, tidak mengherankan bila hingga detik ini, Indonesia pun 'membalas' simpati, empati, dan aksi Palestina itu dengan sokongan yang sama.

Presiden Soekarno dalam berbagai forum tak lelah memekikkan dukungan untuk perjuangan kemerdekaan Palestina itu. Bung Karno pun berjanji melalui pidatonya pada 1962, "Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menentang penjajahan Israel."

Seperti paru-paru dan jantung, gangguan dan masalah yang terjadi di Palestina, misalnya, otomatis menjadi masalah Indonesia juga. Di media sosial kita juga menyaksikan bagaimana warga Palestina marah dan menolak imbalan uang dengan syarat mau menerima tantangan membakar bendera merah putih. Saat peringatan kemerdekaan RI pun, banyak rakyat Palestina menyampaikan ucapan dirgahayu untuk Indonesia melalui dunia maya maupun dunia nyata di Palestina.

Karena itu pula, agak mengagetkan ada tokoh Indonesia, purnawirawan jenderal, menyebut bahwa apa yang terjadi antara Palestina dan Israel ialah urusan mereka, bukan urusan Indonesia. Selain ahistoris, pernyataan seperti itu sama seperti hendak mencabut salah satu dari paru-paru atau jantung dari tubuh kita. Saya mencoba berbaik sangka bahwa pernyataan itu semata mengajak kita untuk memprioritaskan kepentingan dalam negeri ketimbang urusan luar negeri yang 'jauh'. Namun, tetap saja pernyataan itu mengganggu.

Untungnya, pemerintah Indonesia konsisten tak pernah mau mengakui negara Israel yang diproklamasikan David Ben-Gurion pada 14 Mei 1948 karena merampas tanah rakyat Palestina. Itulah sebabnya sejak zaman Bung Karno, Indonesia tak pernah membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Prinsip Indonesia, 'penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan petikemanusiaan dan perikeadilan'.

Beragam rayuan Israel pun tak pernah membuat Indonesia beringsut dari sikap menolak penjajahan Israel. Seperti yang baru-baru ini terjadi, saat pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, pada Desember 2020, menjanjikan bantuan pembangunan hingga US$2 miliar (Rp28 triliun) jika Indonesia mau membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Pernyataan tersebut dilontarkan pejabat top pemerintahan Trump, Adam Boehler, kepada Bloomberg yang dipublikasikan pada 22 Desember 2020. Pernyataan Boehler juga dikutip media Israel, The Times of Israel.

Pemerintah menegaskan bahwa Indonesia tetap tidak akan membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Kepastian soal itu telah disampaikan berulang kali oleh Presiden Jokowi. Jauh sebelum itu, rayuan Israel juga pernah disampaikan. Sejarawan dan peneliti Greg Barton dan Colin Rubenstein menceritakan bagaimana Israel merayu pemimpin Indonesia, Soekarno dan Hatta, untuk mengakui kemerdekaan Israel.

Dalam jurnal bertema Indonesia and Israel: A Relationship in Waiting (2005) kedua peneliti tersebut mengisahkan, pada Desember 1949, Presiden Chaim Weizmann dan Perdana Menteri David Ben-Gurion mengirim telegram kepada Soekarno-Hatta berisi ucapan selamat atas penyerahan kedaulatan Indonesia.

Pada Januari 1950, Menteri Luar Negeri Moshe Sharett mengirimkan pesan bahwa negara Yahudi itu telah memberikan pengakuan penuh kemerdekaan Indonesia. Saat menerima pesan tersebut, Soekarno menyerahkan keputusan untuk membalas ucapan itu kepada Hatta. Hatta pun menanggapi pesan Sharett dan Ben-Gurion hanya dengan ucapan terima kasih, tetapi tetap tanpa pengakuan diplomatik.

Menanggapi keengganan Indonesia, Sharett kembali menulis surat kepada Hatta soal rencana pengiriman misi persahabatan ke Indonesia. Lagi-lagi, rencana itu pun direspons Hatta dengan sopan bahwa agenda itu tidak dibutuhkan.

Jantung dan paru-paru itu kini kembali menyatu, memompakan oksigen ke sekujur tubuh dunia, membawa pesan bahwa kemerdekaan ialah hak segala bangsa, termasuk Palestina. Kekerasan, kebrutalan harus diakhiri dengan perdamaian abadi dan tata dunia yang adil bagi Palestina.



Berita Lainnya
  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.