Headline

Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%

Populisme Agama Memicu Covid-19

Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group
04/5/2021 05:00
Populisme Agama Memicu Covid-19
Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

POPULISME apa pun dan di mana pun kiranya gagal menanggulangi pandemi covid-19. Populisme malah memantik pandemi covid-19.

Salah satu ciri populisme ialah tak percaya pada sains. Presiden AS Donald Trump dan Presiden Brasil Bolsonaro, dua pemimpin populis, menganggap covid-19 flu biasa. Trump bisa dikategorikan pemimpin populis sayap kanan, lebih spesifiknya pemimpin populis Kristen Evangelical.

Ketidakpercayaan populisme kepada sains itu memengaruhi kebijakan dalam menangani covid-19. Karena menganggapnya flu biasa, Trump dan Bolsonaro menangani pandemi covid-19 secara biasa-biasa pula. Amerika dan Brasil menjadi dua negara juara dalam jumlah warga negara yang terkena covid-19. Kedua kepala negara itu bahkan terkena covid-19.

Selain antisains, populisme bercirikan rasial. Thierry Baudet, pendiri Forum for Democracy (FFD), partai populis sayap kanan Belanda, menggaungkan dalam pidatonya 20 November 2020, covid-19 rekayasa George Soros. Pernyataan Baudet selain ungkapan ketidakpercayaan pada sains, bersifat rasial, anti-Semit atau anti-Yahudi. George Soros seorang Yahudi. Sikap pemimpin populis seperti ditunjukkan Baudet mengantarkan ke kebijakan yang berfokus pada politik, bukan pada kesehatan.

Malapetaka covid-19 sedang melanda India. Perdana Menteri India Narendra Modi dengan Bharatiya Janata Party (BJP) dikenal sebagai pemimpin yang memainkan populisme Hindu (Hinduism populism). BJP merupakan sayap politik Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS), kelompok sayap kanan radikal partai nasionalis Hindu, yang opresif terhadap non-Hindu.

Bapak bangsa India, yakni Gandhi dan Nehru, menggaungkan identitas nasional inklusif. Namun, Modi dan BJP mencoba mengubah identitas nasional India dari yang bersifat inklusif itu menjadi identitas Hindu eksklusif. BJP mengeksploitasi sentimen keagamaan Hindu dengan menciptakan narasi besar sejarah India bahwa ide negara India ialah negara Hindu. Bersamaan dengan itu, BJP membangun narasi non-Hindu sebagai 'yang lain' (the others).

Bila Modi 'menindas' non-Hindu, sebagai pemimpin populis Hindu dia tentu saja memuliakan umat Hindu. Populisme Hindu sudah barang tentu memuliakan umat Hindu. Itu artinya populisme Hindu mengandung ciri rasial pula. Baru-baru ini Modi memuliakan kaum Hindu India secara politik dan religius.

Dalam hal agama, Modi mengizinkan ritual Kumbh Mela. Dalam ritual itu penganut Hindu beramai-ramai mandi di Sungai Gangga. Sebelumnya, pemimpin BJP memasang iklan di surat kabar yang mengampanyekan umat Hindu 'bersih' dan 'aman' menghadiri ritual tersebut. Ketidakpercayaan kepada sains yang menjadi salah satu ciri populisme muncul melalui iklan tersebut. Faktanya, ritual Kumbh Mela menjadi klaster penularan covid-19.

Dalam hal politik, Modi dan Menteri Dalam Negeri Amit Shah berkampanye untuk memenangkan BJP pada pilkada di lima negara bagian. Amit Shah semestinya berada di ibu kota negara untuk berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan dalam penanggulangan pandemi covid-19. Kampanye itu memunculkan kerumunan ribuan orang dan menjadi klaster penularan covid-19. Bandingkan dengan pilkada di Indonesia pada Desember 2020 yang tidak memunculkan klaster pilkada.

Dua peristiwa itu cukup untuk menyumbang gelombang kedua covid-19 di India. Sistem kesehatan di India ambruk, tak mampu mengendalikan laju pertambahan penderita covid-19. Banyak orang tewas karena tak tertangani oleh sistem kesehatan. Padahal, sejak Oktober 2020 hingga Maret 2021 angka covid-19 di India melandai setelah negara itu melakukan vaksinasi masif. Malapetaka covid-19 di India menjadi pelajaran berharga bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia, untuk tidak melonggarkan berbagai kegiatan meski sudah melakukan vaksinasi.

Di Indonesia di awal berjangkitnya covid-19 berlangsung pula populisme agama, terutama populisme Islam. Sejumlah pemuka agama mengatakan covid-19 bisa diatasi dengan doa. Banyak pemuka agama menolak kebijakan pemerintah untuk beribadah di rumah saja. Ciri populisme yang tidak percaya pada sains muncul di awal pandemi menjangkiti Indonesia.

Beruntung, pemerintah Indonesia terjaga dari tidur populismenya. Pemerintah serius menangani covid-19 dengan berbasiskan sains. Pemerintah melarang berbagai ritual atau tradisi keagamaan. Data menunjukkan sehabis libur perayaan hari besar keagamaan, seperti Idul Fitri 1441 Hijriah (2020), Tahun Baru Islam, serta Natal dan Tahun Baru 2021, angka penderita covid-19 meningkat.

Pemerintah, misalnya, melarang ritual mudik Lebaran 2021. Itu menunjukkan pemerintahan Presiden Jokowi bukan pemerintahan yang memainkan populisme, apalagi populisme agama.



Berita Lainnya
  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.