Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
DI surat kabar tempat saya bekerja pertama kali sebagai wartawan di Jakarta, beredar satu versi cerita tentang satu teman wartawan yang menjadi pengikut Lia Aminuddin. Lia Aminuddin atau Lia Eden ialah perangkai bunga kering yang kelak mengklaim dirinya sebagai nabi dan titisan Bunda Maria penerima wahyu dari Jibril. Lia Eden meninggal dunia pada 9 April 2021.
Ceritanya, suatu hari sang teman memindahkan buku-bukunya dari mejanya di lantai bawah ke lantai paling atas. Kawan-kawan lain bertanya mengapa dia melakukan itu. Dia menjawab Lia Aminuddin mengabarkan Jakarta bakal dilanda banjir besar. Ketika harinya tiba, banjir tidak terjadi, hujan pun tidak. Ketika kawan-kawan mempertanyakannya, dia menjawab enteng itu karena Lia Eden dan para pengikutnya termasuk dirinya berdoa supaya banjir tidak terjadi.
Jika itu benar, Lia Aminuddin telah menyelamatkan manusia dari bencana banjir. Sekurang-kurangnya menurut para pengikutnya, pantaslah Lia Eden menyebut dirinya nabi, penerima wahyu dari Jibril. Bukankah para nabi ialah penyelamat? Musa menyelamatkan umatnya dari terjangan Laut Merah. Yesus juru selamat. Muhammad pembawa syafaat.
Akan tetapi, umat para nabi agama-agama arus utama tak sudi nabi mereka disamakan, disaingi, oleh manusia biasa seperti Lia Aminuddin. Karena itu, Lia Eden pun dua kali dihukum penjara atas tuduhan penistaan agama.
Padahal, belum tentu para nabi merasa disaingi nabi lainnya. Para nabi memang tidak bersaing. Muhammad mengatakan dia tidak membawa ajaran baru, tetapi meneruskan ajaran nabi-nabi sebelumnya. Dalam kisah Isra Mikraj, Musa menyuruh Muhammad kembali kepada Tuhan untuk meminta keringanan ibadah salat dari 50 waktu menjadi 5 waktu per hari. Kiranya ada etika kenabian bahwa sesama nabi dilarang saling menyaingi.
Bukan para nabi yang saling bersaing, melainkan pengikut mereka. Persaingan antarumat beragama sering kali memicu konflik. Perang Salib merupakan puncak kompetisi antara muslim pengikut Muhammad dan kristiani pengikut Yesus. Begitu pun konflik Islam-Kristen di Maluku.
Lia Eden tidak berniat menyaingi agama-agama arus utama. Dia ingin melanjutkan ajaran Yudaisme, Kristianitas, dan Islam serta menyatukan agama-agama besar lain seperti Buddhisme, Hindu, dan Jainisme. Bahasa kerennya, Lia membawa ajaran sinkretisme.
Terlahir sebagai muslim, Lia Eden meninggal dunia dan jenazahnya dikremasi serupa penganut Hindu. Mungkin dia berempati betul betapa sulit saat ini mencari lahan permakaman di Jakarta menyusul banyaknya orang meninggal dunia karena covid-19. Abu jenazahnya tidak memerlukan tempat luas untuk menyimpannya.
Di Indonesia bukan cuma Lia Eden dengan komunitas Salamullah-nya yang mengaku sebagai nabi. Ada Ahmad Musadeq dengan Gerakan Fajar Nusantara-nya. Ada pula Sensen Komara yang mengaku mendapat wahyu dalam mimpinya. Beberapa sosok lain juga mengaku sebagai nabi. Mereka biasanya, selain divonis menista agama, dianggap gila. Musadeq bahkan dituduh makar.
Mereka dituduh menista agama karena ajaran mereka sesat, berbeda dengan ajaran agama arus utama. Kalau ajaran mereka sesat, semestinya biarkan saja, toh ia tidak bakal laku di pasar agama-agama.
Oleh karena itu, janganlah merasa terancam kalau ada yang mengaku nabi. Terancamlah kalau ada yang tiba-tiba mengaku anak kandung atau istri Anda. Seorang motivator habis kariernya setelah ada yang mengaku anak kandungnya. Seorang guru besar terancam kariernya gara-gara seseorang mengaku sebagai istrinya.
Lia Eden tidak mengancam siapa-siapa. Akan tetapi, kadang pengikut mereka banyak dan bukan orang sembarangan. Pengikut Lia Eden ada penyair hebat, aktivis, wartawan, intelektual. Jangan-jangan agama-agama besar khawatir pasar mereka direbut agama-agama baru itu?
Mirza Gulam Ahmad bisa disebut nabi pembawa ajaran Ahmadiyah. Atas nama kebebasan beragama, kita di Indonesia membela pengikut Ahmadiyah, juga Syiah, yang sering kali mendapat perlakuan diskriminatif dari Islam arus utama dan pemerintah. Pun atas nama kebebasan beragama kita membela agama-agama asli Nusantara.
Kita semestinya memperlakukan Lia Aminuddin sebagai sosok yang teguh memperjuangkan keyakinan mereka. Oleh karena itu, kita semestinya membelanya atas nama kebebasan beragama dan berkeyakinan. Negara menjamin kebebasan warga negara beragama dan berkeyakinan. Negara juga menjamin kebebasan warga negara menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran agama dan keyakinan mereka.
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)
JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved