Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
"WALAUPUN dituturkan sampai letih, ditunjukkan jalannya, sesungguhnya ia tidak memahaminya karena ia hanya sibuk menghitung dosa besar dan kecil yang diketahuinya. Tentang hal kufur kafir yang ditolaknya itu, bukti bahwa ia adalah orang yang masih mentah pengetahuannya. Walaupun tidak pernah lupa sembahyang, puasanya dapat dibangga-banggakan tanpa sela, tapi ia terjebak menaati yang sudah ditentukan Tuhan." (Suluk Malang Sumirang)
***
MALANG Sumirang 'hidup kembali'. Ia bergema di Congress Center Messe Frankfurt, Jerman.
Tokoh 'subversif' era Kerajaan Demak di abad ke-15 yang terdengar 'samar' bagi umumnya orang Indonesia itu jadi 'bintang' pada pembukaan Frankfurt Book Fair 2015 (13/10).
Indonesia yang menjadi tamu kehormatan pada pameran buku terbesar dan tertua di dunia itu tak hanya memamerkan buku, tapi juga teater, film, arsitektur, musik, seni rupa, fotografi, dan kuliner.
Cerita Malang Sumirang, salah satu karya sastra Jawa klasik terbaik, hadir di situ, di tengah sekitar 2.500 hadirin. Pesinden Endah Laras memukau menembangkan Sumirang.
Goenawan Mohamad, penyair yang juga menjadi Ketua Komite Nasional Pelaksana bagi Indonesia sebagai tamu kehormatan, menjelaskan siapa tokoh yang tak runduk pada ulama dan umara istana Demak itu.
Suluk Malang Sumirang ditulis Sunan Panggung--nama Malang Sumirang setelah dewasa. Ini kitab yang berisi kritik terhadap kekuasaan Demak.
Malang Sumirang, sang sufi itu, tahu, seperti juga sang guru dahulu, Syekh Siti Jenar, ia menjadi 'target' kerajaan. Sumirang justru ingin segera dihukum dengan kian memperberat kesalahan, mengajak anjingnya, masuk ke masjid.
Pasal dakwaaannya: melanggar hukum dan penodaan terhadap agama. Ia dihukum mati, seperti sufi terdahulu Al Hallaj dari Baghdad dan Siti Jenar dari Demak.
Malang Sumirang dihukum bakar. Di depan para ulama dan pembesar istana, ia tak ciut menghadapi api yang berkobar di tengah alun-alun. Seperti Ibrahim, juga Dewi Shinta, Malang Sumirang imun api. Ia 'wisang geni'.
Dalam unggun kayu yang berkobar, ia minta pena, tinta, dan beberapa lembar kertas. Anjingnya yang mengantarkan benda-benda itu. Ia menulis dengan nyaman dalam panas. Api padam. Sang terhukum tak tewas. Ia turun dan menyerahkan sajak ciptannya pada baginda raja. Lalu ia pergi meninggalkan alun-alun, menembus hutan.
Sajak yang membuat pembesar agama dan istana Demak takjub akan kedalaman maknanya. Namun, seseorang yang diperintah membaca sajak itu tak kuasa.
"Tak berdayanya kekuasaan itu juga yang menyebabkan apa yang ditulis Malang Sumirang--mungkin puisi--terlepas dari cengkeraman makna yang dipaksakan. Boleh dikatakan kisah ini alegori tentang makna yang tidak bisa dikuasai, seperti tokoh cerita ini yang menghilang ke hutan. Ibarat terlindung dalam belantara, makna tak mudah dijinakkan untuk dimufakati dan dimufakati untuk dijinakkan. Makna tak mudah diringkus," kata Goenawan.
Ia berharap, kita semua mengingat kembali Malang Sumirang, yakni kita menulis untuk menegaskan kesetaraan manusia.
"Kita menulis untuk menghidupkan percakapannya dan dengan demikian, kita menulis juga untuk menumbuhkan kemerdekaannya," kata sang penyair dan pemikir kebudayaan itu mengakhiri.
Kita membaca Malang Sumirang karena menyadari 'kebenaran' bukan suatu yang dimonopoli dan berhenti, melainkan harus dibagi dan terus kita cari.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved