Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Pelajaran Beras

MI/Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
06/3/2015 00:00
Pelajaran Beras
(Grafis Seno)
REKTOR Universitas Halu Uleo, Sulawesi Tenggara, Usman Rianse, pernah bercerita, satu-satunya motivasi ia menjadi pegawai negeri ketika muda ialah ingin makan nasi. Di kampungnya, di salah satu desa di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, makan nasi punya gengsi amat tinggi ketimbang jagung, makanan pokok penduduk di daerahnya.

Yang bisa mengonsumsi nasi waktu itu para amtenar, pegawai negeri. Mereka memang mendapat jatah dari pemerintah. Cerita Usman ialah contoh betapa berhasilnya kebijakan 'berasisasi' Orde Baru.

Dengan kebijakan itu, makanan lokal yang mengandung karbohidrat seperti sagu, jagung, ganyong, dan ubi kayu, yang dikonsumsi sebagai makanan pokok di banyak daerah, tersisihkan. Ia kalah gengsi.  Nasi punya posisi baru: simbol ekonomi dan sosial. Yang masih mengonsumsi makanan lokal dianggap belum ‘naik kelas’.

Cerita itu memang bukti keberhasilan kebijakan 'berasisasi'. Berhasil mengganti makanan pokok nonberas menjadi beras. Namun, tergagap-gagap untuk keberlanjutannya. Memang, pada 1985 Indonesia mendapat penghargaan dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia karena berhasil swasembada beras.

Namun, prestasi itu hanya sekali. Ramalan banyak pihak bahwa beras akan menyendera bangsa ini mulai menjadi kenyataan. Karena lahan pertanian berkurang, proyek Sawah Sejuta Hektare gagal total, pembangunan irigasi terlambat dilakukan, riset-riset pertanian sayup-sayup terdengar, padahal pertumbuhan penduduk terus meninggi.

Celakanya, menurut sebuah penelitian, ‘gen lapar’ orang Indonesia sangat tinggi. Wajarlah konsumsi beras kita kini tertinggi di dunia, rata-rata 139 kg per kapita per tahun. Masih terekam dengan baik ketika krisis moneter terjadi (1997/1998) dan harga bahan pokok terbang melayang. Masyarakat panik. Pusat-pusat perbelanjaan diserbu. Antre pangan terjadi di mana-mana. Negara kacau.

Ketika itu di sebuah edisi Minggu, Media Indonesia menurunkan laporan utama dengan judul, 'Mana Beras Kami?' dengan foto besar antrean masyarakat membeli beras. Judul yang ‘menggugat’ hak rakyat yang menghilang. Suasananya mirip senjakala Orde Lama, ketika antre minyak dan beras menjadi pemandangan di banyak tempat.

Sejarah terulang! Orde Baru jatuh, juga bermula dari beras! Beras ialah pelajaran berpuluh-puluh tahun dari rezim ke rezim.

 Tak ada tanaman di negeri ini yang dimuliakan seperti padi. Secara tradisi, terutama di Pulau Jawa dan Bali, ia proses produksi penuh 'ritual'. Ia dipersonifi kasikan sebagai Dewi Sri, simbol pertumbuhan dan kemakmuran. Negara juga menahbiskannya begitu.

Sayangnya 'sang Dewi' tak dirawat secara benar. Pemerintah punya segalanya, terserah bagaimana cara mengatasinya. Apakah tetap bergantung pada jutaan petani kecil dengan lahan terbatas atau berbasis korporasi? Atau menggabungkan keduanya?

Terserah bagaimana cara mengendalikan distribusi beras dan harganya. Terserah pula bagaimana menghabisi para mafia seperti disampaikan Presiden Jokowi. Faktanya dari dulu, mafia baik-baik saja, kan? Terserah bagaimana kampanye mengurangi konsumsi beras. Apakah dengan kebijakan sehari tanpa beras atau dua hari, silakan.

Terserah bagaimana mengampanyekan diversifikasi pangan di bumi yang kaya karbohidrat ini. Terserah orang-orang pandai di pemerintahan ini bekerja. Kita hanya ingin urusan beras jangan jadi kehebohan terus-menerus. Malu karena ini 'pelajaran' sudah amat lama. Masak urusan kita di zaman ini masih sebatas perut?


Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.