Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Investasi Mangkrak

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
18/11/2020 05:00
Investasi Mangkrak
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(Dok.MI/Ebet)

SAYA tidak bisa menyembunyikan diri untuk terus memuji pejabat yang satu ini: Bahlil Lahadalia. Orangnya lincah, blak-blakan, berani menghadapi perdebatan karena berprinsip ‘lawan berdebat ialah kawan berpikir’, serta tidak jaim atau sok bossy. Gayanya juga amat sederhana, tidak mboys alias tidak perlente.

Namun, sejak dilantik menjadi Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), terobosan demi terobosan yang menjanjikan terus dibuat putra kelahiran Papua ini. Berita terbaru yang layak mendapat pujian itu ialah keberhasilan Bahlil dan jajaran BKPM mengeksekusi Rp474,9 triliun investasi yang mangkrak bertahun-tahun. Jumlah tersebut setara dengan 67,1% dari total Rp708,2 triliun investasi mangkrak yang tidak bisa terealisasi dalam empat tahun terakhir.

“Satu tahun kami masuk ke BKPM, kami mulai selesaikan satu per satu dari persoalan yang ada. Alhamdulillah, dari Rp708 triliun tersebut, sebanyak Rp474,9 triliun mampu tereksekusi,” kata Bahlil dalam dialog virtual West Java Investment Summit oleh Australia-Indonesia Business Council (AIBC) di Jakarta, Senin (16/11).

Sebuah kerja keras yang amat patut diapresiasi. Apalagi, itu dilakukan dalam waktu singkat, hanya setahun sejak dia dipercaya sebagai Kepala BKPM. Sejak diangkat memimpin BKPM pada November 2019, mantan Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia itu menemukan ada Rp708,2 triliun investasi yang tidak kunjung terealisasi meski sudah resmi masuk ke Tanah Air.

Ratusan triliun rupiah investasi itu tidak kunjung terealisasi karena tiga masalah utama, yakni egosektoral kementerian/lembaga; adanya tumpang-tindih aturan antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota; dan masalah tanah yang mahal. Ketiga masalah itu menyebabkan lamanya proses perizinan bagi para investor yang akan merealisasikan investasi mereka di Indonesia.

Padahal, para investor hanya butuh empat hal untuk menggerojokkan modal mereka ke suatu negara. Mereka memerlukan kemudahan, transparansi, efi siensi, dan kecepatan. Jika modal sudah masuk, mereka hanya ingin empat K: kemudahan, kepastian, kenyamanan, keuntungan. Sayangnya, pada hal-hal yang sederhana itulah pemerintah tak jua memberikan garansi kepada para investor. Alhasil, investasi mangkrak pun terjadi.

Kalau sudah begitu, dampaknya pun ke mana-mana. Investor anyar malas membenamkan modal, investasi merosot drastis, lapangan pekerjaan kian sempit, ekonomi pun lesu. Apalagi, dalam situasi pandemi covid-19 yang belum ketahuan kapan akan berakhir.

Dalam ‘kamus’ ekonomi dijelaskan lokomotif penciptaan tenaga kerja didorong tiga aspek, yakni konsumsi rumah tangga, investasi, dan performa ekspor. Saat ini peningkatan konsumsi rumah tangga dan performa ekspor masih sulit digenjot lantaran daya beli masyarakat yang rendah. Neraca perdagangan surplus bukan karena ekspor naik, melainkan impornya yang jauh berkurang.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia dari Januari hingga Oktober 2020 mencapai US$131,54 miliar atau turun 5,58% jika dibandingkan dengan periode yang sama 2019. Sementara itu, nilai impor seluruh golongan penggunaan barang selama Januari-Oktober 2020 turun lebih dalam jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan terjadi pada golongan barang konsumsi (11,39%), bahan baku/penolong (19,75%), dan barang modal (20,29%).

Karena itu, ‘dewa penolong’ untuk pekerja ialah menggenjot investasi. Kalau lapangan pekerjaan tidak didorong lewat sektor investasi, tidak akan mungkin 17 juta pencari kerja yang ada bisa diwadahi jadi PNS atau pegawai BUMN semua.

Karena itu pula, penyelesaian investasi mangkrak bisa membantu mencegah penurunan lebih dalam dari realisasi penanaman modal asing ke Indonesia. Saat pandemi ini, foreign direct investment hanya turun 10%. Angka itu lebih rendah jika dibandingkan dengan survei Bank Dunia yang memprediksi FDI sebagian besar negara turun 30%-40%. Mengapa bisa begitu? Ya, karena 67% investasi mangkrak bisa diselesaikan.

Proyek investasi mangkrak yang dapat difasilitasi tersebut, di antaranya, YTL Power untuk Tanjung Jati Power dengan nilai investasi Rp38 triliun, Hyundai Rp21,7 triliun, dan PLTS Terapung di Sungai Cirata senilai Rp1,8 triliun. Penyelesaian atas investasi mangkrak tersebut bakal makin cepat dibereskan setelah ada Undang-Undang (UU) Cipta Kerja. Beleid itu memenuhi empat hal keinginan investor tadi, yakni kecepatan, transparansi, efisiensi, dan kemudahan saat investasi.

Saya sepakat dengan Bahlil, kalau empat hal itu mampu dilakukan secara baik oleh pemerintah pusat dan daerah, Indonesia akan menuju babak baru. Babak itu ialah memenangi kompetisi investasi khususnya di Asia Tenggara, umumnya di level global. Dengan penerapan UU tersebut secara konsisten, tidak ada lagi kisah investor yang jeri merapat karena terus dipingpong saat memulai investasi.



Berita Lainnya
  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.