Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Ironi Riset Kita!

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
13/10/2015 00:00
Ironi Riset Kita!
(ANTARA/YUDHI MAHATMA)
HARI itu, di ruang kerjanya yang kecil dan sepi, Takaaki Kajita tengah sendirian.

Di situlah, di Institut for Cosmic Ray Research, University of Tokyo, Jepang, profesor berusia 56 tahun itu menerima kabar gembira dari panitia Hadiah Nobel di Stockholm, Swedia.

Ia bersama Arthur B Mcdonald, 72, dari Kanada, ditahbiskan sebagai penerima Hadiah Nobel Fisika 2015.

Mcdonald menerima kabar bungah di subuh hari dan seketika itu memeluk sang istri.

Kajita dan Mcdonald sukses membuka tabir pengetahuan dasar di bidang ilmu fisika partikel, yang amat penting untuk memahami alam semesta.

Temuan mereka mengenai isolasi neutrino (partikel dasar), partikel terbanyak kedua di alam semesta setelah foton, memiliki massa dan berubah identitas.

Postulat neutrino pertama kali kemukakan Wolfgang Pauli (1930).

Di bidang kedokteran atau fisiologi telah pula diumumkan penerima Hadiah Nobel.

Mereka ialah profesor emeritus Satoshi Omura, 80; Youyou Tu, 85, dari Tiongkok; dan William C Campbell, 85, dari Amerika Serikat.

Tiga ilmuwan itu berhasil mengatasi sejumlah penyakit yang diakibatkan parasit.

Mereka dinilai mampu menyelamatkan ratusan juta jiwa: mencegah kecacatan dan mengurangi jumlah kasus infeksi.

Untuk Hadiah Nobel Bidang Kimia, penghargaan diberikan kepada mereka yang berjasa dalam perbaikan DNA manusia untuk pengobatan kanker.

Mereka ialah Aziz Sancar, 69, dari University of North Carolina; Tomas Lindahl, 77, dari Sir Francis Crick Institute and Clare Hall Laboratory, Inggris; dan Paul L Modrich, 69, dari Duke University.

Aziz Sancar warga negara Turki, Lindahl dari Swedia, dan Modrich warga Amerika.

Kita gembira karena ada tiga ilmuwan Asia mendapat penghargaan prestisius dunia, dua dari Jepang, satu dari Tiongkok.

Akan tetapi, pada saat bersamaan, ketika Hadiah Nobel itu diumumkan, para ilmuwan Indonesia justru tengah menjerit karena buruknya negara memberi perhatian pada penelitian.

Terungkap dalam Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (Kipnas) XI di Jakarta, pekan silam, dunia ilmu pengetahuan dan teknologi hanya kerap diucapkan, tapi miskin komitmen (negara).

Indonesia belum menjadikan penelitian dan teknologi bagian penting atau fondasi dalam membangun bangsa.

Kemauan politik negara masih terasa sebatas bibir dari rezim ke rezim.

Presiden Joko Widodo, tahun lalu, berjanji menaikkan anggaran riset dua kali lipat.

Faktanya bujet riset tetap 'setia' di posisi 0,08% dari produk domestik bruto.

Padahal, anggaran riset yang memadai menurut UNESCO sedikitnya 2% dari PDB.

Seperti yang sudah-sudah, dalam acara empat tahunan itu juga ada rumusan dan rekomendasi, yang umumnya akan menjadi 'benda mati di laci'.

Bayangkan, di tengah dunia yang bergerak cepat dan persaingan dunia berlangsung setiap saat, para ilmuwan kita masih harus menghiba-hiba meminta komitmen (negara) dalam memajukan ilmu pengetahuan.

Di dunia mana pun yang berorientasi memajukan bangsa, pemerintahnya selalu memberikan insentif, investasi, dan perlindungan terhadap riset.

Tak ada artinya bicara kemandirian bangsa tanpa memberi dukungan serius pada dunia riset dan ilmu pengetahuan.

Nawa Cita, Trisakti, daya saing bangsa, yang diusung Jokowi, hanya akan jadi gelembung-gelembung sabun.

Kita tahu 'tongkat Musa' dan 'Raja Midas' tak ada di sini; 'lampu Aladin' hanya dalam dongeng.

Kita tak bisa menanti keajaiban-keajaiban serupa itu hanya dalam mimpi dan simsalabim.


Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.