Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Melawan Durjana

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
09/10/2015 00:00
Melawan Durjana
(ANTARA/ARI BOWO SUCIPTO)
SEORANG petani bersahaja, bernyali luar biasa, disudahi riwayatnya. Puluhan orang, pelaku banditisme, di Desa Selok Awar-Awar, Lumajang, Jawa Timur, membunuhnya dengan keji.

Ada dendam dan geram menyatu pada mereka untuk menculik lelaki mungil penentang galian tambang pasir besi ilegal itu.

Salim Kancil, lelaki itu, pada hari itu, 26 September, menemui ajal.

Tosan, rekan Salim, juga diculik dan disiksa dengan amat keji. Ia masih hidup dengan tubuh ringsek.

Tarikan sang istri membatalkan tubuh sang suami dari atas motor yang siap membawanya pergi--sangat mungkin ke tempat eksekusi!

Tak ada diskusi di 'selasar' mencari pokok-pokok yang 'benar'.

Yang ada tindakan bar-bar!

Yang mencengangkan, penyiksaan Salim dilakukan di balai desa, Tosan di tanah lapang.

Apa maknanya tindakan pidana dilakukan beramai-ramai dan terbuka pula?

Kemungkinan pertama, negara kalah wibawa.

Kedua, negara tengah ditantang.

Kemungkinan ketiga, negara terlibat di dalamnya.

Silakan dicerna fakta ini.

Kepala Desa Selok Awar-Awar, Hariyono, yang dianggap aktor pembunuhan, sebelumnya kerap sesumbar ia imun hukum.

Ia kian angkuh karena beberapa hari sebelumnya, ancaman pembunuhan telah ditebarkan dan para petani antigalian pasir ilegal telah melaporkan ke polisi.

Tak ada proteksi dari polisi. Salim dan Tosan seolah rakyat sebuah negara dengan hukum rimba.

Jika kita menarik ke belakang, kekejaman serupa cerita bersambung.

Ia tak putus karena zaman berganti, ketika 'kebenaran' telah jadi milik bersama.

Ada yang tetap memilih jalan pelenyapan untuk mereka yang dianggap berseberangan.

Padahal, kita belum usai berbincang kekejaman pada aktivis buruh bernama Marsinah (1993) di Sidoardjo, pada wartawan Fuad Mohammad Syafruddin (1996) di Yogya, Wiji Thukul (1998) yang mungkin dibunuh dengan keji, pada Munir (2004) yang diracun dalam penerbangan Jakarta-Belanda.

Kasus Lumajang, selain diduga melibatkan kepala desa dan beberapa polisi, bahkan ada dugaan keterlibatan pejabat daerah.

Laporan bahaya penambangan pasir telah pula dilakukan di beberapa desa sepanjang pesisir Lumajang, tetapi kuasa uang membuat proses hukum jadi bungkam.

Di luar Lumajang, pelanggaran hukum dengan merusak lingkungan teramat banyak.

Salim bersama penduduk desa juga telah mengolah daerah tandus karena asin air laut jadi bermanfaat untuk berkebun. Alih-alih mendapat penghargaan.

Sawah milik Salim justru diserobot untuk tambang pasir ilegal.

Praktik bisnis dengan kekuasaan, yang konon beromzet miliaran dengan ratusan truk yang setiap hari menderu-deru menerbangkan debu-debu dan menghancurkan lingkungan.

Keberanian Salim mungkin jadi inspirasi, juga mungkin rasa ngeri.

Terlalu berat untuk orang ramai membela 'yang benar' harus dibayar dengan siksaan dan kematian.

Jika negara konsisten, menghargai rakyat yang patuh pada hukum, menjaga lingkungan, tak takut ancaman, Salim dan Tosan serta masyarakat yang aktif memperjuangkan lingkungan mestinya diberi apresiasi.

Setelah proses hukum kekerasan di Lumajang selesai, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mesti punya keberanian untuk memberi penghargaan kepada Salim dan kawan-kawan.

Orang-orang desa yang bersahaja, tetapi justru punya nyali luar biasa membela negara.

Ini penting sebagai pesan bahwa negara marah pada cara-cara durjana.

Salim Kancil dan kawan-kawan nyata berada di depan melawan mereka.


Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.